Tampilkan postingan dengan label UP4B. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UP4B. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2012

Bambang Darmono, Ditahan Bandara Nabire Papua

Bambang Darmono ( Kepala UP4B Papua)
Sebagai bentuk Protes dan Penolakan Unit Percepatan Pembangunan Papua & Papua Barat (UP4B), di papua khususnya rakyat nabire menahan Kepala UP4B Bambang Darmona di bandara Nabire.

Menurut Laporan yang di peroleh Voice of Baptist, ribuan rakyat nabire turun dan padati bandara nabire untuk menahan Darmono yang habis pulang dari sosialisai UP4B di wilayah kabupaten nabire papua.
Sudah 4 Jam, Masyarakat Menahan Bambang Darmono di Bandara, dan Bambang Darmono Dikabarkan Tidak Bisa Keluar Dari Bandara Karena Ribuan Masa Menutupi Bandara.
Rakyat Nabire Mendesak Bambang Darmono Kaluar dari Tanah Papua. Mereka tidak akan mengijinkan ia lama di Nabire. Karna Bambang Dinilai Mengacaukan Papua dengan  Program UP4B
Dengan tegas rakyat di nabire menolak program UP4B, ini satu program pemerintah yang tidak aspiratif dan terkesan menutup kegagalan pemeritah atas pelaksanaan otsus di papua yang berjalan salam 11 tahun. “Otsus saja tidak di jalankan dengan baik apa lagi UP4B yang statusnya lebuh rendah dari UU Otsus katanya.
Masyarakat juga akan aksi menurunkan Bupati Nabire, Jika Bupati Menahan Bambang Darmono. Yang hingga kini bertahan di Bandara, dengan komitmen, mereka akan bertahan hingga Bambang Keluar dari Tanah Papua. (tw*)

Rabu, 15 Februari 2012

PEPERA 1969, Otonomi Khusus 2001, UP4B 2011

Ketua PGBP Socratez Soryan Yoman (foto pgbp)
“Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya pemerintahan militer” (Amiruddin Al Rahab: Heboh Papua, Perang Rahasia, Trauma Dan Separatisme: 2010,  hal. 42)

Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia selalu mengkleim bahwa PEPERA 1969 sudah sah dan status Papua dalam wilayah Indonesia sudah final. Namun, dalam realitasnya, Rakyat Papua, penduduk asli Papua sebagai pemilik negeri dan ahli waris Tanah Papua ini sampai saat ini masih mempertanyakan status politik mereka dalam
wilayah Indonesia  dengan mempersoalkan PEPERA 1969. Penduduk asli Papua sebagai saksi  dan korban sejarah terus menyatakan bahwa PEPERA 1969 dilaksanakan dibawah tekanan militer Indonesia. Rakyat Papua selalu dan terus-menerus menyatakan bahwa masa depan dan hak politik rakyat Papua benar-benar dihancurkan oleh militer Indonesia.  Simson Barias (alm.), pernah berkata kepada saya, “PEPERA pada tahun 1969 itu dimenangkan oleh Tentara Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang kejam dan jahat.”  Pelaku sejarah PEPERA 1969, Gemenagi Wenda (alm.) pernah berkata kepada saya, “ PEPERA 1969 itu suatu penipuan orang-orang Indonesia dan tentara Indonesia jaga kami seperti orang-orang jahat.  Kami disuruh bicara merdeka-merdeka.” 
Sementara sahabat karib ayah kandung saya, Tawarakonuwa Wanimbo (alm.) pernah bertutur kepada saya, “ waktu PEPERA 1969 itu banyak tentara Indonesia yang menjaga kami. Kami takut dibunuh karena mereka pegang senjata. Mereka bilang kepada kami, sekarang kamu tinggal dengan Indonesia dan nanti setelah anak-anak kamu sekolah dan mengerti, mereka akan berjuang untuk Papua merdeka.”

Setelah saya mendengar kesaksian ini dan melihat kenyataan hidup penduduk asli Papua yang tidak normal selama ini, saya berusaha mencari tahu apa sesungguhnya PEPERA 1969. Saya sendiri mencari dokumen-dokumen PEPERA 1969 di PBB dan membangun komunikasi dengan teman saya, akademisi Inggris,  Dr. John Saltford, saya bertemu dia di London,  dan juga Sejarawan Belanda, Dr. Hans Meijer. Mereka berdua mengirim hasil penelitian mereka kepada saya.  Dari hasil yang saya selidiki dan pelajari bahwa   semua yang dikatakan pelaku sejarah kepada saya memang benar.  Bahwa PEPERA 1969 itu dimenangkan oleh Tentara Indonesia.   Saya sendiri belajar dokumen-dokumen PEPERA 1969 yang ada di PBB, Annex I yang dilaporkan perwakilan PBB, Dr. Fernando Ortiz Sanz, diplomat dari Bolivia, dan Annex II yang dilaporkan Pemerintah Indonesia tentang PEPERA 1969 yang penuh kebohongan Pemerintah Indonesia.   Karena itu saya katakan PEPERA 1969  palsu, cacat hukum, dan penuh dengan rekayasa militer Indonesia.  Bukti-bukti keterlibatan militer sulit dibantah dengan alasan apapun.

“Surat Telegram Resmi Kol. Inf. Soepomo, Komando Daerah Militer XVII Tjenderawasih Nomor: TR-20/PS/PSAD/196, tertanggal 20-2-1967, berdasarkan Radio Gram MEN/PANGAD No.: TR-228/1967 TBT tertanggal 7-2-1967, perihal: menghadapi referendum di IRBA tahun 1969:   “ Mempergiatkan segala aktivitas di masing-masing bidang dengan mempergunakan semua kekuatan material dan personil yang organik maupun  yang B/P-kan baik dari Angkatan darat maupun dari lain angkatan. Berpegang teguh pada pedoman. Referendum di IRBA tahun 1969 harus dimenangkan, harus dimenangkan. Bahan-bahan strategis vital yang ada harus diamankan. Memperkecil kekalahan pasukan kita dengan mengurangi pos-pos yang statis. Surat ini sebagai perintah OPS untuk dilaksanakan. Masing-masing koordinasi sebaik-baiknya. Pangdam 17/PANG OPSADAR”.  “Pada 14 Juli 1969, PEPERA dimulai dengan 175 anggota dewan musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu kelompok besar tentara Indonesia hadir…” (Sumber: Laporan resmi PBB: Annex 1, paragraph 189-200).

Adapun Surat Rahasia dari Komando Militer Wilayah XVII Tjenderawasih, Kolonel Infantri Soemarto-NRP.16716, kepada Kamando Militer Resort-172 Merauke tanggal 8 Mei 1969, Nomor: R-24/1969, Status Surat Rahasia, Perihal: Pengamanan PEPERA di Merauke. Intin isi surat rahasia adalah sebagai berikut:  “Kami harus yakin untuk kemenangan mutlak referendum ini, melaksanakan dengan dua metode biasa dan tidak biasa. Oleh karena itu, saya percaya sebagai ketua Dewan Musyawarah Daerah dan MUSPIDA akan menyatukan pemahaman dengan tujuan kita untuk mengabungkan Papua dengan Republik Indonesia” (Sumber:  Dutch National Newspaper: NRC Handelsbald, March 4, 2000).


Kita semua, penduduk asli Papua sebagai pemilik dan ahli waris Tanah ini, pemerintah Indonesia sebagai tamu yang menduduki dan menjajah Papua sebagai neo-kolonial, perlu memahami  pertanyaan saya, “Kalau status  Papua dalam Indonesia sudah final, mengapa harus ada UU No. 21 Tahun 2001 sebagai solusi politik yang final? Dan sekarang mencul lagi pertanyaan baru, yaitu: Kalau PEPERA 1969 adalah final dan Otonomi Khusus sudah dinyatakan berhasil mengapa harus ada Program Senter Klas, Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B)?  Yang lebih menarik perhatian saya adalah mengapa pelaksana Program UP4B semuanya dilibatkan para Jenderal Purnawirawan?  Apakah ini PEPERA 1969 jilid ke-III?

Saya adalah salah satu pemimpin Gereja yang pernah membantu menterjemahkan  Otonomi Khusus   kepada warga Gereja dan juga penduduk asli Papua.  Pada saat sosialisasi Otonomi Khusus di Wamena, saya dicaci-maki oleh warga Gereja. Saya dituduh menerima uang dari Pemerintah dan juga saya hampir dilempari batu oleh anggota Jemaat yang menolak Otsus dan pendukung Papua Merdeka.  Saya juga yang mendampingi rombongan utusan Negara-Negara Uni Eropa yang datang berkunjung ke Wamena dan selanjutnya kami ke Piramid. Saya dituduh oleh intelejen Indonesia bahwa saya menghalang-halangi pekerjaan intelejen dan disiarkan melalui RRI dari Jakarta dan nama saya disebut-sebut.

Dalam perjalanan dari Piramid ke Wamena kota, saya berbicara kepada mereka bahwa “rakyat Papua hampir 100% mau merdeka. Dan mereka menjawab: “ dalam Otsus itu ada perhatian dan perbaikan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, keberpihakan, perlindungan bagi penduduk asli Papua. Kami harap pak Socratez sampaikan kepada rakyat Papua supaya menerima Otonomi Khusus.”  Saya berangkat ke Mulia, Puncak Jaya, saya sosialisasi Otonomi Khusus dengan bahasa Tanah, bahasa adat, bahasa mereka. Rakyat mendengar, mengerti dan menerima saya, walaupun hati mereka sangat menolak Otonomi Khusus. Mengapa rakyat mendengar dan menerima  saya?  Karena mereka “trust” apa yang saya sampaikan. Tapi, sayang, Otsus gagal dan dalam Otsus, rakyat Papua sangat menderita dan masa depan  penduduk asli Papua sangat memprihatinkan.

Sekarang Pemerintah Indonesia datang dengan Program baru, Unit Percepatan Pembanguan Papua dan Papua Barat (UP4B).  Program ini juga mendapat penolakan di mana-mana. Jayapura di tolak.Manokwari ditolak. Sorong pada Selasa, 13 Februari 2012 ditolak tegas oleh anggota MRP, DPRP Papua Barat dan rakyat Papua Barat.  Anggota MRP dan DPR Papua Barat meminta Pemerintah Indonesia segera menyelesaikan masalah Papua dengan dialog Jakarta-Papua.

PEPERA 1969 dipaksakan dan dimenangkan oleh tentara Indonesia. Otonomi Khusus 2001 dipaksakan walaupun  rakyat Papua menolak tegas dengan menuntut Papua Merdeka . Sekarang, UP4B dipaksakan untuk dilaksanakan di Papua, walaupun rakyat Papua menolak dengan tegas dan menuntut dialog tanpa syarat antara Pemerintah Indonesia dan Rakyat Papua yang dimediasi pihak ketiga. Yang aneh adalah PEPERA 1969 dimenangkan oleh Tentara Indonesia. Otonomi Khusus juga dengan tekanan dan pembunuhan terhadap penduduk Papua yang menolak Otonomi Khusus, termasuk Theodorus Hiyo Eluay. UP4B dikepalai oleh seorang purnawirawan berpangkat Jenderal dan para mantan Jenderal di Papua dilibatkan dalam Program UP4B. Rakyat Papua mengatakan: “ PEPERA 1969 adalah palsu dan cacat hukum. Maka muncul Otsus 2001 sebagai PEPERA 1969 jilid II dan UP4B merupakan PEPERA 1969 jilid III.

Apapun tawaran dan program Pemerintah Indonesia di atas Tanah Papua, yakinlah bahwa tidak akan pernah berhasil. Karena, ada dua jurang yang sulit terjembatani, yaitu ideologi Melayu, Indonesia dan ideologi Melanesia,  Papua.  Ditambah lagi masalah hilangnya “trust” Papua kepada Indonesia dan “kecurigaan” Indonesia yang berlebihan  kepada orang-orang asli Papua selama ini.  Pemerintah Indonesia telah gagal membangun rakyat Papua. Pemerintah Indonesia telah gagal memenangkan hati rakyat Papua selama ini. Pemerintah Indonesia telah menjauhkan hati rakyat dari Indonesia. Pemerintah Indonesia telah sukses mengintegrasikan ekonomi dengan kekuatan politik dan keamanan tapi manusia Papua disingkirkan dan dibantai seperti hewan. Sekarang, saatnya, penduduk asli Papua bangkit untuk membela martabat dan kehormatannya dan sudah saatnya memimpin dirinya sendiri.

 Para pembaca opini ini, Anda percaya atau tidak. Anda akui atau tidak. Anda suka atau tidak suka. Anda senang atau tidak senang. Saya TAHU, saya SADAR, saya MENGERTI, saya PERCAYA dengan IMAN, bahwa CEPAT atau LAMBAT nubuatan ini akan terwujud, hanyalah persoalan waktu.   “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi,dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Pdt. Izaac Samuel Kijne, Wasior, Manokwari, 25 Oktober 1925).

Karena itu, solusi terbaik yang berprospek damai dan manusiawi yang saya usulkan sebagai bahan pertimbangan pemerintah Indonesia ialah: Pertama, Pemerintah Indonesia dengan jiwa besar harus mengakui kegagalan dan kesalahan terhadap penduduk asli Papua sejak 1 Mei 1963 sampai hari ini  dan harus mengakhiri pendudukan dan penjajahan di atas Tanah Papua. Kedua, Pemerintah Indonesia dan Rakyat Papua harus membuat perjanjian-perjanjian kerja sama dalam bidang : ekonomi, keamanan, politik dan bagaimana nasib orang-orang Melayu, Indonesia yang sudah lama berada di Papua dan termasuk penduduk Transmigrasi.  Ketiga, semua dana Otonomi Khusus dan UP4B dipergunakan untuk membangun rakyat Indonesia yang miskin dan terlantar di Jakarta, Jawa, dan daerah lain di Indonesia  

Pemerintah Indonesia dan aparat keamanan yang bertugas di Tanahnya orang Melanesia Papua ini diharapkan supaya mempelajari dan merenungkan nubuatan ini.  “Di Tanah ini, kita bekerja di antara satu bangsa (Papua) yang kita tidak tahu apa maksud TUHAN buat bangsa ini. Di Tanah ini, kita boleh pegang kemudi tetapi kita tidak menentukan arah angin, arus, dan gelombang di laut serta tujuan yang hendak kita capai di Tanah ini. Siapa yang bekerja dengan jujur, setia, dan dengar-dengaran pada Firman Allah di Tanah ini, maka ia akan berjalan dari satu pendapatan heran yang satu ke pendapatan heran yang lain” ( Pdt. Isaac Samuel Kijne, Holandia Binnen, Numbay/Abepura, 26 Oktober 1956).

Akhirnya, saya mau ingatkan kepada Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia, jangan lupa sejarah ini.  Gereja dengan Injil adalah kekuatan Allah  pernah menjamah dengan penuh kasih damai dan memberkati Tanah dan orang asli Papua sejak 5 Februari 1855-2012, sudah mencapai 157 tahun.   Indonesia menganeksasi Tanah Papua dan menjajah penduduk asli Papua sejak 1 Mei 1963, melalui PEPERA 1969 dan Otonomi Khusus 2001 dan UP4B 2011. Indonesia hanya 47 tahun di Tanahnya orang Melanesia.   Wajah, watak, karakter yang ditampilkan Gereja selama hampir 157 tahun terhadap penduduk Papua sangat bertolak belakang atau berlawanan dengan wajah, watak, karakter yang ditunjukkan Pemerintah Indonesia hanya dalam kurun waktu 47 tahun.  Pemerintah Indonesia harus berhenti membangun Kerajaan Firaun yang jahat di Tanah Papua. Pemerintah Indonesia harus berhenti memaksakan kehendaknya kepada rakyat Papua. Sekarang sudah waktunya, Pemerintah Indonesia harus mendengar suara penduduk asli Papua sebagai pemilik dan ahli waris Negeri ini. Shalom. Selamat membaca. Tuhan memberkati kita.

Penulis: Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

Artikel ini dimuat di Koran Harian Bintang Papua, Selasa, 14 Februari 2011

Kamis, 12 Januari 2012

UP4B Model Aceh, Harusnya Dialog dulu Seperti Aceh

 Oleh Turius Wenda, ST.

Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Telah Terbentuk

Janji Pemerintah Jakarta untuk memberikan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) benar-benar terealisasi, ini dibuktikan dengan pelantikan Bambang Darmono Kepala UP4B Bersama perangkatnya serta terbentuknya kantor UP4B yang  baru di resmikan di awal tahun 2012. Unit ini diberikan atas gejolak politik papua dan tidak efektifnya pelaksanaan otonomi khusus provinsi papua. Sesuai struktur, UP4B memiliki tenaga profesional 80 orang dan lima deputi.

Wakil Presiden Boediono yang dikutip jakarat globe Mengatakan, UP4B dibentuk oleh Keputusan Presiden  dengan demikian tidak akan memiliki kekuatan yang sama dan kekuasaan sebagai BRR. ujarnya di kantor kepresiden Jakarta.


Namun Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, berbicara pada kesempatan yang sama, mengatakan setiap pembangunan di Papua dan Papua Barat "seharusnya tidak hanya terlihat namun terasa konkret."
 Fokus baru pemerintah pada lembaga Aceh sebagai model untuk pengembangan provinsi timur Indonesia adalah "untuk memastikan bahwa [anggaran] dana benar-benar tepat digunakan

AgendaUP4B Belum Jelas Arahnya

Agenda kegiatan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat UP4B pada 2012 belum jelas. Anggota UP4B dari jajaran Pemerintah Daerah dan DPR Papua,di  lihat dari subtansi dan Fokus UP4B itu mencakup keseluruhan aspek Pembangunan sehingga sampai saat ini UP4B belum mampu berbuat banyak. dan sulit memfokuskan prioriatas dan utama program UP4B.

Daerah Papua Status Khusus

Papua dan Papua barat diberikan otonomi khusu No.21 tahun 2001 sebagai solusi politik atas gejolak papua yang bersamaan dengan reformasi bangsa Indonesia,

sejak papua diberlakkan otonomi khusus selama 10 tahun, pemerintah telah menggelontorkan Rp 28100000000000 ($ 3,1 milyar) dari APBN ke Papua dan Papua Barat.
Walaupun banyak dana yang mengalir ke papua namun hasil otonomi khusus menunjukan bahwa pemerintah gagal dan melenceng dari harapan otonomi khusus, Kegagalan pemerintah di era otsus banyak mendapat kritikan dari pihak pengamat, tokoh papua bahkan rakyat papua sendiri

Tawaran Dialog di tolak

Walaupun para tokoh  gereja papua dan LIPI Indonesia bersama Jaringan Damai papua (JDP) telah merancang dan menawarkan dialog papua Jakarta, tapi ternyata pilihan pemerintah Jakarta jatuh pada UP4B sehingga para tokoh gereja papua menganggap UP4B tidak aspiratif atau tidak sesuai dengan keinginan orang papua dan  menolak saat pertemua di cikeas (istana presiden beberapa waktu lalu.

Jakarta mempunyai pengalaman dalam berdialog, dialog aceh adalah salah satu keberhasilan pemerintah atas konflik daerah itu, Setelah kesepakan di helsingki pemerintah memberikan otsus dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) aceh.

Jika UP4B benar model aceh harusnya pemerintah mendahulukan pendekatan dialog namun sayangnya tawaran dialog Jakarta - papua ditolak pemerintah dan mereka merancang unit baru sesuai keinginan pemerintah jakarta.

Kepala UP4B harusnya Orang Asli Papua

Walaupun BambangDarmono Kepala UP4B baru namun pengangkatan ini mendapat reaksi keras oleh aktivis Ham konsultan KNPB Jakarta, Oktovianus Pogau yang dikutip  beritasatu.com mengatakan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Bambang Darmono dinilai memiliki reputasi buruk.

Penetapan  mantan Panglima Komando Operasi TNI (Pangkoops) Aceh Bambang Darmono untuk menyelesaikan konflik Papua adalah sebuah kekeliruan.

"Seharusnya kepala penyelesaian konflik Papua adalah orang asli Papua Okto mengajukan tawaran tokoh-tokoh Papua seperti Freedy Numberi, Theo Waimuri atau Michael Manufandu untuk memimpin UP4B. Menurutnya, mereka paham dan mengerti persoalan yang menjadi kebutuhan orang PapuaBerkaitan dengan penetapan Bambang Darmono, Okto mengingatkan, sekali tentara tetap tentara. Dalam catatannya, selama memimpin operasi di Aceh, Bambang melakukan pelanggaran HAM dengan membunuh warga sipil dan sebagainya. Dan hal itu bisa terulang di Papua.

"Solusi terbaik konflik Papua melalui referendum. Biarkan kami memilih apakah ingin bersama Indonesia atau berdiri sendiri. Atau gelar perundingan seperti di Aceh dengan mediasi pihak ketiga yang netral," sebutnya.

Sosialisasi UP4B di bubarkan

Sosialisasi Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) dilakukan di Hotel Mansinam, Kamis (12/1/2012), batal dimulai karena tiba-tiba, sekitar pukul 12.30 WIT dibubarkan  paksa oleh rakyat manokwari papua barat.
Rakyat menganggap tak perlu ada UP4B karena otonomi khusus gagal dilakukan di tanah Papua.

Jakarta mempunyai kebijakan sangat tidak aspiratif atau tidak sesuai dengan keinginan orang papua, dan dinilai dipaksakan sehingga apapun program dan kebijakan mulia itu tidak pernah ada hasilnya, dan kita lihat saja apakah UP4B mampu merendam Konflik papua? kita tunggu realisasinya.

Penulis adalah, Ketua forum Gerakan Pemuda Baptis Papua (FGPBP) dan juga Bekerja sebagai staf LITBAG Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja - Gereja Baptis Papua (PGBP)

Senin, 19 Desember 2011

Don’t Demean Us, Papuan Church Leaders Tell SBY

 
Rev. Socratez S Yoman
In stark contrast to government figures who say Papuan unrest stems from a lack of prosperity among native inhabitants, senior Papuan church figures say the real problem is a history of injustice and the island’s problematic integration into Indonesia.

“The problems in Papua are not to do with wealth, but respect for human dignity, justice and an unclear history of integration that is still disputed,” Rev. Socratez Sofyan Yoman, the head of Papua’s Baptist church, said in a press conference on Saturday in Jakarta.
The press conference followed a private meeting a day earlier between four church figures, three of them Papuan, and President Susilo Bambang Yudhoyono at the national leader’s private residence in Cikeas, Bogor.


The two-hour meeting, which was closed to media, also included Vice President Boediono, the national chiefs of the armed forces and police, and a number of cabinet ministers including Djoko Suyanto, the coordinating minister for political, legal and security affairs and Hatta Rajasa, the coordinating minister for the economy.

The four church leaders said they had provided a detailed picture of the numerous acts of violence and conflict that had afflicted Papuans for generations.

“We told the president that since 1961, the situation has been unsafe in Papua because of the stigma of separatism,” Rev. Yemima Krey, head of the Protestant Synod in Papua, said at the press conference.

Yemima went on to say that she believed — at the risk of being seen as discriminatory — that the government should consider a policy to limit the arrival of transmigrants from other islands in the archipelago. She called it a necessary step in order to protect Papuan culture and the political and economic position of the Papuan people.

“The proportion of Papuans is falling as the number of migrants increases, so that many Papuans are questioning their existence in their own land,” Yemima said.

It is shifting geopolitical winds such as this that are planting the seeds of resistance in the Papuan community, according to Benny Giay, head of the Kingmi Synod in Papua.

Benny maintained that Papuan nationalism was misinterpreted as separatism by Jakarta.

Benny added that he and his three colleagues had told Yudhoyono that the president’s establishment of the Unit for the Acceleration of Development in Papua and West Papua (UP4B) was misguided, unfair and undemocratic because the Papuan people had not been consulted or involved.

“And along with the UP4B the military were sent as well,” Benny added.

He said Jakarta had failed to adopt a humanitarian approach to Papua, with the result that every passing day brought more news of Papuans killed in conflict with the state.

“We are witnessing the extinction of a nation. We are being slaughtered,” Benny said. “Our church exists in the midst of a never-ending cycle of violence.”

According to Socratez, while Yudhoyono had been receptive to the religious figures’ description of the problems in Papua, the president had stopped short of accepting their main proposal: Holding mediation talks involving a third party. “The Papuan people must be given room to experience justice,” Socratez said. “Don’t demean them and treat them as enemies of the state. This must be stopped.”

Meeting participant and non-Papuan Gumar Gultom, the head of the Indonesian Protestant Church Union (PGI), said there were “positive signs” from Yudhoyono at the meeting.

“This is just the first meeting. The president promised a follow-up meeting to get into more details on the issues we put forward,” Gumar said, adding that he expected the next meeting would be in early January.

Rabu, 14 Desember 2011

Thaha Alhamid: SELF UP4B Will Fail

Thaha Alhamid
Papua, Despite harsh rejection, confirmed the central government will continue to impose kemauanya to form Unit Development Acceleration of Papua and West Papua (UP4B) in the land of Papua.
Finally, on 7 December 2011, the group Mendagri and Menkokesra came from New York to visit Jayapura to socialize unit will be led by Army retiree, Bambang Darmono Letjend this.Menangapi case, Thaha Alhamid, Sekjend Presedium House Papua (PDP) said that the people of Papua do not have to waste energy tired-tired to make denial action. Let it be present in Papua, as ascertained will fail.
"I have read the rules. I am confident that this unit will fail just like Otsus. We wait in two to three years, "said Thaha.

Thaha also admitted that he had read the Presidential No. 66/2011 on the establishment of the Development Acceleration Unit of Papua and West Papua is the policy of the law berlakukanya UP4B.
"If UP4B later failed again, well done, would give nothing to Papua. Free love just yet, "he said aloud.
It is served Thaha in a seminar with theme: "The Papuans and Self-Determination," which may take place by a group discussion Honai Study on University Campus Christian Clup Indonesia (UKI), Cawang, East Jakarta, Saturday (10/12) ago.
"This is the same as when the government would provide Otsus Law in 2001. At that time, many clergy preaching in churches, is a gift of God, so we must accept. In fact, it is so items giving the devil, "he said of laughter greeted participants.
Present as a speaker, the Association of Chief Student Cyprian Papua Bunai in Jakarta, Eminem. Socrates Sofyan Yoman General General christen churches in Papua, Romo Magnis Suseno Clergymen and lecturers STF and Sekjen Diryakara Thaha Alhamid PDP.
This seminar is officially opened by the Rector UKI Ir. Maruli Gulton, and attended by a variety of professional fields such as, Students, academics, and people of Papua in Jakarta, as well as some Papua.