Tampilkan postingan dengan label Parlemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parlemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Mahfudz Siddiq, "If Not Revealed, Police Involved Shootings Suspect in Papua"

Papuan
KOMPAS.com - Police urged to act decisively related to the shooting are rife in Papua lately with the perpetrators. If not, the security forces can be suspected as the perpetrators of the shooting so far.
"Doubt ranks of the police must end. Police have arrested actor violence. If not done immediately, the greater the suspicion. Suspicion they are made the apparatus. To avoid suspicion, the police inevitably must uncover the perpetrators," said Commission Chairman I Mahfudz Siddiq House of Representatives in Parliament House Complex Senayan, Jakarta, Monday (11/06/2012).
Last weekend, dozens of politicians Papua Commission I to collect materials related to warming of the situation in Papua. They met with community leaders, religious leaders, NGOs, intelligence officials, police, military, and others.
Mahfudz said the data received it, there are at least 22 shootings in the last two months. A total of 14 people from various backgrounds were killed. However, until now not known who the perpetrators of the shooting.
Based on the recognition of police officers in Papua, said Mahfouz, they hesitate to act because of fear of repression was accused of violating human rights. Moreover, he added, there is mistrust of the citizens of Papua on the government and security forces.
"People are very worried. Major streets deserted at night. If it is not revealed, the public is increasingly suspicious of officers was conducted. Police suspect was carried out civic groups in the mountains. (If arrested) there are fears of backlash because of solidarity," said MCC's politicians .
Defense Minister Purnomo Yusgiantoro said, intelligence officials in Papua are still investigating who auktor intellectualist of a series of shootings in Papua. The security forces, he said, as long as it should be cautious because of sensitivity the situation in Papua.
"The issue is being dealt with separatist local military command, our representative in Papua. We do not send down troops from outside. Forces from the outside only at the border," said Purnomo.

Selasa, 15 Mei 2012

Jual Tank, Pengkhianatan terhadap Orang Papua

Published in Volkskrant ( Hakim bahabol fhoto Hakim)
Menurut Bahabol kendaraan tank itu nanti akan bisa digunakan untuk menghadapi apa yang oleh Jakarta dicap sebagai "separatis". "Jual Tank Kembali Mengkhianati Warga Papua," demikian koran de Volkskrant.

Bahabol adalah anggota parlemen Papua Barat yang dilarang di Indonesia. "Kami rapat secara rahasia, di gereja atau di hutan." Minggu lalu ia berkunjung ke Belanda bersama dua aktivis lain. Mereka bertemu dengan anggota parlemen dari partai kanan populis PVV, partai sosialis SP dan partai Kristen konservatif ChristenUnie.

Revolusi damai

Bahabol dan delegasinya mengimbau pemerintah Belanda agar mengkampanyekan referendum bagi kedaulatan propinsi Papua di bawah pengawasan dunia internasional. "Perjuangan kami tanpa kekerasan. Demonstrasi massal. Revolusi damai," kata Bahabol.
Bahabol membawa foto mengenai demonstran yang membawa spanduk dengan tulisan dalam bahasa Belanda di mana warga Papua menuntut tanggungjawab politik Belanda kepada warga Papua.
Di tahun 1961 warga Papua diberi bendera dan lagu kebangsaan sendiri oleh pemerintah Belanda. "Siapa yang mengibarkan bendera itu sekarang, diancam 15 tahun penjara," Bahabol mengingatkan.

Petisi

Berita tentang kekerasan di penjara-penjara di propinsi Papua sulit dilacak karena diplomat dan wartawan asing dilarang berkunjung ke propinsi tersebut. Warga Papua di Belanda mengimbau kabinet dan parlemen agar menyusun petisi sebagai "prakarsa warga sipil".
Petisi tersebut harus mengumpulkan 40.000 tanda tangan. Menurut pihak pemrakarsa lewat situs di internet westpapoea.petities.nl sudah terkumpul 5.000 tandatangan.
Jakarta menyebut gerakan kedaulatan Papua sebagai kelompok kecil. "Tetapi referendum akan membuktikan sebaliknya," tegas Bahabol sambil menambahkan bahwa pelaksanaan referendum harus menjamin kebebasan warga Papua menyatakan pendapat mereka dan kelompok transmigran di Papua tidak mengintimidasi warga Papua.

Separatis

Kabinet demisioner Belanda mau menjual tank Leopard yang tidak digunakan lagi. Ini juga berkaitan dengan penghematan di departemen pertahanan Belanda. Indonesia menyatakan berminat membeli tank yang total berharga 200 juta Euro.
Besar kemungkinan parlemen Belanda tidak menyetujui penjualan tank itu kepada Indonesia dengan pertimbangan kendaraan lapis baja itu bisa digunakan untuk mengadapi kelompok-kelompok yang oleh Jakarta dicap sebagai "separatis, teroris dan sebagainya". Demikian koran de Volkskrant.

Sabtu, 10 Maret 2012

KNPB UmumKan Hasil Peluncuran IPWP Region Australi – Pasifik di Cambera



Numbay SBP, Perjuangan bangsa papua untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa papua terus berjalan, hal ini dibuktikan dengan berbagai dukungan politik luar negeri yang begitu mengembar di berbagai daerah belahan dunia.
Pantauan SBP, Dalam aksi pangung terbuka ini di hadiri oleh belasan ribu rakya papua sebagai bukti dukungan atas hasil Peluncuran Parlemen (IPWP)  di cambera australia.
Aksi yang sama berlangsung di berbagai kabupaten laninnya, Dalam orasi politik sebagai penangunggung jawab dalam negeri Ketua  Komiten Nasional papua Barat (KNPB) oleh Bucthar J. Tabuni menyampaikan bahwa Perjuangan bangsa papua sudah memenuhi jalur legal internasioanla. IPWP sebagai lembaga politik legal sudah terbentuk di pelahan dunia.
Pertama kali tahun 2008 terbentuk di eropa London yang di motori oleh Andrew Smit bersama perlemen di inggris raya. Lembaga politik ini bekerja dengan konsekuen danfokus serta  terbentuk di beberapa benua seperti di eropa, Afrika - senegal, Amerika lain, Australi –pasifik dan kita tunggu dua negara besar yaitu Belanda dan Amerika dan akan di luncurkan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Dalam orasi poltiknya berjanji bahwa saya dan KBPB berada posisi paling terdepan untuk memediasi rakyat papua untuk mewujudkan misi penentuan basib sendiri (Referendum), sayalah jenderal barisan paling terdepan untuk membawa rakyat papua dari penjajahan imperialis NKRI, apapun resikonya kami bersama KNPB selalu ada dan berdiri barisan terdepan untuk menghakiri perjuangan ini dengan nada tegas.

Di tempat yang sama Sebby sambon  menyampaikan bebrapa latar belakang perjuangan rakyat papua, dia menambahkan bahwa resolusi PBB tentang penentuan nasib sendiri sebagai suatu bangsa belum cabut, rakyat papua punya kesempatan yang sama untuk menentukan nasib sendiri sebagai bangsa yang berdaulat.
Ada Empat polin Resolusi Peluncuran Parlement Internasional For West Papua (IPWP) region Australia pasifik yang di bacakan oleh ketua KNPB Bucthar Tabuni yaitu.
1. Parlement Australi akan mendesak Pemerintah Australia untuk menhentikan bantuan militer bagi Indonesia. 2. Parlement Australia dan pasifik Mendesak pemerintah untuk membebaskan tahanan politik seluruh papua tanpa syarat. 3. Parlemet australia – pasifik mendesak pemerintah untuk membuka akses pekerja kemanusiaan dan media idenpenden untuk mengawasi dan menyelidiki kasus pelanggaran HAM di papua. 4. Parlemen australia – pasifik mengajak seluruh arlement dan pemerintah Australi – Pasifik untuk besama – sama mendorong keinginan rakyat papua untuk menentukan nasib sendiri melalui jalur REFERENDUM.
Empat resolusi ini menjadi kerja fokus dan konsisten bagi parlemen australi - pasifik  untuk mendorong agar hak politik rakyat papua barat harus di tentukan oleh rakyat papua sendiri melalui jalur referendum.

Dalam aksi pangung terbuka ini di backup oleh aparat gabungan TNI/POLRI untuk menjaga keamanan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan orang lain.

Dalam sela-sela aksi ini Kapolres jayapura menyampaikan bahwa aparat sebagai keamanan harus mempunyai tanggung jawab untuk untuk menjaga hak dan demokrasi rakyat papua untuk menyampaikan hak pendapatnya. Kami hanya menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan orang lain.
Dari akhir kegiatan enyampaian haisl Peluncuran Parlement Internasional Untuk papua barat dengan intruksi KNPB masa pendukung KNPB pulang dengan tertip dan aman

Ini Foto-foto Kegiatan di makam Theys Hiyo Eloay





















Kamis, 01 Maret 2012

Ganggu Papua, DPR Ancam Bentuk Kaukus Aborigin


PAPUAN AKTIVIS

JAKARTA – DPR terus bereaksi keras menyikapi manuver Anggota Parlemen Australia, Richard. Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan, jika manuver-manuver itu terus dijalankan dan pemerintah Australia pun membuka ruang, maka Komisi I tidak akan tinggal diam.

“Jadi, salah satu reaksi keras, ada beberapa temen di Komisi I mengatakan bahwa kalau manuver ini terus berjalan dan Pemerintah  Australia sepertinya membuka ruang, mereka punya ide akan membentuk Kaukus Aborigin,” kata Mahfudz kepada wartawan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (1/3). “Ada ide seperti itu, tapi saya belum merespon,” lanjut Mahfudz.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin mengingatkan kepada pemerintah untuk mewaspadai rencana berkumpulnya beberapa aktivis dan sejumlah anggota parlemen Australia dan sekitar Pasifik (Papua Nugini, Selandia Baru, Vanuatu dan lainnya ) pada pekan depan di Australia. 

Dijelaskan, mereka berkumpul dalam sebuah kaukus Parlementarian For West Papua. Salah seorang anggota parlemen Australia dari Partai Hijau Richard, yang tergabung dalam kaukus tersebut mengatakan, bahwa bangsa Papua harus diberi kesempatan menentukan pilihannya sebagai bangsa.

Mahfudz menegaskan, Australia sebenarnya masih punya PR  untuk menyelesaikan permasalahan dalam negerinya. “Karena kita tau persoalan Aborigin belum selesai sampai sekarang. Demonstrasi kelompok-kelompok Aborigin masih berlangsung sampai sekarang, baik di depan parlemen dan di depan gedung perdana menteri kan?,” ungkap Mahfudz.

Jadi, menurut Mahfudz, “Kalau Australia memersoalkan soal permasalahan ini, Australia juga punya PR yang sama,” tegasnya. 
Sumber: JPNN

Senin, 27 Februari 2012

West Papua Committee to Stage Major Rally Tuesday

M
Group KNPB

SBP-JAYAPURA,  - The National Committee of West Papua (KNPB) plans to stage a big rally on Tuesday (Feb 28) related to the launch of the International Parliamentarians for West Papua (IPWP) for Pacific region in Australia’s Parliament House.
“Through this national rally we ask for support from international community. We also give support to the International Lawyers for West Papua (ILWP) and the International Parliamentarians for West Papua (IPWP), which always support West Papua,” Spokesperson of KNPB, Jeffry Tabuni, said as quoted by Bintang Papua.
Jeffry said that tomorrow KNPB will mobilize Papuan people in West Papua to join the national rally. The name ‘West Papua’ in KNPB’s term refers to the whole of the western half of New Guinea Island, which is now divided into two provinces (Papua province and West Papua province) by Indonesian Government.

Jeffry, however, reminded to all Papuan people that the targets of the national rally are not Non Papuan people live in West Papua, and also not to destroying public infrastructures such as retail networks and buildings, because anarchy will not resolve the problems.
According to Jeffry, the launch of IPWP for Pacific region in Australia tomorrow will be attended by Powes Parkop (Governor of Port Moresby and the National Capital District of Papua New Guinea), Ralph Regenvanu (Justice Minister of Vanuatu Republic), Chaterine Delahunty (member of New Zealand Parliament), and Senator Richard Di Natale (member of Green Party, Australia) as spokesperson of West Papua.
KNPB has previously on February 20, 2012 also staged a rally in front of Papuan People Council (MRP). KNPB rejects the existence of a special unit for the acceleration of development in Papua provinces (UP4B) established by President SBY to resolve the problems in the provinces. KNPB insisted that the right solution for West Papua is a referendum.
IPWP, meanwhile, in its official website, www.ipwp.org, confirmed the event. IPWP claims that Parliamentarians from Vanuatu, New Zealand, Papua New Guinea and Australia have been invited to join this new group of IPWP for Members of Parliament’s supporting West Papua. IPWP said that it will build relationships between parliamentarians in the Australia-Pacific region interested in regional approaches to the challenges faced by those in West Papua.
IPWP is international organization which recognizes the inalienable right of the indigenous people of West Papua to self-determination, which its believed was violated in the 1969 “Act of Free Choice”. IPWP members have actively call upon their governments through the United Nations to put in place arrangements for the free exercise of that West Papuan people’s right to decide democratically their own future in accordance with international standards of human rights, the principles of international law and the Charter of the United Nations.
Tens of Parliament members have joined IPWP. They came from United Kingdom (UK), New Zealand, Australia, Papua New Guinea, Sweden, Netherland, Czech Republic, Switzerland, Finland, and Scotland. (haryanto@theindonesiatoday.com)
Orinalnews Indonesia Today

Kamis, 23 Februari 2012

Politisi Australia dan Pasifik Siapkan Gerakan Papua Merdeka


Bintang Kejora (sbr google)
Bergejolaknya 'bumi' Papua belakangan ini ternyata mendapatkan perhatian serius dari dunia internasional. Bahkan, bagi beberapa negara yang memang kerap menyatakan dukungannya terhadap Papua agar memisahkan diri dari Indonesia, seperti Amerika Serikat dan Australia.

Dan kini, informasi terbaru mengungkapkan bahwa sejumlah anggota Parlemen dari Australia dan sekitar Pasifik membuka sebuah babak baru, yakni semacam kelompok politisi internasional yang tujuannya cuma satu: mendukung Papua untuk Merdeka.

Wakil-wakil dari Vanuatu, Selandia Baru,

Papua New Guinea dan Australia telah diundang untuk ikut bergabung dalam International Parliamentarians for West Papua. Kelompok ini menurut rencana akan diluncurkan di Australia pada awal pekan depan.

Senator Partai Hijau Australia Richard Di Natale mengatakan pihaknya mengundang menteri-menteri di Australia dan seluruh Pasifik untuk ikut bergabung dalam forumt tersebut. "Kami ingin lebih banyak orang ikut bergabung dan berikrar bahwa rakyat Papua Barat berhak untuk menentukan nasib sendiri," katanya menandaskan.
Sumber:  Radio-Australia

Sabtu, 24 Desember 2011

Sebuah petisi kepada Parlemen Belanda tentang Papua Barat


Gepost pintu: Pro Papua
Sebuah petisi kepada Parlemen Belanda untuk meluruskan sejarah Papua dan untuk mengatasi situasi di Papua Barat
Dengan Leonie Tanggahma
"Sebuah utang moral. Belanda memiliki utang moral terhadap rakyat Papua Barat untuk ketidakadilan yang telah dilakukan untuk mereka "Itulah bagaimana Mr Kortenoeven, seorang anggota parlemen Belanda, mengatakan, ketika sebuah petisi diserahkan ke Komite Permanen Luar Negeri. Belanda Dewan Perwakilan Rakyat (Commissie voor Vaste Buitenlandse Zaken), Selasa. Permohonan itu berjudul: "Permohonan penegakan peristiwa Trikora tanggal 19 Desember 1961, dan meminta Parlemen Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk mengatasi situasi di Papua Barat secara adil dan manusiawi".


Meluruskan sejarah Papua

Banyak orang Indonesia percaya bahwa 19 Desember singkatan pembebasan Papua dari kekuatan penjajah Belanda, namun orang Papua melihatnya sebagai hari Presiden Soekarno menyerukan perang agresi, konflik militer yang berjuang dengan tidak ada pembenaran lain dari ekspansi wilayah, melalui kolonial penaklukan. Itu adalah panggilan untuk agresi militer ilegal, invasi dari negara yang tidak mengakui kedaulatan rakyat Papua Barat, kedaulatan yang baru saja dinyatakan 18 hari sebelumnya, pada tanggal 1 Desember 1961. Orang Papua tidak dibebaskan, sebaliknya, mereka dianeksasi, dan sejak saat itu, mereka telah tertindas, disiksa, diperkosa, dibunuh, bukan hanya orang-orang Papua Barat, tetapi juga lahan telah disalahgunakan dalam yang paling mengerikan dari cara.

19 Desember 2011, aksi nasional

Permohonan itu bagian dari sebuah aksi nasional untuk meluruskan sejarah Papua, untuk meluruskan 19 Desember 1961, dan banyak organisasi di dalam dan di luar Papua Barat mengambil bagian karena mereka semua sepakat pada pentingnya tanggal tersebut, dan organisasi masing-masing membawa pesan yang sama dengan yang berbeda berarti, tidak lupa untuk mengusulkan solusi untuk memecahkan masalah. Selama demonstrasi di Numbay (Jayapura), Gerakan Rakyat Demokratik yang Papua (Garda-P) membuat banding kepada Pemerintah Indonesia untuk membuka diri terhadap dialog yang adil dengan orang Papua. Mahasiswa Papua di Yogyakarta berkumpul di bawah Gerakan Rakyat Papua Bersatu (GRPcool tersenyum menunjukkan di jalanan karena mereka menyatakan bahwa apa yang terjadi pada 19 Desember 1961, yang tidak lain tetapi panggilan untuk aneksasi Papua Barat oleh Indonesia. Pada tingkat regional, Koalisi Masyarakat Papua Fakfak (KMPFUK) juga mendesak Pemerintah Indonesia terlibat dalam dialog dengan Papua Barat, melalui perwakilan yang mestinya dipilih oleh rakyat. Gereja-gereja juga berhasil dibawa ke perhatian Presiden Indonesia, selama pertemuan mereka dengan dia, bahwa 19 Desember tidak hanya perlu diluruskan, tetapi juga bahwa solusi yang bermartabat perlu ditemukan dan diterapkan dalam hubungannya dengan Papua Barat. Dengan demikian, petisi kepada Parlemen Belanda menggemakan suara-suara dan tuntutan, seperti "disebut di Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk membantu Pemerintah Indonesia dan orang Papua dalam melaksanakan dialog dengan wakil-wakil yang dipilih dengan rakyat Papua, dengan memastikan bahwa hal ini terjadi dengan mediasi netral dan adil dari pihak ketiga, termasuk untuk membahas aspirasi untuk melaksanakan referendum mengenai masa depan Papua Barat ".

Parlemen Belanda

Tanggal dimaksudkan untuk menyerahkan petisi di Den Haag telah Senin 19 Desember 2011, tapi kemudian, ketika Mrs Albayrak, Ketua Komite Tetap Urusan Luar Negeri, menjelaskan, tidak banyak anggota parlemen akan bisa menghadiri. "Selasa adalah Hari Petisi di Parlemen", ia menambahkan. Jadi tanggal telah ditunda sampai Selasa 20 Desember.

Sebagai Mrs Albayrak, MP, mengambil petisi, ia menekankan bahwa itu cukup segelintir anggota parlemen yang datang untuk mengambil bagian dalam kesempatan tersebut; Belanda politik telah mulai mengambil minat dalam apa yang terjadi di wilayah itu. Para anggota parlemen mengambil bagian sebagai berikut: 1. Nebahat Albayrak (Partai Buruh PvdA-), sebagai Ketua Komite; 2. Wim Kortenoeven (Partai untuk Kebebasan PVV-); 3. Harry van Bommel (Partai Sosialis-SP); 4. Frans Timmermans (Partai Buruh PvdA-); 5. Henk Jan Ormel (Kristen Demokrat CDA Banding-); 6. Han sepuluh Broeke (Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi-VVD); 7. Joel Voordewind (ChristianUnion-CU); 8. Arjan El Fassed (Hijau Kiri-GL). Mr Kees van der Staaij (Reformasi Politik Partai-SGP) yang sayangnya tidak dapat hadir, meskipun ia mengikuti masalah ini sangat erat, sebagaimana dapat dilihat dari pernyataan pada tanggal 1 Desember.

Anggota parlemen belanda yang tajam

Tampaknya anggota parlemen Belanda membuka jalan dalam memastikan Pemerintah Belanda bertindak dalam hubungannya dengan situasi di Papua Barat. Mr Kortenoeven, MP (PVV) merebut setiap kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah dalam kaitannya dengan kasus Papua. Pada 16 Desember ia mengajukan sejumlah pertanyaan dalam kaitannya dengan peningkatan kekerasan dan brutal yang dilakukan oleh tentara Indonesia terhadap orang asli Papua Barat. Perlu dicatat di sini bahwa penggunaan besar terbuat dari informasi yang akurat dan terpercaya dari situs web [westpapuamedia.info]. Dua hari sebelum itu, pada tanggal 14 Desember, Dewan Perwakilan Rakyat (Tweede Kamer) menyetujui mosi untuk mencegah Belanda dari pengiriman tangki ke Indonesia. Menurut Mr El Fassed, MP (GL): "Kita tahu bahwa militer Indonesia bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia di Aceh, Timor Timur dan Papua Barat baru-baru ini, tampak jelas bagi saya bahwa Belanda tidak dapat memberikan tank tersebut ke Indonesia. "


Kebutuhan sebuah koalisi organisasi Belanda untuk Papua

Namun, menurut Mr Kortenoeven, MP, ada momentum pada saat ini, suatu momentum yang tidak boleh hilang. Papua perlu bertindak, bersama-sama, dalam rangka untuk menjaga Parlemen dan perhatian Pemerintah Belanda pada kasus mereka. Dia secara terbuka menyarankan organisasi Papua dan masyarakat Papua di Belanda untuk membentuk koalisi, untuk bergabung dan bertindak secara kolektif sehingga untuk menjaga tekanan pada politik Belanda. Menurut dia, representasi, yang kuat bersatu di Belanda akan mendapat manfaat tidak hanya masyarakat Papua Belanda, tetapi juga orang Papua di Papua Barat.

* Penulis adalah bagian dari masyarakat Papua di Belanda. Dia juga ditunjuk sebagai salah satu dari lima perunding Papua selama Konferensi Juli pada Dialog untuk Perdamaian yang diadakan di Numbay.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ~ ~ ~

Petisi untuk mendorong penegakan peristiwa TRIKORA tanggal 19 Desember 1961, dan untuk naik banding ke Parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk mengatasi situasi di Papua Barat secara adil dan manusiawi.

Mengingat signifikansi historis dari 19 Desember 1961, ketika Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat, Rakyat tiga Komando, saat dia menyerukan untuk sebuah mobilisasi total dari rakyat Indonesia

1. untuk mengalahkan pembentukan negara Papua yang ia percaya adalah
boneka kolonial Belanda membuat,
2. membentangkan Bendera Merah Putih di Papua Barat yang keliru
disebut "Irian Barat",
3. siap untuk mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dan
kesatuan Negara dan Bangsa.

Menimbang bahwa untuk banyak orang Indonesia ini mewakili apa yang disebut "pembebasan" dari wilayah dari Belanda;

Menimbang bahwa untuk sebagian besar orang Papua, pidato Presiden Sukarno pada 19 Desember 1961, yang tidak lebih dari panggilan untuk perang agresi, konflik militer yang berjuang dengan tidak ada pembenaran lain dari perluasan wilayah, perluasan Indonesia melalui penaklukan kolonial.

Menimbang bahwa untuk sebagian besar orang Papua, pernyataan TRIKORA merupakan panggilan kepada invasi militer, agresi militer ilegal dari negara yang tidak mengakui kedaulatan rakyat Papua Barat, yang baru saja dinyatakan 18 hari sebelumnya pada tanggal 1 Desember 1961,

Menimbang bahwa melakukan seperti perang agresi tanpa otorisasi yang tepat dari Dewan Keamanan, adalah kejahatan di bawah hukum internasional adat dan bahwa itu adalah sebuah perbuatan melawan hukum.

Menimbang bahwa 19 Desember 1961 menandai awal dari kampanye Trikora yang berlangsung hingga 15 Agustus 1962, ketika apa yang disebut New York Agreement telah ditandatangani antara Indonesia dan Belanda, tanpa persetujuan atau pengetahuan dari orang-orang Papua.

Menimbang bahwa Perjanjian New York ditetapkan bagaimana nasib dan masa depan bangsa ini akan ditangani, dan bahwa selanjutnya untuk itu, referendum diadakan palsu yang memutuskan nasib orang Papua untuk 42 tahun ke depan, dengan resolusi PBB yang diadopsi pada tanggal 19 November 1969.

Mengingat situasi hari ini mengerikan dan memburuknya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan di impunitas total dan mempertimbangkan bahwa sejak kampanye Trikora sampai dengan hari ini, militer Indonesia telah merenggut ribuan nyawa Papua, sebagian besar dari mereka warga sipil yang tidak bersalah,


Kami, organisasi-organisasi di bawah ini,

akan melakukan yang terbaik kami untuk mendukung penegakan sejarah kita dan untuk memastikan bahwa generasi berikutnya Papua akan diajarkan sejarah dengan cara yang cukup obyektif mencerminkan peristiwa yang benar-benar terjadi, mulai hari ini, dengan meluruskan dari 19 Desember 1961.

Kami menyebutnya Anggota Parlemen Belanda untuk menyadari bahwa pada tanggal itu, ketika Presiden Soekarno membuat pernyataan mengenai pembebasan yang disebut Irian Barat, dari tangan Belanda, itu sebenarnya panggilan untuk invasi, ke wilayah yang belum pernah diminta untuk ditempati oleh Negara Indonesia dan pasukan keamanan.

Kami mengungkapkan keprihatinan yang terbaik kami dan kutukan dari situasi saat ini di Papua Barat, khususnya kotor dan biadab yang sedang berlangsung pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Paniai, yang dilakukan oleh anggota tentara dan polisi Indonesia, di impunitas total.

Ribuan orang dilaporkan telah melarikan diri di Paniai, sebagai serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Polisi dan pasukan militer gabungan menyerang desa-desa di 13 Desember, dalam upaya mereka untuk mematahkan perlawanan bersenjata dari gerilyawan pro-kemerdekaan. Hak asasi manusia sumber menyatakan bahwa sampai dengan 16 orang setempat telah ditembak mati oleh pasukan keamanan Indonesia di sekitar pos rimba Markas Eduda. Selama ini operasi brutal 26 desa telah diratakan, dan lebih dari 10.000 orang telah melarikan diri ke tempat lebih aman lainnya.

Sebelum ini, tentara telah menyerang desa-desa dan mengintimidasi penduduk dalam pencarian mereka untuk pemberontak, lebih dari 500 telah meninggalkan desa mereka. Salah satu korban yang menderita gizi buruk dan diare berat, karena orangtuanya di jalankan, Otolince Degei, usia 2, meninggal pada Jumat 9 Desember di Enarotali, Paniai. Berapa banyak anak lagi akan mati karena kehadiran pasukan militer dan polisi bersama dan kegiatan mereka brutal dan barbar di wilayah tersebut?

Kami meminta Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk menghentikan pengiriman pasukan ke wilayah itu, termasuk penyebaran 650 tentara ke wilayah Merauke yang akan menjaga perbatasan dengan Papua Nugini. Ada alasan baik untuk takut bahwa seperti penyebaran besar-besaran hanya akan mengarah pada pelanggaran hak manusia lebih lanjut, rasa takut lebih lanjut antara penduduk lokal dan korban sipil lagi.

Kami meminta Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan semua tahanan politik dan untuk mengenali mereka seperti itu, bertentangan dengan ucapan-ucapan Menteri Djoko Suyanto Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, yang menyatakan bahwa tidak ada tahanan politik di Papua. Hal ini bertentangan dengan Kelompok Kerja PBB pada pendapat Penahanan Sewenang-wenang bahwa Pemerintah Indonesia merupakan pelanggaran hukum internasional dengan menahan Filep Karma.

Kami meminta Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk segera membebaskan penganjur hak asasi manusia dan untuk membuat komitmen publik bahwa tidak akan ada lagi penangkapan terhadap individu murni untuk pelaksanaan damai hak mereka atas kebebasan berekspresi, keyakinan pendapat, atau asosiasi.

Kami meminta Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak asasi manusia dan untuk memungkinkan akses ke pengamat internasional (LSM, media internasional, serta pejabat pemerintah asing dan bantuan kemanusiaan), dan untuk mengatasi situasi di Papua Barat yang mengambil proporsi mengganggu dan mengkhawatirkan dari hari ke hari.

Kami melakukan banding ke parlemen Belanda mendesak Pemerintah Belanda untuk menempatkan tekanan pada Pemerintah Indonesia untuk menghormati hak-hak orang Papua, sehingga tidak ada solusi yang disebut dikenakan pada rakyat Papua Barat, yang telah menolak Otonomi Khusus Hukum dan UP4B tersebut,

Kami meminta Parlemen Belanda untuk mendesak Pemerintah Belanda untuk membantu Pemerintah Indonesia dan orang Papua, dalam melaksanakan dialog dengan wakil-wakil yang dipilih dengan rakyat Papua, dengan memastikan bahwa hal ini terjadi dengan mediasi netral dan adil dari pihak ketiga, termasuk untuk membahas aspirasi untuk melaksanakan referendum mengenai masa depan Papua.

-----------

Papua organisasi:
Vereniging in Nederland Vrouwen Papua (PVN), Nederland
Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (Jayapura)
KPKC Sinode GKI di Tanah Papua (Jayapura)
Solidaritas kelompok:
Stichting Papua Pro, Nederland
Sydney Australia Asosiasi Papua Barat (AWPA, Sydney)
Yayasan Pantau (Jakarta)
Sahabat Perempuan murah Anak (Jakarta)
Tim Advokasi Papua Barat / WPAT (New York)
Papua Barat Action Network (New York)

Kamis, 01 Desember 2011

Pernyataan Dr Neles Tebay di Papua Barat ke Sub-komite Parlemen Eropa tentang Hak Asasi Manusia

Oleh Dr Neles Tebay
Pernyataan untuk Sub-komite Parlemen Eropa tentang Hak Asasi Manusia
Published Europarl.europa.eu/committees"Audiensi Publik mengenai situasi HAM di Asia Tenggara dengan fokus khusus pada Papua Barat 'Koordinator Jaringan Perdamaian Papua (JDP) dan Rektor Sekolah Katolik Fajar Timur 'Filsafat dan Teologi, Jayapura
Pertama-tama, saya ingin meminta maaf karena tidak bisa bersama Anda dan di antara kamu dalam pertemuan penting. Aku telah mengambil keputusan untuk tidak datang ke Brussels, karena ketegangan di Papua Barat sekarang sedang berjalan tinggi. Orang Papua sedang mempersiapkan diri untuk merayakan 1 Desember. Pasukan keamanan lebih Indonesia sedang dikerahkan di Papua Barat. Banyak orang di sini khawatir dan gelisah. Oleh karena itu, saya telah memutuskan untuk tinggal di antara dan dengan Orang di sini di saat krisis.
Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk mengizinkan saya untuk berbagi pengamatan saya dan pendapat tentang hubungan antara Indonesia dan Papua Barat.
Hubungan antara pemerintah yang berbasis di Jakarta dan Papua telah dan masih ditandai oleh saling curiga dan ketidakpercayaan.
Papua Barat di bawah pemerintahan Indonesia telah menjadi tanah konflik kekerasan.
Konflik berasal dari interpretasi yang berbeda dari integrasi Papua Barat ke dalam Republik Indonesia.
Indonesia menganggap bahwa Papua Barat merupakan bagian integral dari wilayahnya. Papua Barat, maka, selalu shpould dipertahankan sebagai wilayah Indonesia.
Oleh karena itu resistensi Papua dianggap sebagai ancaman terhadap integritas teritorial Indonesia.
Pemberantasan gerakan separatis di Papua Barat telah alasan untuk membenarkan segala bentuk kekerasan negara terhadap Papua dan pelanggaran HAM yang dilakukan againat orang Papua Asli.
Aku thinki, lebih pelanggaran hak asasi manusia kemungkinan akan terus terjadi di masa depan karena ribuan tentara tambahan telah dikerahkan di Papua Barat dan akar penyebab konflik Papua belum ditangani belum.
Menwahile penduduk asli Papua banyak yang melihat tanah leluhur mereka di Papua Barat yang diduduki oleh militer Indonesia. Mereka merasa bahwa mereka telah dan masih sedang dijajah oleh Indonesia.
Oleh karena mereka telah meningkatkan perlawanan mereka terhadap kekuatan kolonial di tanah leluhur mereka. Perlawanan mereka telah diwujudkan melalui menas kekerasan dan non-kekerasan. Saya melihat bahwa Papua akan terus meningkatkan perlawanan mereka terhadap pemerintahan Indonesia dengan cara apapun.
Saya pikir, sekarang adalah waktunya bagi pemerintah pusat dan orang Papua Asli untuk berpikir tentang kebijakan untuk mengakhiri pelanggaran HAM.
Saya percaya bahwa lebih banyak hak asasi manusia yang mungkin terjadi di Papua Barat kecuali akar penyebab separatisme Papua diselesaikan.
Jadi sangat penting bagi kedua belah pihak untuk terlibat dalam dialog konstruktif untuk mengidentifikasi akar penyebab separatisme ini dan menetap mereka tanpa pertumpahan darah yang tidak perlu.
Kabar baiknya adalah bahwa pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan adat Papua telah menyatakan secara terbuka kesediaan mereka untuk terlibat dalam dialog untuk mencari solusi damai konflik Papua.
Presiden Yudhoyono berkomitmen untuk menyelesaikan konflik Papua melalui dialog. Dia secara terbuka mengumumkan government'commitment untuk terlibat dalam dialog dengan orang Papua untuk mencari solusi yang lebih baik dan pilihan untuk memantapkan keluhan di Papua Barat.
Jadi, Jika saya mungkin menyarankan, saya ingin meminta Uni Eropa, termasuk Parlemen Eropa dan Komisi Eropa, untuk mendukung inisiatif pemerintah Indonesia untuk dialog terbuka dengan orang Papua untuk menyelesaikan konflik Papua secara damai. Uni Eropa dapat menawarkan bantuan yang diperlukan dalam rangka mendukung pemerintah Indonesia sehingga conflcit Papua dapat diselesaikan melalui dialog terbuka dengan orang Papua Indigensous.
Terima kasih banyak atas pengertian dan perhatian.

Queensland Seruhkan untuk tindakan terhadap Papua

Queensland Government Sports Minister Judy Spence Brisbane. Photo: Tony Moore

Oleh: Sean Parnell
Dari: Australia
Source published: Theaustralian.com.au/news/
THE Parlemen Queensland telah meminta Indonesia untuk menyelidiki dan bertindak atas pelanggaran hak asasi manusia di Papua.

Buruh pensiun veteran dan Amnesty International advokat Judy Spence menggunakan dari Parlemen terakhir semalaman untuk memanggil Indonesia untuk bertindak atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Ketiga Rakyat Kongres pada bulan Oktober
lalu.

Di tengah laporan tentang bentrokan lebih jauh antara polisi Indonesia dan aktivis kemerdekaan Papua Barat, Ms Spence mengatakan kepada parlemen ia putus asa bahwa hak asasi manusia yang terjadi di banyak negara di dunia saat ini".
"Saya tidak berpikir kami mencari perbaikan," kata Ms Spence.

"Bahkan, saya pikir kita mengambil langkah mundur di banyak negara Jadi itu behooves kita semua untuk menjadi sangat waspada tentang standar hak asasi manusia di negeri kita sendiri dan negara kita sendiri tetapi juga untuk memperjuangkan penyebab internasional di setiap kesempatan.."
Partai Nasional Liberal MP Bruce Flegg didukung gerak, mengatakan "ada bukti yang cukup serius pelanggaran hak asasi manusia di depan pintu kami untuk membuat kami keprihatinan mendalam".

Dr Flegg meminta Indonesia untuk mengakui telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia, menurunkan kehadiran militer di Papua Barat dan memungkinkan akses oleh para pengamat PBB dan wartawan masuk ke papua barat.

"Ini adalah bangsa (Indonesia) yang sangat dekat dengan kita," katanya.

"Dalam banyak hal, mereka adalah teman dari Australia dan saya pikir itu adalah benar dan layak bahwa parlemen Queensland dan Australia sebagai keseluruhan harus mendesak mereka untuk memperbaiki catatan hak asasi manusia di daerah ini. Ini adalah titik hitam bagi mereka. "