Selasa, 03 Januari 2012

Aceh and Papua Like Fire In Husk

Papuan (foto SBP)
BANDA ACEH, Vice Chairman of Commission III of the House who are also legislators from electoral district of Aceh I, Nasir Djamil, pointed out a number of mysterious shootings in Aceh in recent years made the situation in Aceh as a fire in the husk. "The heat does not get caught, but knew it emerged the incident. The situation in Aceh so far is normal, but still have to watch out for, "said Nasir described the atmosphere in his native region, in the Hall of Education offices in Aceh, on Tuesday (3 / 1).
This published:http://www.jpnn.com/read/aceh-papua/
PKS politician asked police to immediately arrest perpetrators of a number of shooting incidents in Aceh rife lately. "Hopefully, soon caught the culprit, so that people know what really happened," said Nasir

He asked the police chief not to simplify the problem in Aceh. He hopes to distinguish the handling of problems Police Papua, Aceh and in other areas that are relatively more 'safe'.

"Every event should be interpreted with safe areas or who have never experienced an armed conflict. So, if there are events in Papua, Aceh, or Ambon, penyikapannya certainly be different, "said Nasir.

On that occasion stressed Nasir Djamil events indiscriminate barrage of shelling and casualties in Aceh police performance proves weak. "We were proud of the Police can arrest terrorists less than 24 hours. But why this kind of thing the police look 'letoi "helpless" said Nasir Djamil.

He continued, his party in charge of commission III of legal issues and legislation - law, human rights and security, has been delivered from the outset that police were unable to find and catch who did the shooting, it will continue to spread and it's proven now.

According to him, if only at the time, police in Aceh could find who did the shooting that killed Saiful aka Cage, a former commander of GAM territory Iliek Bate, of all events can now be anticipated and the network - the existing network can be detected. But because, police can not reveal, capture and find out the motive of events, then finally getting a mysterious shooting incident spread. "I predict, if the police do not move quickly it will spread to the area - other areas in Aceh, not only on the North Coast, West Coast could also be to the South" he said.

The impact of a series of shooting incidents in Aceh, said the politicians of this PKS, making people was - was, even he learned that other tribes that exist in Aceh and worked in a number of both private and public estates troubled by recent events.

Meanwhile, Chairman of the KNPI East Aceh, Iskandar Al-Farlaky Usman, SHI, appealed to all parties not to give statements related shootings in Aceh. Statement is not even expected to bring Aceh into the vortex and mengiring new conflicts.
"Let there be no parties who try to lead Aceh into a new conflict in the vortex region," he said. (Slm / ris)

Venetina Kogoya: Hentikan Penambahan Pasukan ke Paniai

Anggota MRP Penetina Kogoya (foto Jubi)
JUBI --- Adanya laporan dari masyarakat jika hingga saat ini penambahan pasukan keamanan masih terus dilakukan ke Paniai mendapat rsepon dari Majelis Rakyat Papua (MRP). Wakil Ketua I MRP Pokja Agama, Venetina Kogoya mengatakan, Informasih terakhir yang  diterima pihaknya menyebutkan bahwa ada penambahan pasukan lagi ke Panian dan masyarakat terus mengungsi.

“Dari informasi yang disampaikan masyarakat kepada kami, katanya ada dua kampung yang sudah mengungsi. Tapi kami masih tetap
menyelidiki kebenaran informasih itu. Namun jika itu benar, maka saya tekankan jangan lagi ada penambahan pasukan kedaerah tersebut. Itu harus dihentikan, sehingga masyarakat bisa betah dan nyaman bukan seperti sekarang ini. Sebaiknya mari duduk bersama Gubernur, MRP, dan DPRP untuk mencari solusi terbaik,” kata Venetina Kogoya, Selasa (3/1).

Menurutnya, jika memang ada penambahan pasukan, harusnya ada koordinasi terlebih dahulu dengan wakil rakyat yang ada di Provinsi Papua seperti, Gubernur, DPRP dan MPR. “Disini kan ada Gubernur, ada DPRP dan juga kami MRP dan bisa dikoordinasikan terlebih dahulu. Namun tanpa adanya kesepakatan ada satu kesatuan yang dikirim kesana sehingga masyarakat merasa dalam posisi terancam,” ujarnya.

Dikatakannya, harusnya semua pihak duduk bersama membicarakan dan mencari solusi apa yang akan diambil. Dan sebagai Wakil Ketua I MRP Pokja Agama Venetina Kogoya menyesalkan hal itu.”Saya sangat menyesal jika ada tindakan kekerasan yang dilakukan kepada masyarakat yang ada di, Nabire, Puncak Jaya, Timika dan daerah Papua lainnya. Kita bisa duduk bersama dan mencari solusi terbaik untuk masalah yang sedang terjadi. Jadi hentikan penambahan pasukan dan tarik pasukan yang ada di lapangan,” tandas Venetina Kogoya. (Jubi/Arjuna)

Papua: Coconut Trees That Bear Jerry Cans - Video Documentary On Malind Tribe And Alcohol Made From Coconuts

The Malind tribe in Merauke is proud of its ecological traditions - each clan in the tribe is responsible for protecting a natural element. The Moiwend clan is responsible for the coconut trees and fruit. However, in recent times Malind youth have started using coconuts to make alcohol. The home-made drinks – which are much cheaper to buy than beer and spirits - have added to the town's problems. Now, some Malind elders are calling for the reinstatement of customary laws that would punish those who make use of coconuts in this way in order to save their tradition and their community.
This published: http://indigenouspeoplesissues.com/
Many of us know that West Papua is fighting for independence – but what else goes on there? How often do we hear directly from the Papuans themselves about life in Indonesia’s most secretive province?


EngageMedia’s Papuan Voices project is a combination of empowerment and production. We collaborate with Catholic Church groups in Jayapura and Merauke to teach Papuan activists new video production and distribution skills so that they have the means to tell their own stories to the world.

Importantly, the stories we tell are not only framed around West Papua’s political struggle for independence. Why is this important? Because when a Papuan man punches an Indonesian soldier because the soldier has assaulted his sister, more often than not that man will be branded a “separatist” by the press and Indonesian authorities. The soldier will walk free while the Papuan will be charged with serious offences against the state.
These kinds of injustices occur daily in Papua and a lack of understanding about the issues affecting Indonesia’s poorest citizens works to entrench the problem.

The Papuan Voices project overcomes political, geographical and financial barriers - as well as lack of technology - to bring important Papuan stories to the world. In doing so, it shines light on the injustices that regularly occur behind the closed doors of this resource-rich and restive province.

 Project partners: Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC), MSC (Jakarta) and the Secretariat for Justice and Peace (SKP KC Jayapura).

Safiudin (Peneliti STAIN Al-Fatah): Perkeruh Situasi Kerukunan Agama di Papua

Welesi wamena papua
Jayapura, (Suara baptis papua), Menurut  Safiudin dan para peneliti STAIN Al-Fatah yang di publikasikan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, (10/10/2011) lalu, bahwa Papua adalah milik tanah islam adalah peneliti sepihak dan tanpa dasar.
Lanjutnya, kata Safiudin, karena saat ini mereka dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa kuantitas penduduk pendatang muslim semakin lama makin bertambah.

Ade Yamin, yang juga peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, dalam makalahnya berjudul "Dani Muslim di Tengah Benturan Peradaban", membantah anggapan itu. Menurutnya orang yang pertama membawa Islam ke Papua adalah Syekh Abdurrauf yang  merupakan putra ke-27 dari Waliyullah Syekh Abdul Qadir Jaelani dari kerajaan Samudra Pasai, yang telah mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua) sekitar abad XIII, tepatnya 17 Juli 1224.

Juga klaim bahwa, masuknya zending Kristen C.W. Ottow dan G.J. Geissler juga atas jasa umat Islam. "Kedua orang itu yang mengantarkan ke Papua umat Islam. Ini juga harus diketahui", kata Ketua AFKN Ustadz Fadzlan Garamatan yang di lansir Berita Suara-islam.com

Masuknya  Kristen Protestan pertama kali di daerah Manokwari yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana terjadi pada tahun 1855.

Papua mempunyai sejarah peradaban yang panjang dari sebelum agama masuk ke papua. sehingga ide islamisasi dan penyebaran agama tertentu terhadap kaum agama minoritas adalah melanggar hak kejakinan dan tidak bisa di benarkan.

Saat ini kenyataan riil membuktikan bahwa papua sedang terjadi penyebaran agama tertentu dengan kekuatan Negara. karena para migram kaum islam masuk ke papua tidak sedikit jumlahnya. ini di buktikan dengan banyak bangunan mesjid dan kegiatan islamisasi yang di pasilitasi oleh para pihak berkepentingan.

Para umat Kristen di papua tidak bisa melihat hal ini terus terjadi, mestinya harus melakukan berbagai tindakan agar jangan terjadi konflik  agama di papua.

Apa lagi papua berlaku daerah otonomi khusus sehingga, penyebaran agama tertentu harusnya di batasi melalui perdasus dan perdasi dan ini tanggung jawab MRP dan DPR.

Contonya saja, di aceh, tanah jawa dll, Umat Kristen sulit membangun Gereja, Gerejapun di bakar dan di bongkar dengan alasan Ijin bangunan, padahal Indonesia berlaku 5 agama, hal ini tidak bisa biarkan, para pejabat Kristen harus mengabil sikap tegas dan jelas atas islamisasi papua.

Sebelumnya juga, dengan alasan separatis Forum Umat Islam (FUI) meyeruhkan Jihad di papua, Seruan jihad ini di lontarkan oleh Mantan Ketua YLBHI, Munarman, di Kantor Kemenhan, Jakarta, Jumat (23/12/2011). dilihat dari misi FUI sesungguhnya bagian dari islamisasi di papua, alasa separatis hanyalah slogan belaka.

Umat Islam dari berbagai penjuru tanah air akan disiapkan untuk berhijrah dan berjihad ke Papua dan Maulu untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan wilayah NKRI.

Dengan pernyataan ini, kami menghimbau agar para pemuda gereja papua jelih melihat ini, hal ini tidak main-main, kenyataan demikian sehingga tidak tertutup kemungkinan papua akan terjadi islamisasi, apalagi mereka di dukung oleh kekuatan Negara.
Harapan ini tidak terjadi, karena papua adalah tanah damai dan tanah yang di berkati Tuhan.

Editor: turius wenda (FGPBP)

STAIN Al-Fatah, Safiudin:Benarkah Klaim Papua 'Tanah yang Diberkati?'

Islam Wamena

Jakarta (SI ONLINE) - Penolakan terhadap isu Islamisasi Papua oleh penduduk Kristen karena bertentangan dengan cita-cita mereka yang mengkalim Papua sebagai 'tanah yang diberkati'. Slogan Papua sebagai tanah yang diberkati merupakan simbol bahwa tanah Papua merupakan tanah milik orang-orang kristen baik Protestan maupun Katolik.

"Gereja Pengharapan Jayapura membentangkan spanduk dengan slogan 'Tanah Papua Milik Yesus Kristus'", tulis peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, Safiudin, dalam makalah ilmiahnya yang dipublikasikan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, (10/10/2011) lalu.

Berbagai tindakan masyarakat Papua yang menolak Islam dengan berbagai simbol yang dimiliki, dan mengklaim Papua sebagai 'tanah yang diberkati', kata Safiudin, karena saat ini mereka dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa kuantitas penduduk pendatang muslim semakin lama makin bertambah.

Sementara umat Islam menganggap bahwa tanah Papua bukanlah milik orang Kristen, karena Islam lebih dahulu masuk ke Papua dari pada Kristen. Jadi, benarkah klaim bahwa tanah Papua adalah 'tanah yang diberkati?'.

Ade Yamin, yang juga peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, dalam makalahnya berjudul "Dani Muslim di Tengah Benturan Peradaban", membantah anggapan itu. Menurutnya orang yang pertama membawa Islam ke Papua adalah Syekh Abdurrauf yang  merupakan putra ke-27 dari Waliyullah Syekh Abdul Qadir Jaelani dari kerajaan Samudra Pasai, yang telah mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua) sekitar abad XIII, tepatnya 17 Juli 1224.

Artinya, jika merujuk pada pendapat ini, Islam telah masuk ke tanah Papua jauh lima abad sebelum Kristen masuk. Sebab masuknya  Kristen Protestan pertama kali di daerah Manokwari yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana terjadi pada tahun 1855.

Menurut penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)”, Ali Atwa, masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni Kerajaan Bacan.

Bahkan, lanjut Ali Atwa, keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam.

"Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme", tulisnya.

Ali lantas mengutip tulisan Thomas Arnold, seorang orientalis berkebangsaan Inggris, yang memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah diIslamkan oleh kaum pendatang dari Maluku"

Tentang masuk dan berkembangnya syi'ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat [mungkin semenanjung Onin] oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian..."

Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari  masuknya Protestan. Baik memakai pendapat pertama yang menyatakan Islam masuk sejak abad XIII maupun pendapat kedua Islam masuk Papua sejak abad XVI, keduanya tetap lebih dahulu dibandingkan dengan masuknya Kristen.

Bahkan, masuknya zending Kristen C.W. Ottow dan G.J. Geissler juga atas jasa umat Islam. "Kedua orang itu yang mengantarkan ke Papua umat Islam. Ini juga harus diketahui", kata Ketua AFKN Ustadz Fadzlan Garamatan.

Jika demikian halnya, lantas apa dasar dan alasan untuk mengklaim bahwa Papua adalah 'tanah yang diberkati?'. 

Sebelumnya, Forum Umat Islam (FUI) Siapa Berjihad Di Papua

Forum Umat Islam (FUI) dalam pernyataan yang disampaikan kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jumat (23/11/2011) menyatakan akan menyerukan kepada seluruh laskar Islam untuk berjihad mempertahankan bumi Islam, Papua (Nuu Waar). Pernyataan itu keluar karena  sampai sekarang negara dinilai tidak berani menggunakan hard power untuk menumpas gerakan separatis, baik Republik Maluku Selatan (RMS) maupun Organisasi Papua Merdeka (OPM). 

" Status perang melawan para pembangkang/pengacau keamanan (Quththa’ at-Thariq au al-Hirabah) itu juga termasuk jihad. Pasukannya disebut mujahidin dan jika tewas dalam peperangan mereka disebut syahid (syuhada). Apalagi jika para pembangkang itu adalah orang kafir, maka status jihadnya adalah memerangi kaum kafir untuk menjunjung tinggi kalimat Allah (li ila’i kalimatilLah). "


 Statement ini mendapat rekasi keras oleh Element Pemuda Kristen Papua

 Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Buctar Tabuni, seperti diberitakan Suara Baptis Papua (SBP), menanggapi pernyataan Ketua Dewan Penasehat FUI, Habib Rizieq Syihab, dengan mengatakan, “Kami di Papua siap berjihat apabila Forum Umat Islam mau berjihat di Papua”.

Bahkan Tabuni menganggap FUI gila dan statemen yang dikeluarkan sangat diskriminatif terhadap kaum minoritas khususnya di Papua. Tabuni mengharapkan pemuda Kristen Papua untuk menanggapi statemen FUI tersebut agar rencana jihat itu tidak terjadi di Papua.

Sementara Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP), Turius Wenda, mengaku sangat menyesalkan pernyataan FUI. “Harusnya mereka (FUI) mengerti dan memahami akar persoalan Papua. Kalau tidak tahu persoalan Papua jangan omong sembarangan. Karena pernyataan begini bisa berakibat fatal atau mengarah pada konflik SARA atau konflik agama”, katanya seperti dikutip SBP.

seruan FUI juga mendapat pertentangan keras dari Ketua Muslim Pegunungan Tengah Papua, Ismail Asso. Seperti diberitakan Central Demokrasi, Rabu (28/12/2011),  Ismail  meminta rakyat Papua tidak perlu takut dengan pernyataan FUI, karena dianggap hanya bentuk cari muka. Asso menambahkan, jika FUI benar datang berjihad di Papua, dirinya bersama muslim Papua lainnya akan berdiri paling depan untuk mengusir mereka.
“Itu ormas goblok, mereka cari muka saja. Mereka juga tidak punya massa di Papua. Jangan takut kalau mereka akan datang ke Papua,” ujarnya.  

Ismail mengaku akan berdiri di barisan paling depan untuk mengusir Laskar Islam. Dia merasa mempu menghentikan laskar Islam. “Karena gerakan mereka kecil dan pinggiran”, lanjutnya. (@tw)

  


Senin, 02 Januari 2012

Mama Yosepha Alomang Bakal Menerima Nomino Prize Italia

Mama Yosepha Alomang
JUBI--- TAPOL salah satu organisasi swadaya masyarakat yang peduli hak asasi manusia, perdamaian dan demokrasi di Indonesia berbasis di London Inggris menyebutkan mama Yosepha Alomang pejuang HAM asal Papua sebagai kandidat penerima hadiah perdamain bertitell Nonino dari Italia.

Hal itu disampaikan aktivis HAM Indpenden Papua Barat, Sebby Sambom, kepada tabloidjubi.com melalui press releasenya, Sabtu (24/12). Sambom mengatakan informasi itu didapatnya langsung dari Tapol Inggris. “Kami memperoleh informasi dari Tapol kalau Mama Yosepha Alomang diusulkan sebagai salah satu kandidati penerima Hadia Nomino. Hadiah perdamaian internsaional ini berasal dari negara Italia,”katanya.
Sebby mengatakan melalui releasenya, penghargaan Internasional ini bakal diberikan mama Yosepha Alomang karena perhatiannya kepada hak-hak masyarakat adat. “Hadiah ini akan diberikan kepada seseorang yang menghormati tanah dan adat, dan sangat dihargai oleh masyarakatnya,”katanya.


Lanjut Sebby, Lembaga itu bisa memberikan nobel Nomino bila ada data-data mendukungnya. Karena itu, Tapol Inggris maupun yang mengurus Nomino Prize sedang mengumpulkan sejumlah data. Data yang mendukung mama Yosepha untuk menerima penghargaan Internasional ini.

“Lembaga Kemanusian di Italia yang mau beri hadiah nobel Nonino. Lembaga yang mengurus Nonino telah meminta alasan-alasannya dan kami berusaha mengumpulkan data-data yang diminta kemudian disampaikan kepada TAPOL Ingris,”katanya.

Sekedar untuk diketahui. Sebby menyertakan isi surat Tapol kepada tabloidjubi.com. “He secretaria of the Nonino Prize, established by the Nonino Family from Percoto, Udine, Italy, to award a personality that has a deep involvement with the respect of the people, the land and the traditions of rustic civilization, has received by one of the Member of the Jury the nomination of Ms. Yosepha Alomang, for her great commitment for the safeguard of her country and her people. We have found some material on Ms. Alomang, her biography with all the suffering she has gone through and all the struggles she has fought for her populations. Unfortunately we haven’t been able to find any way to contact Ms. Alomang or her Foundation (YAHAMAK). We know you are deeply involved in the promotion of human rights in Indonesia and so we take the liberty writing to you to see if you can help us,” tulisnya lembaga yang mengurus Nonino Praise kepada Tapol Inggris kemudian diteruskan kepada Sebby.

Secara terpisah salah seorang aktivis hak asasi manusia, Yulianus mengatakan para aktivis berada bersama mama. Mama yang selalu dalam barisan anak muda meneriakan penegakan hak asasi manusia Papua dan dia pantas menerima pengharagaan Internasional. “Kami mendukung mama untuk menerima penghagaan ini,”katanya. (JUBI/Voxpopa)

Negeri Mutiara Hitam Itu Terus Membara


Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA - Papua yang berada di wilayah Timur Indonesia menjelang tutup tahun terus membara. Aksi penembakan dan kekerasan yang terjadi di Negeri Mutiara hitam itu seakan tidak pernah habis meski pemerintah telah mengerahkan ribuan pasukan.

Di sepanjang 2011, tercatat belasan orang meregang nyawa di Papua. Sebagian besar kasus, korban tewas akibat tembakan oleh orang tidak dikenal. Berikut data yang berhasil diperoleh okezone:

Pada 13 April 2011, terjadi penembakan 5 orang warga sipil di Dogiyai Papua.
Dalam peristiwa ini, dua orang menjadi korban tewas yakni Dominikus Auwe dan Aloysius Waine. Sedangkan tiga korban lainnya menderita luka-luka yaitu Vince Yobee, Albertus Pigai, dan Matias Iyai.

Genap sebulan tepatnya 14 Mei, aksi kekerasan terjadi di Pelabuhan Laut Nabire. Pria yang diketahui bernama Derek Adii diduga dianiaya oleh oknum anggota TNI. Sayangnya infomasi siapa pelakuknya masih simpang siur.

Di bulan yang sama yakni 28 Mei, Sertu Kamaruzaman dari Kopassus menjadi korban penembakan di Distrik Ilu, Puncak Jaya. Saat kejadian, Kamaruzaman didatangi tiga orang bersenjata yang diduga OPM dan melakukan penyerangan, sehingga mengakibatkan telinga kirinya terluka.

Setelah dua bulan tenang, Bumi Cenderawasih kembali bergejolak. Pada 5 Juli, Pratu Kadek Widana dari Yonif 751/BS tertembak saat melakukan patroli di kawasan Puncak Jaya, Papua. Akibat insiden penembakan itu, tangan kanannya tertembus peluru.

Selang enam hari, 11 Juli, kembali terjadi penembakan terhadap seorang berkebangsaan Australia, Drew Nicholas Grant, dan Bripda Marson Freddy, anggota provost Polda Papua yang mengawal mobil Freeport. Mereka tewas di Mile-53 dan di mile 51, Tembagapura, Timika, Papua.

Sehari setelah itu, dua peristiwa terjadi secara bersamaan di dua tempat terpisah. Satu kasus penembakan terjadi di Mile-51, Timika. Korban merupakan security PT Freeport Indonesia Markus Rante Allo

Di tempat terpisah, Pratu Herber yang tengah melakukan patroli keamanan di Puncak Senyum, Puncak Jaya, diserang orang tidak dikenal dan mengalami luka di tangan kanannya hingga tiga jarinya patah.

Akhir bulan yakni 30 Juli-1 Agustus terjadi bentrokan antara warga di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. Bentrokan tersebut menyebabkan korban tewas menjadi 21 orang. Insiden ini dipicu ketidakpuasan atas penyelenggaran pilkada di wilayah itu.

Tak kalah dengan bulan Juli, pada Agustus 2011 tercatat ada lima insiden di Papua. Pada 1 Agustus, terjadi serangan yang dilakukan OPM di Tanjakan Gunung Merah, Papua. Akibat serangan itu empat orang tewas, dua luka berat, dan dua luka ringan.

Pada 3 Agustus, giliran Helikopter Mil Mi-17 milik Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, diberondong tembakan oleh orang tak dikenal di sekitar Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Tidak hanya kasus kekesaran saja yang terjadi di tanah Papua, namun pembakaran bendera Indonesia sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah juga terjadi.

Ini terlihat pada 5 Agustus terjadi pembakaran Bendera Merah Putih oleh Kelompok OPM di bawah pimpinan Goliat Tabuni. Peristiwa ini terjadi di Markas Tentara Pembebasan Organisasi Papua Merdeka (TPM-OPM) di Tinggi, Nambut, Pucak Jaya.

Bahkan saat peringatan Hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus, terjadi pengibaran bendera bintang kejora dilakukan di dua tempat terpisah, yakni di Gunung Tanah Hitam Abepura dan di Dok 8 Jayapura.

Di bulang yang sama tepatnya 23 Agustus, terjadi penyerangan terhadap anggota Komando Daerah Milliter (Kodam) Cenderawasih, Kapten (inf) Tasman yang merupakan Perwira Pembina Mental.

Kapten Tasman tewas dengan kondisi mengenaskan, yakni leher belakang ditebas dengan parang. Jenazah ditemukan di Jalan Baru, Campwolker, Perumnas 3, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Papua. Dia dibantai usai mengatar istrinya ke sekolah untuk mengajar.

Belum genap sebulan, aksi kekerasan kembali terjadi. Pada 10 Oktober, terjadi bentrokan antara massa pekerja dengan aparat keamanan di area pertambangan Freeport, Timika.

Bentrokan ini muncul karena tambang di Tembagapura masih beroperasi di saat ribuan pekerja sedang melakukan mogok karena menuntut kesejahteraan lebih baik.

Unjuk rasa yang dilakukan oleh sekira 2.000 orang dari tujuh suku dan pekerja PT Freeport Indonesia mengakibatkan 2 warga tertembak, 7 polisi terluka terkena lemparan batu, dan 3 kendaraan operasional PT Freeport hangus dibakar massa.

Penembakan lagi-lagi terjadi pada 14 Oktober. Saat itu dua penembakan terjadi di hari yang bersamaan. Pertama, di ruas jalan Tanggul Timur tepatnya di Mil 37 pada yang menewaskan tiga pekerja PT Puri Fajar Mandiri yaitu Yana Heryana, Iip Abdul Rohman dan Deden.

Kemudian di Mil 40 dan Mil 38 yang mengakibatkan dua pendulang tradisional dan seorang karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia (KPI) tewas.

Lima hari pascapenembakan, kericuhan terjadi saat Kongres Rakyat Papua III yang digelar di Lapangan Sepak Bola Zakheus, Abepura, pada 19 Oktober. Kali ini aparat dari TNI dan gabungan kepolisian membubarkan paksa kongres tersebut.

Aparat mengklaim Kongres Rakyat Papua III diindikasi sebagai gerakan separatisme. Sekira 200 peserta ditangkap dan berdasarkan data Asosiasi Mahasiswa Pengunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) Papua terdapat enam warga meninggal dunia akibat luka tembak.

Sementara warga lainnya dikabarkan mengalami luka para akibat tembakan, dan 17 orang lainnya hilang atau belum kembali ke rumahnya masing-masing.

Tepat dua hari kemudian, 21 Oktober, terjadi penembakan oleh gerombolan bersenjata tak dikenal di Mil 39 ruas Timika menuju Tembagapura, Papua. Penembakan ini menyebabkan 3 orang tewas dan menewaskan Albertus Laitawono (29) dan Yunus (25) yang bekerja sebagai penjaga kios di mil 40.

Sementara seorang korban lain yakni Aloysius Margana, karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia, ditembak saat mengemudikan mobil operasional perusahaan. Margana belakang diketahui kerabat dari Roy Suryo, anggota DPR.

Tidak berhenti sampai di situ, 24 Oktober terjadi kasus penembakan Kapolsek Puncak Jaya, Papua, AKP Dominggus Oktavianus di Bandara Mulia. Kabupaten Puncak Jaya yang terletak di Pegunungan Papua. Kabupaten ini baru genap berusia 15 tahun pada 8 Oktober 2011 lalu.

Terakhir penembakan dilakukan terhadap helikopter jenis ER. Akibat penembakan yang terjadi pada 17 Desember tersebut, satu orang mengalami luka luka.

Banyaknya kasus yang terjadi di Papua hingga saat ini belum diketahui apa yang menjadi penyebabnya. Banyak kalang menuding, maraknya sejumlah perlawan yang dilakukan pihak tertentu karena akar masalah kesenjangan sosial di wilayah tersebut tidak merata.

Pemerintah sepertinya kehilangan akal untuk meredam sejumlah kemarahan warga Papua. Bahkan sejumlah aksi penembakan dan kekerasan yang terjadi dituding dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Jika merujuk pembentukan OPM, organisasi ini berasal dari kekecewaan masyarakat atas sikap pemerintah yang tidak mengerti akan keinginan warga setempat. Belakangan banyak desakan kepada pemerintah agar menggelar referendum.

Apabila pemerintah tidak segera dapat mengatasi gejolak tersebut, tidak mustahil aksi kekerasan akan terus terjadi.
(ahm)