Tampilkan postingan dengan label menembak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menembak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

13 Orang Tewas Di Tembak Mati Oleh Aparat Gabungan TNI/POLRI di Wamena Papua

Kekhawatiran dan Situasi Darurat meningkat di Papua Barat setelah terjadi kekerasan TNI/Polri menyebabkan 13 orang tewas dalam (24jam)  dua puluh empat jam terakhir.

Jayapura VB,--Kekerasan kembali pecah setelah dua personil TNI batalyon wamena yang mengendarai sepeda motor menabrak hingga tewas seorang anak laki-laki.

Para keluarga tidak menerima anaknya mereka di tabrak, penduduk menyerang  kedua personil TNI tersebut diantaranya telah tewas dan satunya di rawat RS wamena.

Sebagai balas dendam Aparat gabungan TNI/Polri brutal dan tak terkendalikan , sementara polisi dilaporkan memukul dan menembaki sejumlah orang, sementara data korban yang di himpun sejumlah 13 orang tewas tertembak seketika dalam insiden itu 06/06 pukul 07 malam.

Sampai dengan 500 rumah diduga telah dibakar oleh tentara dengan semua barang dan hartanya di bumi hanguskan di kutip radia newzeland.
Hak asasi manusia lokal sumber mengatakan peluru tajam yang ditembakkan tanpa pandang bulu dan bahwa puluhan orang telah dipukuli dan ditembak oleh tentara.

Sampai berita ini di turunkan, belum bisa di konfirmasi dan verifikasi karena situasi riil sangat urgen dan tertutut bagi rakyat dan jurnalis serta pekerja kemanusiaan.

Ahli masalah Papua, Greg Poulgrain kepada Connect Asia Radio Australia mengatakan bahwa situasi terkini di Papua perlu mendapat perhatian serius.

Situasi papua saat ini sangat darurat, para aparat tidak di kontrol oleh pekerja kemanusiaan karena aparat sangat brutal dan banya penangkapan dan penembakan tanpa bulu, perlu ada advokasi khusus dan intevensi internasional atas situasi saat ini.

Letters can be sent to: Susilo Bambang Yudhoyono, President of Indonesia, Jl. Veteran No. 16, Jakarta Pusat, Indonesia or faxed to +62 21 3442223
Berita Terkait:
Photos News from Wamena : West Papua - Indonesian Military launch mass offensive and burning the villages 




























    Aparat Polisi Menembak Mati Teju Tabuni (17th), di Japis kota Jayapura papua

    Teju Tabuni ( Korban Penembakan Polisi-foto-HP)
    Jayapura Voice Baptist,-- Tadi pagi jam 08.00 warga japis kota jayapura di kagetkan dengan bunyi tembakan oleh aparat kepolisiaan kota jayapura, dalam insiden itu telah menewaskan seorang warga yang bernama Teju Tabuni, saat itu duduk santai di alte bus depan Kampus UNIYAP Japis Kota jayapura (07/06).

    Menurut informasi yang beredar  versi saksi bahwa korban di tembak saat itu, Kejadiannya pukul 8:30, Polisi berjumlah 4 orang menggunakan 2 Motor dalam kandisi keadaan mabuk berat, datang menghampiri korban yang sedang duduk santai dan mengeluarkan 4 kali tembakan yang mengakibatkan korban jatuh dan tidak bernyawa.
    Tidak lama kemudian aparat keamanan sampai di tempat kejadian (TKP)  selanjutnya korban ( Teju Tabuni) diantar ke RSUD Dok II menggunakan mobil avansa hitam dengan nomor polisi tidak diketahui.

    Menurut Aparat bahwa korban terjatuh dan kami datang hanya mau menolong katanya, ketika keluarga korban mau menjenguk di RS Dok II Jayapura,  di persulit dan tidak di ijinkan karena pihak aparat menjaga ketat dengan lengkap persenjataan, dan perlu diketahui juga bahwa kondisi korban selain mengalami luka tembak tetapi leherpun ikut di patahkan.
    Keluarga sangat membutuhkan advokasi, berharap agar harus di jelaskan apa alasan aparat menembak seorang anak yang tidak ada salahnya.

    Data Korban:
    Nama Korban :  Teju Tabuni
    Umur               : (17 thn)
    Warga              : Kota Jayapura ( Asal Wamena)

    Jumat, 16 Desember 2011

    ‘Many Deaths’ During Ongoing Military Siege in Papua: Allegations

    An international nongovernmental organization campaigning to highlight human rights abuses in Indonesia, has called for international intervention “after receiving highly distressing accounts of indiscriminate and brutal military raids” in West Papua.

    Maire Leadbeater of the Indonesia Human Rights Committee said reports from West Papua indicated that thousands of villagers in Paniai are undergoing a “military siege involving horrendous destruction and violence.”
    Source:http://www.thejakartaglobe.com/news/
    “Homes have been torched and villages razed, while helicopters are said to be strafing the villages. There are reports of  deaths, forcible evacuations and the displacement of thousands of people,” Leadbeater said.


    ‘We cannot confirm all the reports because the area is closed to journalists and humanitarian workers.  But there are compelling indications that the violence against the West Papuan people is escalating alarmingly.”

    In an open letter to New Zealand Foreign Minister Murray, the committee said the reports made a compelling case for international intervention to stop the violence. 

    “At the very least New Zealand should now insist that the area be opened up and journalists, the Red Cross and other humanitarian workers given free access, so that the information can be verified and appropriate help provided to the victims.”

    Leadbeater, who signed the letter, said Indonesian security personnel, including from the Army, Mobile Brigade (Brimob) paramilitary police and elite counter-terrorism troops from Detachment 88 “are responsible for the razing of villages and forced evacuations.”

    “This is apparently part of a military campaign against  local members of the Free Papua National Liberation Army.  We are advised that some 27 villages have been devastated, that  homes, schools and other buildings have been burnt and that an unknown number of people have been killed by live military fire. One report lists the names of 18 victims.”

    The committee alleged that thousands of civilian refugees have fled the area to other villages around Enaratoli, on the opposite side of Lake Paniai.

    “There is said to be a police supervised secure ‘Care Center’ in Enaratoli, which is overcrowded and lacking in basic requirements. Other refugees have fled into the forest or to live with other family members.”

    Selasa, 15 November 2011

    Brimob Papua Kembali Menewaskan 8 Warga Sipil

    "Please advocacy and independent investigation access is limited and difficult to enter the scene"


    JUBI --- Warga Sipil Papua kembali ditembak oleh Anggota Brimob di Degeuwo, lokasi tambang  emas secara  tradisional, Kabupaten Paniai, Papua.  “Kejadian ini terjadi tanggal 13 November hari minggu,” ungkap Servius  Kedepa, seorang aktivis lembag swadaya masyarakat (LSM) lokal, Selasa (15/11). 

    Jelasnya, peristiwa tersebut terjadi sekitar jam 10.00pagi waktu setempat, pada hari Minggu (13/11) lalu. “Mereka yang ditembak dan tewas ditempat adalah ada 8 orang. Yaitu Matias Tenouye (30 thn), peluruh menembus paha kanan. Simon Adii ( 35 thn) peluruh menembus rusuk dan tali perut keluar. Petrus Gobay (40 thn), peluruh masuk dada dan tembus ke belakang. Yoel Ogetay (30 thn), otak kecil keluar di bagian depan. Benyamin Gobay(25 thn), kena bagian dada dan peluru keluar di bagian belakang. Marius Maday (35 thn), peluruh mengenai dada dan keluar di belakang. Matias Anoka (40thn), peluruh kena dada dan keluar di belakang. Yus Pigome (50 thn), peluruh mengenai dada dan keluar di belakang,” tulis Kedepa,
    dalam pesan singkat kepada www.tabloidjubi.com, Selasa.


    Dia mengatakan, para korban ditembak dengan alasan tidak jelas. “Alasan aparat Brimob tidak jelas, tapi mereka (para korban-red) ditembak ketika sedang mendulang emas di Kali Degeuwo,” ucapnya. Akibat penembakan Aparat militer terhadap warga sipil tersebut, warga sekitarnnya telah mengungsi ke lokasi aman dan nayaman menurut mereka.
    Sehari sebelumnya, Sabtu (12/11), di wilayah Paniai telah terjadi penambahan pasukan militerTNI/POLRI dari luar Kabupaten, yakni dari Timika, Kabupaten Mimika.  Jumlah pasukan yang telah ditambahkan tersebut, 17 atau 18 kali penerbangan pesawat swasta, berjenis twin otter, yakni milik Maskapai Penerbangan Trigana Air. (JUBI/Almer Pits)