Tampilkan postingan dengan label Church. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Church. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Pimpinan Gereja Papua Bertemu SBY, Ada Konfrensi Pers Siang Ini

Rev. Dr. Phil Erari (Foto: Ist

PAPUAN, Jakarta --- Rev. Dr. Phil Erari, mantan ketua Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melaporkan bahwa, Jumat (16/12) tadi malam, beberapa pimpinan gereja dari Papua dan Papua Barat telah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang di mediasi oleh PGI di Jakarta. Maksud pertemuan tersebut adalah untuk membicarakan akar masalah di tanah Papua beserta solusi penyelesaiannya.

Menurut Phil, untuk penyelesaiaan masalah Papua, gereja-gereja telah menawarkan solusi dialog yang dimediasi oleh pihak ketiga atau melibatkan dunia internasional.

“Kami juga sudah memaparkan fakta sejarah yang terjadi di Papua seperti dicetuskannya Trikora, berlanjut ke Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA), dan berlanjut sampai terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), termasuk yang paling baru terjadi di Kabupaten Paniai,” tulis Phil dalam surat elektronik di sebuah mailing list.

Selain merekomendasi dialog internasional, gereja juga meminta agar pemerintah menghentikan stigma separatis bagi orang Papua, mengakhiri pelanggaran HAM, termasuk menghentikan operasi militer, dan juga meminta agar ditinjau ulang Peraturan Presiden No. 27/2007 tentang Simbol dan Lambang Daerah, termsuk meminta agar membabaskan semua tahanan politik di tanah Papua dan Maluku.

“Dan rekomendasi paling terkahir adalah menyangkut aspirasi politik, dimana meminta diselenggarakan hak penentuan nasib sendiri bagi orang Papua,’ kata Phil.

Para pemimpin gereja juga telah menunjukan kegagalan Otonomi Khusus Papua, dan menyebut pemberiaan Unit Percepatan Pembangunan Papua Barat (UP4B) adalah tidak tepat.

Menurut Phil, SBY memberikan perhatian yang serius atas aspirasi yang disampaikan pemimpin gereja dari Papua.

“SBY juga telah memastikan bahwa sengketa antara Papua dan Jakarta harus diselesaikan dalam waktu dekat dengan semangat dari hati ke hati, tulus, akuntabel dan transparan,” sebut Phil.

SBY juga mengakui peran Gereja di Papua sebagai mitra strategis, untuk mencari solusi demokratis untuk tanah Papua.

Beberapa tokoh Gereja-gereja yang hadir antara lain Rev. Socrates Sofyan Yoman (Ketua Gereja Baptis), Rev. Dr. Benny Giay (Ketua Gereja Kigmi), Pdt. Jemima Krey (Ketua GKI Papua), Wahy Mathin Luther Wanma (Ketua Gereja Kristen Alkitab), didampingi Frederika Korain aktivis HAM, mewakili PGI hadir Dr. Andreas Yewangoe (Ketua PGI). Rev. Dr. Phil Erari dan Gomar Gultom (Sekjend PGI).

Dari Jakarta dikabarkan siang ini, Sabtu (17/12), pukul 11.00 WIB akan berlangsung konfrensi pers terkait pertemuan pimpinan gereja di Papua dengan presiden SBY.

“Benar, siang ini ada konfrensi persi di Wisma PGI di Cikini, ini terkait pertemuan pimpinan gereja dengan SBY,” ucap salah satu mahasiswa di Jakarta ketika di konfirmasi Papuan Voices.

OKTOVIANUS POGAU

Kamis, 15 Desember 2011

INDONESIAN MILITARY ACTIVITY IN PAPUA WORRIES CHURCH

Previous ‘security sweeps’ terrorized people, caused deaths

WELLINGTON, New Zealand (Radio New Zealand International, Dec. 15, 2011) – The Papua region’s largest indigenous church has voiced concern at the surge of activity in the Paniai Regency by Indonesia’s paramilitary police.
In recent weeks, hundreds of extra officers have been deployed to the area in what Indonesian officials have indicated is a hunt for members of the OPM Free West Papua Movement.

The chairman of the Synod of the KINGMI Evangelical Church, Dr. Benny Giay, says the current military sweep operation through Paniai villages has terrorized local Papuans, many of whom have fled to the bush.
"They say they have to wipe them out, to attack the area because the area is occupied by the separatists, according to the Indonesian security officials."
Dr. Benny Giay says that in Paniai regency around thirty Papuans died in August from starvation after fleeing to the bush following the last big security forces sweep.
[PIR editor’s note: The independent West Papua Media blog recently reported from Jayapura that Baptist church leader Socratez Yoman asked both Indonesian police and armed forces to immediately leave West Papua. Another report from the site alleges that four combat battalions, paramilitary police and counter-terrorism troops were deployed in Paniai near a Papuan liberation army headquarters building. 18 people are said to have been killed in the attacks, and around 100 structures have been razed to the ground. In 2006, at least four indigenous Papuans were killed by Indonesian troops in Paniai, according to watchdog groups. An agency of the United Nations went to the world court in Denmark to seek an official probe into the Paniai killings and asked for unrestricted access to West Papua for human rights monitors.]]
Radio New Zealand International: www.rnzi.com

Rabu, 14 Desember 2011

Pemimpin Gereja Pasifik Menyeruhkan Kemerdekaan untuk Papua Barat


Francois Pihaatae/foto FCC
Konferensi Pasifik Gereja (PCC) adalah menyerukan kemerdekaan Papua Barat dan orang-orangnya dari Indonesia.

Dalam pernyataan yang didukung oleh para pemimpin gereja pada pertemuan terakhir mereka di Samoa, mereka menyatakan bahwa, "awal tahun 2012, kita akan merayakan hari kebebasan dalam mendukung saudara dan saudari kita di Maohi Nui, Bougainville, Kaledonia Baru, Barat Papua dan masyarakat yang mendambakan untuk bebas. Kami menyerukan kepada Sekretariat PCC untuk menunjuk hari seperti. "

PCC Penjabat Sekretaris Jenderal Pendeta Francois Pihaatae mengatakan, ini hari yang telah ditentukan akan dibahas secara detail selama retret perencanaan staf pada awal Januari tahun depan.

"Konferensi Gereja-gereja Pasifik berkomitmen untuk dekolonisasi wilayah Pasifik. Kami berdiri di samping orang di bawah pemerintahan kolonial dan berjalan dengan mereka dalam perjalanan mereka menuju masa depan yang mereka dan pilihan Penentuan masa depan sendiri. Hal ini dapat diterima bahwa di hari ini dan usia kita terus menerima keberadaan koloni di kawasan Pasifik, "kata Rev Francois.


Rev Francois menyerukan anggota gereja di Pasifik untuk bergabung tangan dan berdoa tentang situasi di Papua Barat.

"Melalui kuasa Roh Kudus, kami percaya bahwa penyembahan yang benar adalah tentang komitmen benar untuk kebaikan orang lain. Mari kita berjalan dengan rakyat Papua Barat melalui doa-doa kita dan meminta Tuhan untuk menyediakan mereka dengan kenyamanan dan perlindungan dalam waktu yang sangat sulit yang mereka hadapi. "