Tampilkan postingan dengan label Campanye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campanye. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2012

HAM di Papua Belum di Prioritaskan

Kristina Neubaeur NETWORK ON WEST PAPUA (MUSA/JUBI)
JUBI --- Faith Based Network on West Papua (FBN) megaku hingga kini perlindungan hak asasi manusia ditanah Papua belum menjadi prioritas bagi Pemerintah Indonesia. Perlindungan HAM di Papua juga belum di jamin
 
Hal ini disampaikan Kristina Neubaeur dari Faith Based Network on West Papua (FBN) saat membacakan laporan peluncuran international ‘Hak Asasi Manusia’ di Papua tahun 2010-2011 di Aula P3W Padang Bulan di Abepura, Jayapura, Papua, Sabtu (21/4). Kristina mengaku, Faith Based Network on West Papua (FBN), Franciscan International, Papua Land of Peace dan Asian Human Right Commission sudah meluncurkan laporan tersebut dalam bahasa inggris pada 2 November 2011 di Genewa,Swiss Judul asli dalam laporan berbahasa inggris adalah Untuk peluncuran laporan HAM internasional di Genewa, Kedutaan Besar Republik Indonesia di PBB juga di undang hadir.


Di dalam sebuah dialog dengan FBN dan LSM internasional yang lain, wakil dari pemerintah Indonesia mengatakan sebagai respon terhadap laporan HAM internasional bahwa ‘perlindungan HAM sudah menjadi salah satu prioritas dari Pemerintah Indonesia.’ “Kami dari FBN sangat tidak setuju dengan statement tersebut, karena perlindungan HAM belum menjadi prioritas Pemerintah Indonesia di tanah Papua,” kata Kristina. 

Lanjut dia, perlindungan HAM di Papua juga belum di jamin. Bantahan ini dapat di buktikan dengan laporan terbaru dari FBN. Dari data yang di peroleh, laporan HAM 2010/2011 mendokumentasikan pelangaran HAM terjadi di berbagai aspek. Masing-masing aspek politik, aspek ekonomi, dan budaya terhadap masyarakat asli Papua sepanjang 2010-2011. Namun, FBN sangat menyesal karena dalam waktu persiapan laporan tersebut, terjadi lagi pelanggaran HAM berat terhadap masyarakat asli Papua yakni pada 19 Oktober 2011 setelah Kongres Rakyat Papua III. Pelanggaran HAM di tanggal itu terjadi saat penyusunan laporan HAM-FBN sudah hampir selesai. 

Dengan demikian, pelanggaran-pelanggaran dalam kongres tidak masuk dalam laporan FBN. Tetapi, semua pelanggaran yang terjadi pada tanggal 19 Oktober sudah di laporkan dalam beberapa surat dari FBN kepada pihak-pihak tertentu, termasuk kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Laporan di layangkan ke SBY pada tanggal 10 Desember 2011. 

Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua di Jayapura, Ruben Magai dalam pemaparan materinya mengatakan, hingga kini setiap laporan tentang pelanggaran HAM dan masalah sosial lainnya yang disusun oleh individu, lembaga, gereja maupun organisasi lokal lainnya di Papua, pemerintah selalu menilai tindakan itu sebagai perlawanan sebagai negara. Tak hanya tuduhan itu, mereka yang menyusun laporan tersebut distigma sebagai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). “Sampai sekarang, mereka yang sementara bekerja untuk menyusun laporan tentang hak asasi manusia dan pelanggaran HAM serta masalah sosial lainnya, selalu saja dinilai sebagai separatis dan OPM. Ini yang menggagalkan setiap laporan yang dibuat,” ujar Ruben. (Jubi/Musa Abubar)


NETWORK ON WEST PAPUA (MUSA/JUBI) ‘Human Right in Papua 2010/2011

Senin, 16 April 2012

Isu Papua Merdeka Jadi Isu Pemilu Papua Nugini

PORT MORESBY, - Papua Nugini dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 23 Juni mendatang. Pemilu ini diharapkan bisa mengakhiri krisis politik yang berlangsung akhir 2011. Menariknya, salah satu kandidat perdana menteri mengangkat gerakan separatis di Papua di Indonesia sebagai isu kampanyenya. (sumber: kompas)

Kandidat yang dimaksud adalah Powes Parkop, yang merupakan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Port Moresby. Parkop sering mengusung isu dalam kampanyenya. Dia bahkan aktif menghadiri berbagai pertemuan internasional soal kemerdekaan Papua Barat.


Dalam tulisannya di Kompasiana, Hamid Ramli, seorang aktivis lingkungan di Papua, melaporkan, dalam deklarasi tim sukses untuk mendukung langkahnya ke kursi PM (Prime Minister) PNG 2012, di Five Mile Park, Port Moresby, pada 15 Juli 2010, Parkop disambut ribuan pengungsi asal Papua yang mendandani anak-anak mereka untuk menyanyi dan menari sebagai bentuk dukungan kepada Powes.

Kompasianer Hamid Ramli menulis, Parkop berjanji mendukung perjuangan Free West Papua. Dalam kampanye untuk pemilihan Perdana Menteri di PNG tahun 2012 nanti, ia akan lebih berfokus pada masalah-masalah yang dihadapi bangsa Melanesia (termasuk di Papua Barat). Ia meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung semua perjuangan OPM yang ada di kepulauan Pasifik.

Gerakan Parkop untuk mendukung kemerdekaan Papua Barat tidak berhenti sampai di situ. Dia selalu menghadiri berbagai forum terkait isu tersebut. Salah satunya pada Agustus 2011, Powes menghadiri konferensi Road to Freedom soal Papua Merdeka yang digelar Benny Wenda dkk di Oxford, Inggris.

Pada kesempatan itu, Parkop juga memberi sambutan, seperti dikutip situs web Radio New Zealand International. Dalam sambutannya, isu keamanan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua menjadi faktor penyebab ketidakstabilan wilayah di sekitarnya, termasuk PNG. Padahal, katanya, kawasan itu bisa menjadi damai dan makmur.

"Papua Parat merupakan hambatan bagi potensi (perdamaian dan kemakmuran). Dan bagi saya, sebagai pemimpin nasional di PNG, itulah yang ingin saya tegaskan pada Indonesia, bahwa Anda, dengan mencengkeram Papua Barat, berarti menghalangi dan menghentikan potensi bahwa kami juga bisa menjadi pusat sosial ekonomi dunia," kata Parkop seperti dikutip Radio New Zealand International pada 1 Agustus 2011.

Powes juga hadir di Canberra, Australia, pada 28 Pebruari 2012 dalam acara peluncuran International Parliamentarians for West Papua (IPWP) untuk mendukung gerekan separatis Papua.

Minggu, 11 Maret 2012

Kompanye Papua Merdeka di Festival Womadelaide 2012

Adelaide, Laporan-KNPB. Festival Womadelaide di Adelaide, Australia kemarin (11/03) dimeriahkan dengan kompanye Papua Merdeka. Dalam konser yang dihadiri ribuan orang, bintang kejora dibentangkan dan yel-yel Papua Merdeka dilakukan dalam konser salah satu group musisi terkenal di Australia, Blue King Brown.
Konser yang dimulai pada pukul 7.30 tadi malam, Rony Kareni, seorang aktivis Papua Merdeka yang hadir membawakan tarian Papua dalam konser tersebut menyampaikan ekpresi perjuangan yang disambut tepuk tangan secara meriah oleh ribuan penonton.
Sementara itu, Festival Womadelaide yang dihadiri oleh ribuan orang dari mancanegara maupun Australia ini tak ketinggalan mengunjungi pameran Free West Papua di stand khusus yang dikoordinir oleh Austrlia West Papua Asocciation (AWPA).

Cory Kayame, salah satu mahasiswi Papua di Adelaide yang hadir dalam konser ini menyatakan sangat terharu melihat kompanye perjuangan Papua bisa dilakukan didepan ribuan penonton yang memadati lapangan Botanical Garden.
“Saya sangat terharu karena disela-sela Festival Womad ini, group musik Blue King Brown dan panitia Festival bisa ikut mengkompanyekan perjuangan dan penderitaan orang Papua”, katanya disela-sela konser.
Berikut foto-foto dan videonya: