Tampilkan postingan dengan label Brimob. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brimob. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

5 Warga Ditembak Oknum Brimob di Papua

Berawal dari keributan di arena permainan billiard di lokasi tambang emas Desa Nomowodide.

Foto Penembakan Bromob (foto ilustrasi)
Jayapura baptis-voices - Pernembakan oknum pasukan Brimob terhadap warga sipil kembali terjadi di Papua. Kali ini di wilayah pendulangan emas, Desa Nomowodide, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Selasa 15 Mei sekitar pukul 20.00 WIT. Lima warga tertembak dan dalam kondisi  krisis.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, Vivanews penembakan berawal ketika pasukan Brimob mendatangi sebuah tempat permainan billiard di lokasi tambang emas tersebut. Lalu terlibat keributan dengan kelima warga, yang berujung dengan aksi penembakan.

Kapolres Paniai, AKBP Anton Diance saat dikonfirmasi, Rabu 16 Mei membenarkan adanya penembakan itu. "Ada lima warga yang ditembak, karena membuat keributan dan berupaya merebut senjata milik Brimob," kata dia yang bersumber dari post brimob TKP.

Lantas, karena melihat sikap kelima orang itu, bisa membuat keributan, pemilik billiard mendatangi Pos Brimob untuk meminta tolong mereka. Dan tiga anggota Brimob kemudian menuju tempat billiard. "Tiga anggota masing-masing  atas nama Briptu Ferianto Pala, Bripda Agus dan Bripda Edi  mendatangi TKP menindaklanjuti laporan pemilik billiard,"jelasnya.

Ketiga anggota itu lalu menegur kelima warga agar tidak membuat keributan, sambil mengarahkan masyarakat yang berkerumun untuk membubarkan diri. "Namun, di saat bersamaan  Briptu Ferianto Pala yang saat itu menghadap ke arah kerumunan massa, tiba-tiba bunyi tembakan dan di temukan lima warga terjatuh.

Sementara ini, kata dia, warga yang kondisinya kritis akan segera diterbangkan ke Nabire. "Kami sedang tunggu pesawat, untuk mengevakuasi korban yang kritis, ke RS di Nabire,"tandasnya.

Lanjut kapolres, Seluruh anggota polisi juga diminta untuk tidak mudah terpancing, jika ada kelompok-kelompok yang ingin membuat keributan. "Kami telah arahkan agar anggota yang berada di lokasi untuk tetap mengendalikan emosi jangan mudah mengeluarkan tembakan, karena dampaknya akan berakibat buruk dan merugikan orang lain," tukasnya.
Namun para pihak gereja dan pekerja kemanusiaan di nabire belum di konfirmasi sampai berita ini di turunkan.

Daftar nama warga yang ditembak:
1. Melianus Kegepe luka tembak di bagian pinggang samping tembus.

2. "Lukas Kegepe luka tembak pada bagian perut tembus.

3. Amos Kegepe luka tembak pada kaki kiri dan kanan.

4. Alpius Kegepe, luka tembak lengan kanan.

5. Satu orang belum diketahui identitasnya informasinya luka terserempet pada bagian dada.

Sabtu, 07 Januari 2012

TPN-OPM letter in Paniai: We Will Not Give Up

Gen Jhon Yogi  bersama pasukan (foto jubi)
Jubi --- Leader of TPN OPM IV Division II Makodam Pemka Paniai, General John Magai Yogi declared, would not retreat one step in the operation serve military-police joint forces that began last August 2011. It is committed, its predecessors pioneered the struggle continues to achieve the expectations of the West Papuans. The statement as stated in the letter issued from the middle of the jungle.

"We TPN throughout Papua OPM will never give up and will continue to fight the Indonesian authorities to the death," he wrote in a letter dated January 5, 2012. "We only hold Ukaa Mapega (bow and arrow, Ed.), But we rely on God, we are ready to face Brimob Police Headquarters and Detachment 88 as Indonesia's elite troops, equipped with modern weapons and today they still control Paniai area, "he added.


Two other statements that asserted in his letter, first: the United Nations (UN), United States and the Netherlands immediately responsible for the mistakes of the past at the expense of the people of Papua. Second, the United Nations and the United States to take immediate steps to resolve the Papua issue, because the problem will never be finished with all bids and forms of development by Indonesia.

"We will never give up. The people who lived in villages near the forest and always considered TPN OPM, though they were ordinary people. Even now they're chasing us TPN OPM IV Division II Makodam Paniai regency. We are not free from military pressure in the wilderness Paniai, because the police chief has ordered a lot of Palm II Brimob Depok, East Kalimantan and Detachment 88 comes surrounded our camp. They threaten our lives. Troops sent it disturb our peace, and we want the war to finish off TPN OPM, "he wrote.

Since the siege and attack on the headquarters Eduda, December 13, 2011, said John, a member of TPN OPM IV Division II Makodam Pemka Paniai still survive in the forest. That does not mean surrender.

He wrote at the end of the letter, "Every man and tribe has rights that must be respected by anyone, including the right to self-determination. Right this is what we people of Papua to the UN demanded that silent when our rights taken away by the Indonesian authorities and the United

Rabu, 21 Desember 2011

Kalau Kami di Dalam NKRI, Kami Habis

Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay.
Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay. (sumber: kabargereja.tk)
Ada kekuatan negara yang menyebar isu Papua Merdeka.

Pimpinan gereja-gereja di tanah Papua bertemu dengan Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Jawa Barat pada Jumat kemarin.

Mereka adalah Ketua Sinode GKI di tanah Papua Pendeta Jemima J. Krey,  Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay, Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua Pendeta Socratez Sofyan Yoman, dan Majelis Umum Sinode Nasional Gereja Kristen Alkitab Indonesia Pendeta Martin Luther Wanma.

Pertemuan yang berlangsung dari pukul 21.00 hingga 23.30 dihadiri anggota  kabinet, di antaranya menteri Polhukam, menteri keuangan, menteri pekerjaan umum, Kapolri dan Panglima TNI.

Ditemui wartawan Beritasatu.com di Wisma Bumi Asih, Jakarta pada 8 Desember, Pendeta Benny Giay menceritakan pertemuan dengan SBY yang berjalan santai namun serius.

Pendeta Benny berangkat dari Papua bersama ketiga pendeta lain pada 6 Desember.

Mereka  dijadwalkan bertemu Presiden pada 9 Desember namun ditunda hingga 16 Desember.

Ketika berangkat ke Jakarta, Pendeta Benny berencana akan menyampaikan ke Presiden mengenai inkonsistensi kebijakan di Papua.

"Kami mencari maksud pernyataan Pak SBY pada 16 Agustus, menyelesaikan Papua dengan pendekatan hati. Tapi pada 12 November banyak pasukan Brimob yang dikirim ke Puncak Jaya. Politik bicara lain, main lain," kata Benny.

Berikut kutipan wawancara dengan Benny:

Anda sampaikan mengenai inkonsistensi  kebijakan penyelesaian Papua ke Presiden?
Saya sampaikan. Kalau Presiden punya mimpi dan janji bagus sekali. kami disejukkan. Saya juga percaya pada mimpi Papua, masa depan lebih baik dari sekarang. Tapi saya juga lihat kenyataan masa lalu banyak kekerasan sampai hari ini. Sebenarnya pak Presiden seharusnya amankan anak buah. Politik bicara lain, main lain.

Tanggapan Presiden?
Dia bilang pendekatan militer sudah lewat. Harus dimulai dengan pendekatan dialog. Akan ada pertemuan selanjutnya. Mungkin nanti dia jelaskan lebih detil apa yang diperbuat. Mungkin kami juga siapkan paper.

Anggota kabinet yang hadir menyampaikan sesuatu?
Tidak. Kecuali saya sampaikan bahwa saya sebenarnya saya tidak mau datang. Saya berduka karena ada 800 jemaat Pinai yang mengungsi. Dalam suasana ini ada ibu hamil panjat tebing, jatuh dan mati. Lalu dia (SBY) tanya Kapolri (Jendral Timur Pradopo). "Bagaimana itu di Pinai?" "Siap pak. Kami sudah temukan dua senjata dan beberapa peluru. Daerah sudah dikuasai. Siap".Hanya  itu saja yang disampaikan. Pak SBY tidak tanggapi, barangkali dalam  rangka menghemat waktu. mungkin karena sudah kemalaman. Hahahaha.

Pesan Presiden dalam pertemuan itu?
Dia jelaskan pentingnya peran gereja dan agama. Dia bilang kita harus bangun trust. Memang sulit. Macam UP4B, dua hari sebelum kami bertemu pak SBY, di Manokwari ada demonstrasi besar-besaran menolak UP4B. Dia (SBY) bilang UP4B untuk sementara dihentikan dulu sampai ada  pembicaraan lebih lanjut. Mungkin dalam pertemuan berikutnya kami  memberi masukan untuk memperbaiki dokumen UP4B. Kami bilang bagaimana ini Pak Presiden, alam demokrasi tapi Pak Presiden bikin sendiri. Tidak ada  masukan dari orang Papua. Orang Papua juga tidak setuju dengan otonomi  daerah karena hanya untuk meredam Papua merdeka. Dia (SBY) bilang kita harus pikir Indonesia baru. Papua berkeadilan. Harus NKRI.Tapi orang Papua sulit terima, karena pikir mereka kalau kami di dalam NKRI kami habis.

Kenapa?
Karena selama ikut NKRI, kekerasan terus. Semua toko-toko tidak ada orang Papua. Saya jaga toko tidak bisa. Saya pikir ada stigma yang bermain disitu.

Memangnya siapa yang berkuasa di Papua?
Ada kekuatan negara yang menyebar isu Papua Merdeka. Ada banyak gosip.  Ada SMS gelap menyebar rasa takut. Mungkin dibiayai intelijen. Jakarta memutuskan kebijakan di Papua berdasarkan  laporan intelijen jadi tidak rasional. Kami korban.

Lalu bagaimana aktivitas di Papua?
Saya lupa sampaikan ke Pak Presiden supaya militer kasih naik gaji. Mereka merasa tidak dapat uang cukup jadinya harus pakai kekerasan. Jadi negara bertanggungjawab. Tentara banyak di Papua tapi kerja apa. Jadinya menciptakan banyak musuh. Tentara non organik di dalam hutan mau bikin  apa. Tidak ada radio Tidak ada televisi. Harus bikin musuh supaya cepat-cepat pulang.

Sebenarnya tidak ada separatisme?
Kami sebenarnya mau sampaikan ke pak SBY. Separatisme ini engkau yang bikin.  Separatisme ini seperti bayi yang lahir dari kawin paksa. Yang kami maksud adalah tahun 1960-an ada referendum dan Indonesia yang tentukan  siapa yang bisa memilih. Hak orang Papua disangkal mulai disitu. Papua sudah dipaksa masuk Indonesia. Setelah masuk (ke Indonesia) kekerasan terus menerus.  Jakarta yang menabur benih separatisme. Dia juga yang gunakan juga untuk  melegitimasi pendekatan keamanan. Operasi terus. Ini persoalan kami.  Kalau operasi terus, kami tidak ada dong. Kami habis di undang-undang makar.

Bagaimana membedakan orang yang terlibat gerakan separatis dan tidak?
Semua warga Papua dianggap OPM (Organisasi Papua Merdeka)

Dalam pertemuan itu ada solusi yang dicapai?
Kita  diundang bertemu lagi pada minggu ketiga bulan Januari. Malam ini kami  pulang. Kami ketemu masyarakat, semua unsur masyarakat Papua. Ini semacam cek kosong buat kami. Silahkan kamu (masyarakat Papua) pikir.

Ada pembicaraan mengenai Freeport?
Itu tidak kami sebut.

Anda yakin pemerintah akan selesaikan masalah Papua?
Tidak  yakin. Kalau jujur, generasi sekarang kita hidup di kekerasan semacam Ahmadiyah dan orang berpikir kekerasan itu benar. Generasi sekarang  tidak bisa. yang memungkinkan generasi yang masih kecil. Optisme saya pada anak kecil yang masih di taman kanak-kanak. Kalau dapat pendidikan tolerenasi dan keberagaman.

Anda tidak takut diancam atau dibunuh?
Tidak. Saya kubur banyak orang mati.

Conflict in Papua kills 100 thousand people

Indonesia Milerism in West Papua
The victim does not include non-Papuan people who also become victims of the conflict which has lasted for 33 years ..
Conflict in Papua, which occurred since 1977 has claimed the lives of up to 100 thousand people. The number of victims was referring to the data released by Amnesty International recently. According to researchers Parahyangan Centre for International Studies (Pacis), I Nyoman Sudira, the conflict in Papua, is much more complex than has ever happened in Aceh.
 
"Of course the official estimates of government is much smaller. Conflict with so many victims are very painful and expensive. Intimidation with human rights violations, it will definitely be in line with the occurrence of conflict, "he said in a National Workshop: Reconstructing Peace in Papua Way Through Dialogue today in Jakarta
 
According to Nyoman, the number of victims is certainly not counting non-Papuan people who also become victims of Papuan conflict with the central government tersetbu. Therefore, the lecturer said Parahyangan University, Bandung, the dialogue should be intensified. Peace in Papua, will very likely be realized, if the note some reservations.
 
Terms include a dialogue is done by including a representative who has the legitimacy to all the people of Papua. "As well as focusing on all important issues, including truth, justice, security, reconciliation, and the division of Papua regional growth," he said.

Other requirements, continued Nyoman, is fully implementing the special autonomy and local governments build and improve transparency in order to fund the birth of Autonomy truly felt the people of Papua. "Juka order and reform the security forces, so that no more violations of human rights," he said.
 
Nyoman still add a requirement to create peace in Papua is the education and training of public administration, regional planning, resource utilization nasionaldan matters relating to Papua. Besides increasing the role of civil society in monitoring, investigating and exposing human rights abuses, corruption and all forms of abuse of authority.

Member of House Commission X from Papua, Diaz admitted Gwijangge implementation of special autonomy is not maximized. The fact that both the level of violence in Papua was conducted among residents or citizens versus apparatus is still high. The presence of multinational companies, also did not prosper the ground Papua. "But it was a cause environmental disasters and help create intenal conflict in local communities," said Diaz.

So is the military presence, still continues to give birth in violation of human rights such as the shooting apparatus of Naphtali Kwan, pastor Christian Fellowship Bible Church of Indonesia branch in the district Kebar Manokwari, Manokwari. "As well as shooting of Septinus Kwan, poor farmer on September 15, 2010 night," he said.
 
Diaz cites records in Papua bahwakekerasan NGO Elsam has happened since 1977. The presence of a number of multinational companies suspected as the culprit of violence. According to Diaz, ehadiran U.S. giant mining company in Papua invites serious problems. "The violence has continued until now," he said.
 
Hope is empty

Diaz said the Papuan people, actually have high expectations on the implementation of special autonomy. But along the way, the public never knew, how much nominal money Otsus up to the grassroots. "People are still lagging behind. The basic service is still far from expectations, "she said.
 
Diaz was referring to the cholera outbreak that infected Geselama, Nduga District, Papua Seotember 2010 ago. Outbreak killed 40 people. Once there was an attack of diarrhea outbreaks Dogiyai citizen in 2009. For three months the plague struck, 200 lives lost because of the outbreak.
 
Education sector is also pathetic because of illiteracy is very high in Papua. Though the availability of teachers is very minimal. In the economic field, the public is also still having trouble accessing the government-provided economic facilities, such as place of trade, credit, or loans. "Although there are many multinational companies in Papua, being far from complete, particularly in employment," he said.
Writers: Good Supriyatno

Kamis, 15 Desember 2011

Penembakan, pembakaran dan serangan helikopter di desa terus berlanjut di Paniai

Laporan Khusus dan Update
oleh Nick Chesterfield di westpapuamedia.info

Situasi mengerikan dari teror dan intimidasi muncul dari warga desa dan pekerja HAM di distrik terpencil di Paniai Papua Barat semalam, sebagai sebuah serangan militer Indonesia besar-besaran terus tejadi terhadap   Tentara Nasional Pembebasan TPN/OPM (gerilyawan) .

Hak asasi manusia lokal dan sumber-sumber gereja melaporkan bahwa warga desa biasa menjadi sasaran yang signifikan pelanggaran HAM oleh gabungan polisi Indonesia dan kekuatan militer, dan menyerukan intervensi internasional segera di Papua Barat untuk menghentikan kekerasan.

Lebih dari empat batalyon tentara Indonesia (TNI) dengan kekuatan penuh  dari Batalyon Kostrad 753 pasukan komando, Brimob paramiliter polisi, dan elit kontra-terorisme pasukan dari Detasemen 88 - semua unit dipersenjatai, dilatih, dan dipasok oleh Pemerintah Australia -
dikerahkan dalam serangan untuk mengepung markas besar Paniai Papua Merdeka Tentara Pembebasan Nasional (TPN-OPM), di bawah komando Jenderal Jhon Yogi.

TPN / OPM Markas markas Eduda terbakar setelah serangan TNI,, 13/12/2011 Paniai, Papua

Paniai desa terbakar setelah serangan TNI,, 13/12/2011 Paniai, Papua

TPN / OPM Markas markas Eduda terbakar setelah serangan TNI,, 13/12/2011 Paniai, Papua

Pembakaran desa hukuman dan serangan terus di desa-desa terpencil di sekitar markas TPN / OPM dari Markas Eduda. Pada saat penulisan, tujuh puluh lima rumah, enam sekolah, dan sekitar 25 bangunan lainnya telah dicatat sebagai dibakar dalam total 27 desa oleh pasukan keamanan Indonesia.

Delapan belas orang sekarang dinyatakan tewas - lima belas dari luka tembak, dan tiga  pengungsi yang diduga meninggal karena kelaparan dalam apa yang disebut pusat-pusat perawatan di bawah kendali pasukan keamanan. Nama-nama para korban dari serangan di Eduda adalah:

Warga yang Tewas:

    Tapupai Gobay (30) ditembak di dada.
    Tawe Bunai Awe (30) kepala hancur *.
    Uwi Gobay (35) ditembak di perut.
    Wate Nawipa (25) ditembak di belakang.
    Martinus Gobay (29) kepala hancur *.
    Owdei Yeimo (35) ditembak di belakang.
    Ruben Gobay (25) ditembak di perut.
    Paulus Gobay (42) ditembak di perut.
    Bernadus Yogi (23) ditembak di dada.
    Demianus Yogi (15) ditembak di belakang.
    Simon Kogoya (40) ditembak di perut.
    Simon Yogi (30) ditembak di kepala.
    Lukas Kudiai (25) ditembak di dada.
    Alfius Magai (20) kepala hancur *

Catatan: mereka dengan "kepala hancur" diduga menderita luka fatal tersebut melalui pukulan-pukulan berat dengan popor senapan dan "stamping boot", menurut sumber-sumber

Terluka:

    Paskah Kudiai (15) terkena peluru di kepala.
    Martinus Kudiai (30) ditembak di tangan.
    David Mote (40) tertembak di paha.
    Amandus Kudiai (43) ditembak di lengan.
    Yohan Yogi (21) ditembak di kaki.
    Mon Yogi (20) ditembak di belakang.

Laporan yang dapat dipercaya juga menegaskan bahwa dua sipil "perusahaan" helikopter diberikan kepada pasukan keamanan, dan diduga digunakan untuk menjatuhkan granat hidup dan senjata kimia penyebaran ke desa-desa sekitarnya Eduda, dan memberondong desa dengan penembak jitu dan tembakan senapan mesin pada tanggal 13, 14 , dan 15. Beberapa saksi independen mengklaim Papua Barat Media, dan dilaporkan di tempat lain di media sosial, bahwa helikopter sangat terkenal di daerah untuk lokal non-operasi militer.

"Perusahaan" Helikopter diduga oleh sumber-sumber lokal untuk digunakan di Indonesia ofensif pasukan keamanan di Paniai. Klaim sumber foto yang diambil pada 13 Des helikopter mengitari aas kelompok. Foto ini tidak diverifikasi secara independen, namun analisis menunjukkan gambar konsisten dengan deskripsi saksi independen, dan kondisi medan dan cuaca konsisten dengan foto lain yang dipasok. (sumber Media Papua Barat )

Saksi diwawancarai oleh pekerja hak asasi manusia lokal telah mengklaim bahwa pada 0800 waktu setempat pada 13 Desember, helikopter Perusahaan meluncurkan CS salvos gas ke desa Markas Eduda, markas TPN, untuk flush out desa dan gerilyawan. Menurut sebuah akun terpisah yang dikirim ke Papua Barat Media oleh TPN / OPM sumber, helikopter mendarat dan tentara menduduki Eduda untuk sebagian besar hari, dengan gerilyawan mengambil untuk hutan di mundur. Sebagai pembalasan, TPN / OPM pejuang ditembak di helikopter, gagal, dan beberapa jam pertempuran yang intens terjadi yang dihentikan saat pejuang Papua Merdeka menyaksikan rumah-rumah desa dan sekolah-sekolah yang dibakar secara bersamaan di daerah sekitarnya. Menurut sumber TPN / OPM, desa-desa dibakar sekitar Eduda dan suara tembakan terdengar selama sisa hari itu dan sepanjang malam. Papua Merdeka pejuang harus mundur ke hutan dan sedang menunggu perintah untuk langkah berikutnya mereka, menurut sumber.

Penduduk desa dari seluruh Paniai terus digusur oleh operasi, terpaksa melarikan diri secara massal ke daerah sekitar Enaratoli, di seberang Danau Paniai. Sebagaimana dilaporkan pada tanggal 14 oleh Media Papua Barat, lebih dari 131 desa telah ditinggalkan menyebabkan setidaknya 10.800 warga Paniai melarikan diri dari operasi militer.

Sumber-sumber Gereja telah lebih lanjut melaporkan bahwa para pengungsi mencari perlindungan di daerah Enaratoli yang abadi kondisi memburuk tanpa bantuan apapun. Bersenjata Indonesia telah membentuk pasukan keamanan polisi diawasi aman "Pusat Perawatan" di Uwatawogi Hall di Enaratoli, dan telah dijejalkan ke dalamnya 1715 orang dari Kopabutu dan desa Dagouto. Menurut aktivis lokal dalam laporan ke Papua Barat Media, penduduk lokal sedang terancam dengan penahanan dan pemukulan jika mereka mencoba untuk memberikan tahanan dengan bantuan kemanusiaan yang memadai. Polisi juga mencegah orang-orang yang diadakan di aula meninggalkan untuk kebutuhan makanan atau sanitasi, menurut sumber. Pada saat penulisan, tiga orang tewas di "Pusat perawatan" sejak Desember 9 dari Diare. Mereka adalah:

    OTOLINCEA DEGEI usia 2 tahun, meninggal 08:20, 9/12/11;
    YULIMINA GOBAI Umur 4, meninggal 03:00, 14/12/2011;
    ANNA DEGEI Usia 47, meninggal 1030pm, 14/12/2011.

Tidak ada bantuan pangan, sanitasi atau medis telah dibuat tersedia oleh lembaga pemerintah untuk memberikan bantuan ke sejumlah besar orang pengungsi.

Lebih dari 9000 pengungsi yang baik bersembunyi di hutan atau mencari perlindungan dengan keluarga mereka sendiri diperpanjang di daerah daerah. Mereka dengan keluarga mereka dianggap aman, namun kebutuhan mereka dan kondisi sulit untuk memantau dan menilai diberikan isolasi mereka

Guru lokal juga telah melakukan kontak dengan stringer Papua Barat Media. Sejak 27 November 2011, mengajar dan kegiatan belajar telah ditangguhkan tanpa batas di semua sekolah-sekolah desa sekitarnya Markas Eduda. Sekolah seperti SD YPPK di Badao Dei, Yimouto, dan desa Obayauweta telah ditangguhkan, seperti yang SD, SMP, "toko" (perdagangan sekolah) dan Instruksi Dasar di kota-kota Dagouto, dan Uwani. Para siswa sekolah ini telah dievakuasi dengan orang tua mereka.

Seorang guru di SMP YPPGI Uwani mengatakan sementara represi terjadi di desa-desa bahwa: "Untuk sementara kami telah menutup sekolah-sekolah, karena anak-anak sekolah ketakutan dan melarikan diri dengan orang tua mereka. Selain itu, kita sebagai guru tidak merasa aman untuk membuat kegiatan belajar mengajar. Semua guru telah meninggalkan kabupaten Paniai, dan Nabire. "

Pada tanggal 15 Desember, tentara / polisi batalyon telah kembali ke desa Uwamani, Dei dan Obaipugaida untuk mempersiapkan serangan utama untuk fase baru kampanye. Hal ini diyakini kuat oleh aktivis lokal bahwa "perusahaan" helikopter masih akan digunakan di samping laporan yang belum dikonfirmasi telah diterima oleh Papua Barat Mediathat arsenal Indonesia terhadap penduduk sipil di Paniai termasuk satu Mil Mi-24 tempur SuperHind, salah satu dari dua biasanya ditempatkan dekat Jayapura.

650 pasukan dari Batalyon Kostrad 142 yang dikerahkan dari Palembang untuk Paniai di Papua, naik kapal pasukan mereka pada 9 Desember 2011

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) aktivis di Paniai dilaporkan pada 15 Desember bahwa setelah serangan terhadap desa-desa, pasukan militer Indonesia sekarang menangkap, mengintimidasi dan melakukan interogasi pada semua warga di distrik Toko, Kopabaida dan Uwamani. Menurut KNPB, polisi Indonesia telah menangkap puluhan anak-anak dan orang dewasa, dan melakukan interogasi brutal dan fisik dan pertanyaan dari 11:00 sampai akhir hari

Serangan itu berlangsung sepanjang Desember 15, dengan pasukan keamanan Indonesia menembak di banyak lokasi sekitar Eduda. Semalam, 0200-0600, tembakan berat meletus di lembah Sungai Degeuwo. Hak asasi manusia sumber di desa-desa dan juga dengan pengungsi menyampaikan laporan bahwa orang ditembak oleh penembak jitu jika mereka bergerak di mana saja setelah gelap, bahkan untuk mengumpulkan, makanan, air, atau untuk mengamankan babi. Hal ini tidak diketahui berapa banyak orang tewas pada malam hari, namun sumber lokal mengharapkan tol untuk bangkit.

Menurut sebuah laporan yang diberikan malam oleh pilot lokal, pasukan keamanan Indonesia menembak sebelas kali ke rumah-rumah di desa Gekoo, dimana pelayat berkumpul untuk pemakaman seorang pria lokal yang meninggal karena sakit. Penduduk desa menuduh bahwa beberapa peluru bahkan mendarat di api memasak mereka, meledak pot makanan mereka.

Saksi melaporkan serangkaian serangan helikopter dari 11:00 pada tanggal 15 Desember, dengan helikopter yang digunakan untuk senapan mesin desa Obaiyepa dan Uwaman. Pekerja hak asasi manusia telah dapat mengakses daerah-daerah untuk melihat apakah ada korban dipertahankan.

Desa terbakar teridentifikasi 13, Desember 2011, dekat Eduda, Paniai

Helikopter mendarat di tanah upacara Eduda 11 kali 11:00-13:00 jam, dan warga menduga logistik, amunisi dan pasukan tambahan sedang digunakan.

Daerah sekitar Paniai telah dikenakan panjang untuk konflik dan berat serangan militer Indonesia terhadap penduduk sipil, namun dalam beberapa bulan terakhir polisi Indonesia telah mengambil alih operasi hukuman terhadap orang Papua Barat menyimpan pro-kemerdekaan simpati. Konflik baru-baru ini meningkat atas hak tanah dan kontrol operasi pertambangan emas lokal, dengan Brimob sangat terlibat dalam usaha patungan baik keamanan, dan keterlibatan langsung dalam bisnis emas dan kegiatan terkait. Pertambangan emas Australia Emas Paniai perusahaan juga beroperasi di wilayah Sungai Degeuwo.

Tentara Indonesia di Paniai, Desember 2011

Warga sipil di kaki bukit di panik dan menghidupkan kembali trauma operasi masa lalu, menurut laporan dari pilot lokal. "Mereka khawatir lagi emosi akan terbuka di Wegeuto dari Memoria Passionis 1982 perang (memori penderitaan) dan lagi ketika Angkatan Darat melakukan operasi militer yang sedang berlangsung (DOM - Daerah Operasi Militer) 1989-1993 di daerah Badauwo, dekat Eduda," kata sumber tersebut melalui email. Dia menjelaskan bahwa selama periode DOM terakhir tentara terdakwa dan stigma warga sipil sebagai anggota TPN-OPM, dan kemudian disiksa ribuan desa. HAM sumber pada saat penduduk desa sedang didokumentasikan waterboarded / disiksa selama 24 jam; rumah warga dibakar, anak perempuan diperkosa dan wanita menikah, pembunuhan di luar hukum, membakar jari, kumis dan jenggot, menarik kuku dan quartering desa dengan kendaraan lapis baja. Tentara juga dilakukan membakar dan menghancurkan kebun makanan, membunuh ternak dan hewan peliharaan, dan persediaan air fouling.

Warga khawatir bahwa perilaku marah dan emosional saat ini dengan TNI-polisi terhadap TPN / OPM akan dibuang pada warga sipil yang tinggal di lereng dari Wegeuto dusun terutama, berbatasan langsung dengan Markas Eduda. Dalam pesan dikirim ke Papua Barat Media penduduk lokal telah memohon untuk Advokasi Internasional untuk mendapatkan Militer dan Polisi segera ditarik dari Eduda dan Paniai pada umumnya.

Trauma banyak yang dirasakan oleh warga sipil di Paniai sebagai akibat dari serangan. Sonny Dogopia jurnalis Independen, dari Suara Papua, mewawancarai masyarakat setempat melalui telepon pada 14 Desember. Magda Tekege, seorang ibu rumah tangga dari Kabupaten Deiyai, kata masyarakat sipil sangat takut dan tertekan. "Di sini juga TNI / Polisi memukul kita dan menempatkan kita di bawah pengawasan, dan merupakan salah satu status siaga penuh," jelasnya. Deiyai ??Magda disebut situasi yang tidak biasa, "ini mungkin disebabkan oleh invasi oleh TNI / Polri di Paniai, oleh karena itu Deiyai ??juga menderita efek."

Laporan dari Selasa menggambarkan latihan yang dilatih Australia, didanai dan dipersenjatai satuan Gegana Brimob, saat tiba di Enaratoli mulai mengambil alih jalan-jalan segera, menyebabkan kehidupan kota yang normal untuk segera terganggu karena masyarakat setempat mengosongkan jalan untuk bersembunyi.

Pada tanggal 6 Desember, Hak asasi manusia, sumber-sumber gereja dan aktivis lokal telah independen mengklaim bahwa 542 orang telah dievakuasi secara paksa oleh pasukan dari Brimob Gegana Unit Khusus "Counter" polisi teroris. Desa Dagouto dan Kopabatu dan dusun sekitarnya di kabupaten Paniai Dagoutu diusir setelah unit Gegana memutuskan ingin memperluas fasilitas markas baru untuk menyebarkan dalam serangan terhadap Jhon Yogi, pemimpin lokal unit gerilya bersenjata Pembebasan Nasional Angkatan Darat (TPN-OPM).

Unit Gegana, elit khusus anti-teroris unit polisi Indonesia telah dikerahkan sangat seluruh Papua untuk tindakan keras pada aktivis pro-kemerdekaan terlibat dalam perlawanan tanpa kekerasan, serta untuk menghilangkan kelompok perjuangan bersenjata. Gegana adalah salah satu dari beberapa unit polisi elit Indonesia yang menerima senjata, pendanaan, dan pelatihan dari Pemerintah Australia, dan menyalahkan pada tanggal 3 untuk membakar sebuah gereja dan sekolah di Wandenggobak, dataran tinggi di Kabupaten Puncak Jaya.

Seperti artikel ini naik cetak, update diterima dari pekerja hak asasi manusia di Paniai terpercaya. "Pada 2300 di malam hari, Brimob Kelapa 2 Batalyon membakar bangunan aset pariwisata Kabupaten Paniai ', yang terletak di Bukit Dupia, di lokasi yang sama sebagai tempat tinggal Bupati. Malam ini di Paniai situasinya sangat tegang ". Pejuang TPN dilaporkan telah kembali api di serangan dan pertempuran sengit masih terjadi,
Peristiwa dan Situasi ini terus berlangsung dan berkembang dan Papua Barat Media akan terus memonitor .

Harap segera membantu kami melanjutkan pekerjaan ini. @ Westpapuamedia AGLOCO bekerja tanpa lelah untuk mengakhiri impunitas di Papua dengan jurnalisme yang efektif.
Published Global version: west papua media

Selasa, 15 November 2011

Brimob Papua Kembali Menewaskan 8 Warga Sipil

"Please advocacy and independent investigation access is limited and difficult to enter the scene"


JUBI --- Warga Sipil Papua kembali ditembak oleh Anggota Brimob di Degeuwo, lokasi tambang  emas secara  tradisional, Kabupaten Paniai, Papua.  “Kejadian ini terjadi tanggal 13 November hari minggu,” ungkap Servius  Kedepa, seorang aktivis lembag swadaya masyarakat (LSM) lokal, Selasa (15/11). 

Jelasnya, peristiwa tersebut terjadi sekitar jam 10.00pagi waktu setempat, pada hari Minggu (13/11) lalu. “Mereka yang ditembak dan tewas ditempat adalah ada 8 orang. Yaitu Matias Tenouye (30 thn), peluruh menembus paha kanan. Simon Adii ( 35 thn) peluruh menembus rusuk dan tali perut keluar. Petrus Gobay (40 thn), peluruh masuk dada dan tembus ke belakang. Yoel Ogetay (30 thn), otak kecil keluar di bagian depan. Benyamin Gobay(25 thn), kena bagian dada dan peluru keluar di bagian belakang. Marius Maday (35 thn), peluruh mengenai dada dan keluar di belakang. Matias Anoka (40thn), peluruh kena dada dan keluar di belakang. Yus Pigome (50 thn), peluruh mengenai dada dan keluar di belakang,” tulis Kedepa,
dalam pesan singkat kepada www.tabloidjubi.com, Selasa.


Dia mengatakan, para korban ditembak dengan alasan tidak jelas. “Alasan aparat Brimob tidak jelas, tapi mereka (para korban-red) ditembak ketika sedang mendulang emas di Kali Degeuwo,” ucapnya. Akibat penembakan Aparat militer terhadap warga sipil tersebut, warga sekitarnnya telah mengungsi ke lokasi aman dan nayaman menurut mereka.
Sehari sebelumnya, Sabtu (12/11), di wilayah Paniai telah terjadi penambahan pasukan militerTNI/POLRI dari luar Kabupaten, yakni dari Timika, Kabupaten Mimika.  Jumlah pasukan yang telah ditambahkan tersebut, 17 atau 18 kali penerbangan pesawat swasta, berjenis twin otter, yakni milik Maskapai Penerbangan Trigana Air. (JUBI/Almer Pits)