Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Safiudin (Peneliti STAIN Al-Fatah): Perkeruh Situasi Kerukunan Agama di Papua

Welesi wamena papua
Jayapura, (Suara baptis papua), Menurut  Safiudin dan para peneliti STAIN Al-Fatah yang di publikasikan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, (10/10/2011) lalu, bahwa Papua adalah milik tanah islam adalah peneliti sepihak dan tanpa dasar.
Lanjutnya, kata Safiudin, karena saat ini mereka dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa kuantitas penduduk pendatang muslim semakin lama makin bertambah.

Ade Yamin, yang juga peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, dalam makalahnya berjudul "Dani Muslim di Tengah Benturan Peradaban", membantah anggapan itu. Menurutnya orang yang pertama membawa Islam ke Papua adalah Syekh Abdurrauf yang  merupakan putra ke-27 dari Waliyullah Syekh Abdul Qadir Jaelani dari kerajaan Samudra Pasai, yang telah mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua) sekitar abad XIII, tepatnya 17 Juli 1224.

Juga klaim bahwa, masuknya zending Kristen C.W. Ottow dan G.J. Geissler juga atas jasa umat Islam. "Kedua orang itu yang mengantarkan ke Papua umat Islam. Ini juga harus diketahui", kata Ketua AFKN Ustadz Fadzlan Garamatan yang di lansir Berita Suara-islam.com

Masuknya  Kristen Protestan pertama kali di daerah Manokwari yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana terjadi pada tahun 1855.

Papua mempunyai sejarah peradaban yang panjang dari sebelum agama masuk ke papua. sehingga ide islamisasi dan penyebaran agama tertentu terhadap kaum agama minoritas adalah melanggar hak kejakinan dan tidak bisa di benarkan.

Saat ini kenyataan riil membuktikan bahwa papua sedang terjadi penyebaran agama tertentu dengan kekuatan Negara. karena para migram kaum islam masuk ke papua tidak sedikit jumlahnya. ini di buktikan dengan banyak bangunan mesjid dan kegiatan islamisasi yang di pasilitasi oleh para pihak berkepentingan.

Para umat Kristen di papua tidak bisa melihat hal ini terus terjadi, mestinya harus melakukan berbagai tindakan agar jangan terjadi konflik  agama di papua.

Apa lagi papua berlaku daerah otonomi khusus sehingga, penyebaran agama tertentu harusnya di batasi melalui perdasus dan perdasi dan ini tanggung jawab MRP dan DPR.

Contonya saja, di aceh, tanah jawa dll, Umat Kristen sulit membangun Gereja, Gerejapun di bakar dan di bongkar dengan alasan Ijin bangunan, padahal Indonesia berlaku 5 agama, hal ini tidak bisa biarkan, para pejabat Kristen harus mengabil sikap tegas dan jelas atas islamisasi papua.

Sebelumnya juga, dengan alasan separatis Forum Umat Islam (FUI) meyeruhkan Jihad di papua, Seruan jihad ini di lontarkan oleh Mantan Ketua YLBHI, Munarman, di Kantor Kemenhan, Jakarta, Jumat (23/12/2011). dilihat dari misi FUI sesungguhnya bagian dari islamisasi di papua, alasa separatis hanyalah slogan belaka.

Umat Islam dari berbagai penjuru tanah air akan disiapkan untuk berhijrah dan berjihad ke Papua dan Maulu untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan wilayah NKRI.

Dengan pernyataan ini, kami menghimbau agar para pemuda gereja papua jelih melihat ini, hal ini tidak main-main, kenyataan demikian sehingga tidak tertutup kemungkinan papua akan terjadi islamisasi, apalagi mereka di dukung oleh kekuatan Negara.
Harapan ini tidak terjadi, karena papua adalah tanah damai dan tanah yang di berkati Tuhan.

Editor: turius wenda (FGPBP)

STAIN Al-Fatah, Safiudin:Benarkah Klaim Papua 'Tanah yang Diberkati?'

Islam Wamena

Jakarta (SI ONLINE) - Penolakan terhadap isu Islamisasi Papua oleh penduduk Kristen karena bertentangan dengan cita-cita mereka yang mengkalim Papua sebagai 'tanah yang diberkati'. Slogan Papua sebagai tanah yang diberkati merupakan simbol bahwa tanah Papua merupakan tanah milik orang-orang kristen baik Protestan maupun Katolik.

"Gereja Pengharapan Jayapura membentangkan spanduk dengan slogan 'Tanah Papua Milik Yesus Kristus'", tulis peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, Safiudin, dalam makalah ilmiahnya yang dipublikasikan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, (10/10/2011) lalu.

Berbagai tindakan masyarakat Papua yang menolak Islam dengan berbagai simbol yang dimiliki, dan mengklaim Papua sebagai 'tanah yang diberkati', kata Safiudin, karena saat ini mereka dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa kuantitas penduduk pendatang muslim semakin lama makin bertambah.

Sementara umat Islam menganggap bahwa tanah Papua bukanlah milik orang Kristen, karena Islam lebih dahulu masuk ke Papua dari pada Kristen. Jadi, benarkah klaim bahwa tanah Papua adalah 'tanah yang diberkati?'.

Ade Yamin, yang juga peneliti STAIN Al-Fatah, Jayapura, dalam makalahnya berjudul "Dani Muslim di Tengah Benturan Peradaban", membantah anggapan itu. Menurutnya orang yang pertama membawa Islam ke Papua adalah Syekh Abdurrauf yang  merupakan putra ke-27 dari Waliyullah Syekh Abdul Qadir Jaelani dari kerajaan Samudra Pasai, yang telah mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua) sekitar abad XIII, tepatnya 17 Juli 1224.

Artinya, jika merujuk pada pendapat ini, Islam telah masuk ke tanah Papua jauh lima abad sebelum Kristen masuk. Sebab masuknya  Kristen Protestan pertama kali di daerah Manokwari yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana terjadi pada tahun 1855.

Menurut penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)”, Ali Atwa, masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni Kerajaan Bacan.

Bahkan, lanjut Ali Atwa, keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam.

"Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme", tulisnya.

Ali lantas mengutip tulisan Thomas Arnold, seorang orientalis berkebangsaan Inggris, yang memberi catatan kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah diIslamkan oleh kaum pendatang dari Maluku"

Tentang masuk dan berkembangnya syi'ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat [mungkin semenanjung Onin] oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian..."

Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari  masuknya Protestan. Baik memakai pendapat pertama yang menyatakan Islam masuk sejak abad XIII maupun pendapat kedua Islam masuk Papua sejak abad XVI, keduanya tetap lebih dahulu dibandingkan dengan masuknya Kristen.

Bahkan, masuknya zending Kristen C.W. Ottow dan G.J. Geissler juga atas jasa umat Islam. "Kedua orang itu yang mengantarkan ke Papua umat Islam. Ini juga harus diketahui", kata Ketua AFKN Ustadz Fadzlan Garamatan.

Jika demikian halnya, lantas apa dasar dan alasan untuk mengklaim bahwa Papua adalah 'tanah yang diberkati?'. 

Sebelumnya, Forum Umat Islam (FUI) Siapa Berjihad Di Papua

Forum Umat Islam (FUI) dalam pernyataan yang disampaikan kepada Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jumat (23/11/2011) menyatakan akan menyerukan kepada seluruh laskar Islam untuk berjihad mempertahankan bumi Islam, Papua (Nuu Waar). Pernyataan itu keluar karena  sampai sekarang negara dinilai tidak berani menggunakan hard power untuk menumpas gerakan separatis, baik Republik Maluku Selatan (RMS) maupun Organisasi Papua Merdeka (OPM). 

" Status perang melawan para pembangkang/pengacau keamanan (Quththa’ at-Thariq au al-Hirabah) itu juga termasuk jihad. Pasukannya disebut mujahidin dan jika tewas dalam peperangan mereka disebut syahid (syuhada). Apalagi jika para pembangkang itu adalah orang kafir, maka status jihadnya adalah memerangi kaum kafir untuk menjunjung tinggi kalimat Allah (li ila’i kalimatilLah). "


 Statement ini mendapat rekasi keras oleh Element Pemuda Kristen Papua

 Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Buctar Tabuni, seperti diberitakan Suara Baptis Papua (SBP), menanggapi pernyataan Ketua Dewan Penasehat FUI, Habib Rizieq Syihab, dengan mengatakan, “Kami di Papua siap berjihat apabila Forum Umat Islam mau berjihat di Papua”.

Bahkan Tabuni menganggap FUI gila dan statemen yang dikeluarkan sangat diskriminatif terhadap kaum minoritas khususnya di Papua. Tabuni mengharapkan pemuda Kristen Papua untuk menanggapi statemen FUI tersebut agar rencana jihat itu tidak terjadi di Papua.

Sementara Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP), Turius Wenda, mengaku sangat menyesalkan pernyataan FUI. “Harusnya mereka (FUI) mengerti dan memahami akar persoalan Papua. Kalau tidak tahu persoalan Papua jangan omong sembarangan. Karena pernyataan begini bisa berakibat fatal atau mengarah pada konflik SARA atau konflik agama”, katanya seperti dikutip SBP.

seruan FUI juga mendapat pertentangan keras dari Ketua Muslim Pegunungan Tengah Papua, Ismail Asso. Seperti diberitakan Central Demokrasi, Rabu (28/12/2011),  Ismail  meminta rakyat Papua tidak perlu takut dengan pernyataan FUI, karena dianggap hanya bentuk cari muka. Asso menambahkan, jika FUI benar datang berjihad di Papua, dirinya bersama muslim Papua lainnya akan berdiri paling depan untuk mengusir mereka.
“Itu ormas goblok, mereka cari muka saja. Mereka juga tidak punya massa di Papua. Jangan takut kalau mereka akan datang ke Papua,” ujarnya.  

Ismail mengaku akan berdiri di barisan paling depan untuk mengusir Laskar Islam. Dia merasa mempu menghentikan laskar Islam. “Karena gerakan mereka kecil dan pinggiran”, lanjutnya. (@tw)

  


Senin, 26 Desember 2011

Buctar: FUI berjihat di papua, Kami juga Siap berjihat


Buctar Tabuni Ketua KNPB (Foto sbp)
Jayapura,  Buctar Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), kami di papua siap berjihat   apabila Forum Umat Islam mau berjihat di papua. hal itu disampaikan lewat via seluler, saat menghubungi SBP papua, selasa, 27/11.
 
Tabuni menambahkan, mereka (FUI) itu gila dan Statement sangat diskrimunatif  terhadap umat minoritas di Indonesia khususnya di papua.

Dia berharap pemuda kristen di papua harus menanggapi ini agar rencana jihatan tidak terjadi papua, kalaupun terjadi di papua maka akan berakibat konflik agama (Sara), ujarnya.

Senada juga di sampaikan salah satu anggota pemuda baptis papua Iche Morib, Bahwa mereka FUI hanya mencari sentasi dan perhatian public sehingga tidak perlu menanggapi terlalu berlabihan, ujarnya.


Morib tambakan, Perjuangan kita harus focus dan para generasi muda papua jangan tervorfokasi isu sara seperti ini.

Dia berharap pemuda islam di papua harus menolak statement yang penuh provokatif dan tidak mendasar ini.
Tanggapan ini atas dasat statement FBI di media okzone beberapa waktu lalu bahwa Forum Umat islam siap berjihat di papua oleh Ketua Dewan Penasehat FUI Habib Rizieq Shihab dan muhaman.

Konflik papua terjadi berakibat perbedaan ideology dan sejarah integrasi yang penuh controversial.
Para tokoh papua bersama pemerintah sedang berupaya mencari formula terbaik atas penyelesaian kasus papua, sehingga statement ini sangat bertolak belakang dengan pendekatan solusi damai konflik papua (tw).

Pemuda Kristen Papua sangat Sesalkan Pernyataan Forum Umat Islam (FUI)

Menanggapi Pernyataan Forum Umat Islam (FUI), “ FUI, SIap BerjihatDi Papua  dini ()

Turius wenda, (Foto litbag)
Jayapura,- Turius wenda Ketua Forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP), Kami organisasi kepemudaan umat kritiani di papua sangat menyesalkan pernyataan forum umat islam (FUI) dalam hal ini oleh, Ketua Dewan Penasehat FUI Habib Rizieq Shihab dan Munarman.
Penanganan konflik suatu daerah di bisa di selesaikan oleh organisasi atau secara person. Rakyat Indonesia berada dibawah pemerintah NKRI sehingga tidak ada organ manapun  secara sepihak intervensi pemerintah khusus masalah kasus papua, ujarnya. 26/11,.
 “Harusnya mereka (FUI) mengerti dan memahami akar persoalan papua. kalau tidak tahu persoalan papua jangan omong sembarangan. karena pernyataan begini bisa berakibat fatal atau mengarah pada konflik SARA atau Konflik agama.”
"Turius wenda"

Dia menambahkan, masalah papua sesungguhnya bukan masalah makan – minum, akar masalah adalah masalah ideology dan sejarah integrasi yang penuh kotrovesial.


Sehingga tidak bisa menyelesaikan dengan cara – cara kekerasan atau melalu berjihat yang sering kali  menjadi cara dan  semboyan Forum Umat islam.

Lanjutnya, pernyataan berjihat di papua yang di lontarkan Habib Rizieq Shihab dan Munarman. adalah satu pukulan berat dan pernyataan yang sangat diskriminatif bagi kaum beragama minoritas terutama umat kritiani di papua

"Kerukunan umat beragama di papua sudah terjalin dan terpelihara dari dulu sehingga siapun yang membongkar dan merongrong kerukunan ini, maka semua orang yang hidup di papua harus melawan dan menolak isu berjihat seperti statement FUI beberapa waktu lalu."

Selanjutnya manambahkan, para tokoh papua bersama elemen pencinta perdamaian sedang berupaya untuk menyelesaikan konflik papua dengan cara damai dan bermartabat,  sehingga tidak ada cara kekerasan di papua karena kekerasan akan melahirkan kekerasan baru.

Pendekatakan dialog dan pendekatan cara bermartabat sedang menjadi pilihan orang papua sehingga kami menolak pendekatan jihatan dan kekerasan militerisme di papua. 

Dengan tegas dia lontarkan, Alunan jihatan dan cara kekerasan benar di realisasikan di papua maka konsekuensi akan berhadapan dengan pemuda dari semua elemen umat Bergama di papua , karena papua menjaga menjadi tanah damai, sehingga isu merusak kedamaian papua kami dengan tegas menolak.

kami juga menghimbau kepada semua umat beragama jangan mudah terporvokasi isu SARA dan jihat di papua, dan di harapkan untuk menciptakan rasa damai dan keamanan setiap dimanapun kita berada.

Sabtu, 24 Desember 2011

Keep Papua, Do not Fear Violate Human Rights


Front Pembela Islam
Jakarta (SI ONLINE) - To defend the land of Papua from the Republic of Indonesia's lap, the government asked to not be afraid violate Human Rights (Human Rights). "No need to fear is also at the International Criminal Court (ICC)", said former Chairman of Legal Aid Foundation, Munarman, Kemenhan Office, Jakarta, Friday (23/12/2011).

The reason, said Munarman, as long as the United States is actually the most widely violated human rights. Even when prompted Munarman expressed his willingness to defend the state when brought to the Court of Human Rights.

Treat as opposed to human rights, further Munarman, actually done by the enemies of this country. DPP Chairman Nahi Munkar FPI field is pointed out, in Papua MER-C makes health clinic but were not given permission. Yet this effort to preserve and maintain Papua.


"AFKN Papua moving to maintain even accused the Christians have done Islamisation", continued Munarman.

Munarman shows there are researchers from Human Rights Watch (HRW), based in New York, Andreas Harsono, who continuously make the internationalization of human rights issues in Indonesia. "I have the proof, this man had invited foreign journalists to come to Indonesia. He said there will be something", beber Munarman.

Meanwhile, in the same occasion, one of the administrators DDII Center, Zahir Khan, accused Sidney Jones of the International Crisis Group (ICG) also intervenes in a number of problems in Indonesia. "People like this should be deported from Indonesia. First is, why now left free to mess up the country", said the former diplomat said.