Minggu, 01 Januari 2012

Kim Jong-un putra Kim Jong-il

Kim Jong-unKim Jong-Un (Korea: 김정은, Hanja: 金正銀 or 金正恩), dikenal juga sebagai Kim Jong-Eun/Kim Jung-Eun, awalnya Kim Jong-Woon atau Kim Jung-Woon (lahir 1983 atau awal 1984) adalah anak ketiga dan termuda Kim Jong-il dengan Ko Young-hee. Sepeninggal kematian ayahnya pada 17 Desember 2011, ia ditetapkan untuk menggantikannya sebagai pemimpin baru Korea Utara. Kim Jong-un, pemimpin baru Korea Utara, resmi diangkat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata pada Jumat, 30 Desember 2011. Penunjukan Jong-un, putra mendiang pemimpin Kim Jong-il, merupakan tanda dimulainya transisi kekuasaan atas ayahnya.



Walaupun sudah didaulat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, Jong-un masih terlalu 'hijau' dalam urusan pemerintahan. Ia hanya memiliki pengalaman dua tahun di pemerintahan Korea Utara. Dari pengamatan analis pemerhati Korea Utara di Korea Selatan, tercetuslah "gank of seven", tujuh nama yang akan mempengaruhi kinerja Jong-un dalam masa transisinya, seperti yang dilansir dalam telegraph.co.uk, 1 Januari 2012. Pemilihan ini mempertimbangkan orang-orang yang berbaris dekat kereta jenazah Jong-il selama proses pemakaman. Berikut nama-namanya :



1) Jang Song Thaek, 65 tahun, Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Korea Utara (NDC)



Jang yang juga merupakan ipar Jong-il merupakan penasihat kunci Jong-il setelah terkena stroke. Ia merupakan mentor untuk anak pertama Kim (Kim Jong Nam) dan sekarang untuk Kim Jong-un. "Setelah kematian Kim Jong-il, Jang adalah satu-satunya yang dipromosikan," kata Choi Jin-wook, kepala peneliti Korea Institut untuk Unifikasi Nasional (KINU).



2) Kenji Fujimoto, 63 tahun, koki khusus sushi



Sebagian orang percaya dia merupakan agen Jepang. Pernah bekerja untuk rumah tangga Jong-il dan Hwang Jang-yop (mentor Jong-il), Kenji dikenal sebagai pembelot Korea Selatan. Fujimoto merupakan koki favorit. Jong-il selalu membawanya dalam perjalanan keliling dunia agar bisa menyajikan berbagai macam hidangan terlezat di setiap negara.



3) Ri Yong HO, 69 tahun, Kepala Staf Angkatan Perang Korea Utara (KPA)



Ia diyakini merupakan guru militer Jong-Un. Pada November lalu, ia menerima promosi bintang empatnya.



4) Kim Yong-Chun, Menteri Pertahanan NDC



Ia merupakan salah satu orang kepercayaan Jong-il yang berhasil menggagalkan rumor kudeta militer tahun 1995.



5) Jenderal U Dong-guk



Ia merupakan jenderal di Dewan Keamanan Negara. Ia merupakan tokoh kuat di balik rezim Korea Utara. Ia memiliki kecerdasan dan represi yang tinggi.



6) Jenderal Kim Jong-gak



Ia merupakan monitor loyalitas petugas KPA. Ia bekerja pada Biro Umum Politik Angkatan Darat. Pada acara peringatan, ia merupakan tokoh yang mengucap janji setia kepada Jong-un. "Ada 1,2 juta serdadu yang akan membela di belakangnya,” ujar Kim saat pelantikan. Ia juga merupakan kepala propaganda yang tangguh.



7) Sekretaris Partai Choe Tae-bok dan Kim Ki-nam



Choe merupakan tokoh inti dalam pengembangan teknologi ilmiah PyongYang. Mereka inilah yang diduga akan menjadi aktor kunci di belakang singgasana Kim Jong-un. "Untuk legitimasi Jong-un, mereka akan mencoba membuat prestasi revolusioner dan proses pengidolaan," kata Kim Tae-woo, Presiden KINU.



Sumber : Telegraph

KontraS Desak Komnas HAM Selidiki Kekerasan SARA di Sampang

SURABAYA-Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya menyesalkan sikap pemerintah dan kepolisian yang tidak serius menangani kasus kekerasan yang menimpa Jamaah Syi'ah di Sampang, Madura.

Dari pantauan KontraS hingga saat ini pemerintah belum mengambil sikap yang jelas menyelesaikan masalah ini.
"Jamaah syi'ah yang berjumlah 220 orang terdiri orang tua dan balita hanya diungsikan di GOR Kota Sampang tanpa ada kejelasan sampai kapan. Mengungsikan jamaah syiah di GOR bukan merupakan penyelesaian dan hanya akan menimbulkan masalah baru bagi para mereka. Terlebih pemerintah hanya memberikan fasilitas kepada pengungsi berupa nasi bungkus, dan fasilitas kesehatan ala kadarnya,"kritiknya, Jumat (31/12/2011).

Sementara pihak kepolisian belum ada komitmen serius mengusut kasus ini karena sampai hari ini belum satu pun tersangka yang ditangkap padahal bukti-bukti yang ada sudah sangat jelas.

KontraS mendapatkan laporan bahwa sebagian rumah warga syiah yang masih tinggal di Nangkernang dijarah dan dirampok orang-orang yang tidak dikenal, dan warga syiah tidak berani melawan karena apabila melawan rumahnya akan dibakar.

"Keadaan ini menunjukkan bahwa polisi tidak serius  memulihkan keamanan di wilayah ini," katanya.

Dengan fakta itu, Andy mendesak pemerintah pusat dan daerah membuat kebijakan khusus melindungi Jamaah Syiah Sampang dan memulihkan semua hak-haknya yang terampas akibat tindak kekerasan yang menimpa mereka.

"Kami juga mendesak kepolisian untuk segera melakukan proses hukum atas semua tersangka yang menjadi pelaku Tindak Kekerasan dalam peristiwa ini," tegasnya.

Andy juga mendesak Komnas HAM menyelidiki peristiwa ini.

Sebenarnya pada April 2011, pihak Jamaah Syi'ah telah melaporkan kasus kekerasan dan pelanggaran HAM yang menimpa mereka kepada Komnas HAM, namun hingga saat ini Komnas tidak melakukan apapun sesuai dengan kewenangan yang mereka miliki.

"Sikap acuh tak acuh dari Pemkab Sampang dan sikap diam dari Pemerintah Provinsi Jatim maupun Pemerintah Pusat merupakan bentuk pelanggaran HAM," tukasnya.

Sumber : Surya http://surabaya.tribunnews.com/sapang
Penulis : Musahadah
Editor : yoni

Komnas HAM Desak Bupati Bima Cabut Izin PT SMN

JAKARTA--MICOM: Komnas HAM mendesak Bupati Bima Ferry Zulkarnain untuk segera mencabut izin pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara (SMN), di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah pemerintah pusat menegaskan bahwa kewenangan tersebut mutlak dimiliki bupati.

Pemerintah pusat kan sudah menyatakan bahwa pencabutan izin itu kewenangan pemerintah daerah.

"Segera saja dicabut. Situasinya kali ini darurat. Kasus ini 100 persen dipicu izin tersebut. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak mencabut izin itu," ujar anggota Komnas HAM Ridha Saleh, saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (1/1).


Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2010 tentang Mineral dan Batu Bara (Minerba), pembatalan Surat Keputusan (SK) izin tambang baru bisa dilakukan jika perusahaan itu terlibat pidana, mengingkari perjanjian, ataupun pailit. (OL-11)

De Sluipende Genocide in Papua


 Source Published:http://mens-en-samenleving.infonu.nl/
Er speelt zich een proces af van sluipende genocide op de westelijke helft van het eiland Nieuw-Guinea. Op het voormalige Nederlandse deel van Nieuw-Guinea, dat via een door velen als schandalig betiteld referendum in 1969 in Indonesische handen kwam, zijn veel politieke moorden gepleegd. Maar de Indonesische militairen hebben zich ook schuldig gemaakt aan massamoorden.

De Biak-massamoord is een trieste gebeurtenis die destijds in de reguliere media voorkwam. De meeste moorden zijn echter nooit in de krant verschenen. Daarvoor zijn verschillende redenen aan te voeren. Ten eerste mogen er geen journalisten naar het Indonesische Papua. De regering en de militaire leiding zijn bang dat journalisten gaan schrijven over de misstanden die plaats vinden in de Indonesische provincie. Een
tweede reden is dat er vrijwel geen hulporganisaties worden toe gelaten in Papua. Een derde reden is dat de kerken, de Papua´s zijn christelijk, geen bekendheid geven aan de onderdrukking van de Papua´s. Een vierde reden is dat de Papua´s geen eensluidende groep mensen zijn, maar dat er verschillen bestaan tussen Papua´s onderling in hun opvatting en visie.

Dit huis is één van de vele huizen op Biak die voor bestuursambtenaren bestemd waren, maar nadat gebleken is dat ze met corruptiegeld gebouwd zijn staan ze leeg. Er is een wijk met leegstaande villa´s en een nooit gebruikte shopping mall.
Dit huis is één van de vele huizen op Biak die voor bestuursambtenaren bestemd waren, maar nadat gebleken is dat ze met corruptiegeld gebouwd zijn staan ze leeg. Er is een wijk met leegstaande villa´s en een nooit gebruikte shopping mall.

Biak-massamoord

Op 1 juli 1998 vond er een grote demonstratie plaats in Biak tegen de Indonesische overheersing. De Papua-demonstranten hadden de morgenster-vlag gehesen. De demonstratie duurde 5 dagen. Op een gegeven moment begon het Indonesische leger een aanval in te zetten op de demonstranten. Vrouwen en jonge meisjes werden gemarteld terwijl de mannen toe moesten kijken. De TNI, het Indonesische leger dwong 100 demonstranten plaats te nemen in bootjes. De dagen daarna spoelden lijken aan, of werden lijken aangetroffen in visnetten. Het leger zei dat het slachtoffers waren van een tsunami 1000 kilometer verderop. De inwoners van Biak wisten wel beter. De regering heeft nooit onderzoek naar de massamoord op Biak gedaan en er is nooit een legerofficier berechtigd.

De Morgenster

In Indonesië kun je levenslange gevangenisstraf krijgen voor het hijsen van een niet-Indonesische vlag. De Papua morgenster-vlag heeft jarenlang gewapperd naast de Nederlandse vlag. De Nederlanders hadden de bedoeling om de Papua´s onafhankelijkheid te geven, maar hebben dat streven onder internationale, vooral Amerikaanse druk laten varen. Papua is rijk aan waardevolle grondstoffen zoals koper, goud en uranium. Een Amerikaans mijnbedrijf is sinds de overdracht in 1969 werkzaam op het eiland. De schatkist van Indonesië wordt voor een heel groot deel gevuld door belastinginkomsten uit Papua. De Papua´s zelf hebben nog nooit één cent gezien van de lucratieve mijnopbrengsten.

Michel Maas

In Papua kwam ik journalist Michel Maas tegen. Hij werkt voor de Volkskrant en is commentator voor televisie en radio. Hij vertelde dat hij al 2 jaar bezig was met een vergunning te krijgen voor Papua. Uiteindelijk mocht hij er twee weken zijn. Tijdens deze weken moest hij zich elke dag melden op het politiebureau. Daar werd hij dagelijks 4 á 5 uur vast gehouden voor formaliteiten. Elke beweging die hij zette in Papua werd op de voet gevolgd door de autoriteiten. Alleen in zijn eigen hotel werd hij ongemoeid gelaten. Het was dus vrijwel onmogelijk voor hem om op onderzoek uit te gaan. De meeste journalisten zijn niet in de gelegenheid om 2 jaar te wachten voordat hun aanvraag wordt goed gekeurd, dus het land is nagenoeg gesloten voor journalisten.

Voormalig Hollandia, na veel naamswijzigingen, o.a. Jayapura, schijnt het nu Port Numbai te heten.
Voormalig Hollandia, na veel naamswijzigingen, o.a. Jayapura, schijnt het nu Port Numbai te heten.

Rode Kruis

Zelfs het Rode Kruis mag er geen medewerkers naar toe sturen. De directe aanleiding hiervoor was dat twee jaar geleden de Rode Kruismedewerkers beschuldigd werden gevangenen te hebben bezocht die op hun beurt beschuldigd werden van separatistische activiteiten. In Papua zijn vrijheidsstrijders actief in de OPM, de Organisasi Papua Merdeka. Het Rode Kruis had een kantoortje geopend in de hoofdstad Jayapura waar ze vele gevangenen hielpen. Volgens het Rode Kruis maakten ze niet speciaal voor separatisten een bezoek aan de gevangenis, maar meer om gevangenen in het algemeen te bezoeken.

AIDS-Import

Een belangrijke manier van sluipende genocide verrichten in Papua is het importeren van AIDS-prostituees. De Papua´s worden door het leger getrakteerd op prostituees die aan AIDS leiden. Hierdoor krijgen veel Papua´s HIV, om zo de ziekte verder te verspreiden. In dit deel van Indonesië woont het hoogste percentage HIV-besmette mensen. De Indonesische overheid erkent dat er veel HIV-besmettingen zijn maar zegt daarbij niet dat dat komt doordat ze de ziekte via prostituees importeren.

Traditioneel houtsnijwerk uit Papua. De kustpapua´s maakten 500 jaar geleden al metalen sieraden en dreven handel met Molukse eilanden.
Traditioneel houtsnijwerk uit Papua. De kustpapua´s maakten 500 jaar geleden al metalen sieraden en dreven handel met Molukse eilanden.

Dorpen Plat Branden

Een andere manier waarop genocide plaats vindt is het plat branden van dorpen die afgelegen in het oerwoud liggen. De stammen leven vaak al eeuwenlang in hetzelfde gebied. Soms bestaat een dorp maar uit 200 man. Deze zijn een gemakkelijk doelwit voor het Indonesische leger. De meeste dorpelingen proberen te vluchten in het oerwoud. Degene die dat lukt durven hun dorp niet meer te herbouwen en leiden noodgedwongen een zwervend bestaan. Het oerwoud in Nieuw-Guinea behoort tot de meest ondoordringbare oerwoudgebieden van de wereld. Het overleven in het oerwoud valt niet mee. Door deze terreur van het Indonesische leger zwerft er een groep Papua´s van 3000 man permanent door het oerwoud, op de vlucht voor de Indonesische militairen. Ze hebben zich verenigd in de OPM.

Demografisch Argument

De genocide in Papua doet zich sluipend voor middels door militairen geïmporteerde HIV-besmettingen en het plat branden van afgelegen dorpen. Ten tijde van Suharto was de genocide iets opzichtiger. Vele media spreken van 100.000 Papua-slachtoffers tijdens het Suharto-regime. Een belangrijk bewijs voor het huidige genocidaal proces is het demografisch argument. De demografie is een wetenschap die de bevolkingsopbouw naar leeftijd bestudeert. Een demografisch onderzoeker toonde in 2005 aan dat er 500.000 Papua´s ´missen´ ten opzichte van de bevolkingsgroei in het naburige Papua Nieuw Guinea. Maar niet iedere onderzoeker is het hiermee eens; een onderzoek van een Australische universiteit genaamd ´Genocide in Papua?´ gaat uit van 100.000 slachtoffers. Stel dat de laatste onderzoekers gelijk hebben, dan is het nog steeds bijzonder vreemd dat Indonesië niet wordt bestraft voor de genocide op Papua´s. Het zou logisch zijn als deze genocide aanhankelijk wordt gemaakt bij het Internationaal Gerechtshof in Den Haag.

De Stille Oceaan breekt een golf op de kust van Biak.
De Stille Oceaan breekt een golf op de kust van Biak.

Kerken

De kerken hebben een dubieuze rol gepeeld in Papua. Veel Papua´s zijn christelijk omdat de bijbelverhalen gedeeltelijk overeen komen of aansluiten bij hun natuurreligie. De zendelingen en missionarissen waren echter in 1969 voor aansluiting bij Indonesië in plaats van onafhankelijkheid. De kerken steunen de nieuwe kolonisator. Ze faciliteren bestuurlijke herverdeling door in nieuwe hoofdsteden internaten op te zetten. Dit deel van Indonesië is 12 keer zo groot als Nederland wat betekent dat bestuurders vaak enkele dagen op pad zijn om een ander gebied te bezoeken. De kinderen kunnen dan in de internaten verblijven. De Papua´s hebben geen belang bij bestuurlijke opdeling van hun land, dat volgens de Indonesische wetten allang een autonomie had moeten zijn. Het uitstellen van autonomie en de zinloze bestuurlijke herverdeling worden door de kerkelijke instituten ondersteund met het inrichten van internaten. Daarnaast hameren de priesters en dominees er voortdurend op dat de Papua´s beslist niet zelf hun land kunnen besturen. Dat is een vertekend beeld want de Nederlandse regering zag in de jaren 50 en 60 van de vorige eeuw onafhankelijkheid als een uitvoerbare realiteit. De Nederlanders zijn echter gedwarsboomd in hun plannen om de Papua´s onafhankelijkheid te geven door Amerika. President John F. Kennedy en zijn broer Robert hebben Indonesië politiek en militair gesteund in hun expansiedrift naar Papua.

Christendom in Papua

De leer die de kerk verkondigt is gestoeld op het aanvaarden van autoriteit. In de kerken leren de Papua´s dat ze hun lot moeten accepteren. Hierdoor wordt het idee van zelf-autonomie, waar iedere bevolking recht op heeft, ondergraven. Ook schilderen dominees en priesters de Papua´s maar al te graag af als een groep wilden die sturing nodig hebben. Veel Papua´s zijn christelijk omdat de Nederlanders van wie ze nog steeds veel houden, christelijk waren. De belangrijkste reden om christelijk te zijn is dat de rest van Indonesië moslim is. Hierdoor zetten de Papua´s zich af van de Islamitische autoriteit. Christen-zijn betekent anti-islam en anti-Indonesië zijn. De eerste Papua die zich bekeerd tot de Islam moet nog geboren worden. De retoriek die christenen en moslims tegen elkaar gebruiken wordt door de kerken gebruikt om Papua´s voor zich te winnen. Helaas kunnen de kerken de Papua´s niet de bevrijding geven waar ze naar op zoek zijn.

Papua dan 10 Tahun Setelah Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay Dibunuh

PAPUA-Kasus penculikan dan pembunuhan Alm. Dortheys Hiyo Eluay, Ondofolo Suku Sereh, Sentani, Port Numbay, Ketua LMA Irian Jaya/ Papua, dan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) telah berlalu tepat sepuluh tahun silam. Kini kita telah berada di detik, menit, jam, hari Sang Ondofolo dibunuh dengan cara dicekik. Cara mencekiknya sangat mengerikan, sangat tidak manusiawi.

Kalau kita baca buku terlengkap yang pernah ditulis tentang riwayat hidup, dan terutama riwayat sebelum dan sesudah pembunuhannya sampai hari ini, yaitu karya Sem Karoba, Hans Gebze, dkk, terbiatan Mei 2002 (selang waktu beberapa bulan setelah alm. dibunuh), maka ingatan kita tentang peristiwa-peristiwa yang tidak lama itu segar kembali, lalu dengan mudah kita kaitkan dengan perkembangan terakhir di Tanah Papua, Ketua Dewan Adat Papua yang kini berada di tahanan NKRI.


Sem Karoba, dkk. mencatat banyak sekali peristiwa, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Yang belum ditulis ialah tahun demi tahun, yaitu dari tahun 2001 sampai tahun 2011 hari ini. Termasuk pengadilan ringan dan penobatan sebagai pahlawan negara kepada para pembunuh Theys tidak dimuat dalam buku ini karena buku ini terbit lebih dari tiga tahun sebelum pelaku kejahatan atas kemanusiaan ini ditahan dan diproses secara hukum militer NKRI sendiri.

Dari kasus penculikan sekaligus pembunuhan sang Pemimpin Besar Bangsa Papua itu sebenarnya perlu kita ingat dan camkan beberapa hal. Yang pertama, bahwa kasus ini tidak boleh dianggap telah berlalu oleh bangsa Papua. Ini pelanggaran HAM berat karena seorang pemimpin yang diangkat dalam sebuah proses demokrasi oleh sebuah bangsa dan tanah dibunuh begitu saja tanpa pertanggung-jawab politik dan hukum yang jelas. Dalam buku ini telah dengan jelas disampaikan mengapa kasus in imerupakan pelanggaran HAM berat. Hal kedua, karena para pembunuh tidak pernah mengakui dan meminta maaf kepada pihak korban sampai dengan hari ini tanggal 11 November 2011. Dapat dikatakan dalam bahasa adat Papua, "Ini pembunuhan rahasia", atau dalam bahasa Lani disebut "Kote warak." Orang yang dibunuh secara "kote" tidak pernah hilang dari ingatan orang Papua. Kalau ada pembunuhan, ada pengakuan, ada pertanggung-jawaban dalam bentuk hukuman atau denda, maka ingatan itu biasanya terkikis dimakan waktu. 
Tetapi kalau sebuah kematian, apalagi kematian seorang Kepala Suku, apalagi dibunuh setelah sebuah acara yang diadakan oleh NKRI, apalagi cara pembunuhannya sangat canggih dan sadis, apalagi dalam posisi beliau sebagai Kepala Suku sekaligus sebagai Ketua PDP, yaitu sebuah lembaga politik di dalam negeri yang menyambung suara dan aspirasi bangsa dan tanah Papua, apalagi pembunuhnya menyangkal mati-matian dan malahan mengancam siapa saja yang menuduh mereka sebagai pembunuhnya, apalagi pembunuhnya malahan dihadiahi gelar pahlawan negara Indonesia, soal pembunuhan Theys Eluay tidak bisa kita jadikan sebagai bagian dari sejarah.
Kasus penculikan dan pembunuhan Alm. Dortheys Hiyo Eluay bukan masalah kemarin, tetapi ini masalah hari ini, dan lebih-lebih masalah hari esok dan lusa. Itu yang harus diingat orang Papua. Pada setiap tanggal 11 November disetiap tahun, setiap orang yang merasa dirinya berasal dari dan dilahirkan di atas, hidup di dan akan dikuburkan ke Bumi Cenderawasih, sepatutnyalah berbuat sesuatu, yaitu sesuatu yang berarti dan bermakna bagi tanah leluhur dan bangsanya. Tidak menjadi soal Anda pendukung Otsus atau penentang, tidak masalah Anda pejabat di dalam pemerintahan NKRI atau penentang NKRI, Anda tetap ber-identitas orang Papua, yang dilahirkan, dibersarkan, hidup dan mati di tanah leluhur Bumi Cenderawasih. Oleh karena itu, kasus penculikan dan pembunuhan Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay patutlah menjadi sebuah peristiwa November Kelabu, hari Kematian HAM, Demokrasi dan Supremasi Hukum di Tanah Papua.

Lihat saja apa yang telah terjadi sepeninggalan Theys. Hukum NKRI sendiri dilanggar habis-habisan oleh NKRI dan orang Indonesia sendiri. Lihat saja apa yang sedang terjadi di Era Otsus ini. Era Otsus ini kita sebuah era Post-Theys, era-Beanal, era-status-quo, era kematian sebuah bangsa, era kematian kedua setelah beberapa bulan kebangkitan nasional bangsa Papua waktu itu. Hitung saja berapa Pasal dan Ayat dari UU Otsus No. 21/2011 itu yang telah dilanggar, dan berapa yang tidak dilaksanakan sepenuhnya serta berapa yang sama sekali tidak dilaksanakan, jangankan dibicarakan. Makanya Efendy Choiri, salah satu tokoh Indonesia dari PBNU menyatakan dalam wawancara di TVOne menyatakan saat ditanya, "Berapa persen Otsus berhasil dan berapa persen Otsus gagal?" Beliau katakan secara cepat dan tegas, "Bukan gagal, memang Otsus tidak pernah dilaksanakan. Jadi tidak bisa dikatakan gagal, kalau tidak pernah dilaksanakan."

Kita pindah ke November Kelabu sebagai Hari Kematian HAM di Tanah Papua. Ingat saja minggu ini, minggu lalu, satu minggu lalu, dua minggu lalu, tiga minggu lalu, empat minggu lalu, sampai 10 minggu lalu sampai 100 minggu lalu. Hitung semua dan ingat kembali. Kata Indonesia kepada masyarakat internasional seperti ini,
Kasus-kasus pelanggaran HAM itu pernah terjadi. Kami menyesal itu pernah terjadi. Tetapi kasus-kasus itu terjadi di era yang lain, regime yang lain, era orde baru, regime Soeharto. Sekarang Indonesia ada di era reformasi, era demokratisasi, regime SBY-Kalla dan SBY-Budiono. Era ini era paling demokratis. Kami sangat mendengarkan suara rakyat Papua. Kami menangani soal Papua dengan hati, bukan dengan pikiran atau otak. Kami cintah Papua, yaitu tanah Papua, bukan orang Papua. Biarkan kami membangun orang-orang telanjang ini. Kalau mereka merdeka sendiri mereka akan melarat seperti teman-teman Melanesia di Tomor Leste yang barusan merdeka tetapi masih morat-marit dalam membangun ekonomi mereka. Apalgi orang Melanesia lain di Timur Pulau New Guinea, negara itu termasuk ke dalam negara sedang gagal, kemiskinan merajalela, kekerasan dan premanisme sangat tinggi. Jadi, kalau Papua Merdeka sendiri, pertumpahan darah jauh lebih parah dan sulit dijelaskan. Biarkan kami, orang beradab, orang pintar, orang modern yang membantu membangun bangsa minoritas, terbelakang, kanibal, zaman batu ini.

Biarpun ada saja orang Papua menuntut merdeka, tetapi kami sedang membangun demokrasi, jadi kami tidak akan bunuh mereka. Kami melakukan komunikasi konstruktiv dengan mereka....

Kemudian yang ketia, November Kelabu ini mengingatkan kita tentang hari kematian Demkorasi di Tanah Papua. Lihat saja apa yang terjadi saat KRP II, 2000 dibandingkan dengan yang terjadi dalam KRP III, 2011. Hitung jumlah orang, hitung dari mana saja yang datang, hitung di mana tempat penyelenggaraannya, hitung para tamu dan undangan yang hadir, hitung siapa saja dari pihak NKRI yang hadir dan yang mendanai kegiatan itu. Yang jelas, demokrasi sejak sepeninggalan Theys Eluay telah mati bersamanya.

Demokrasi sepeninggalan Theys Eluay ialah demokrasi yang mandul, karena demokrasi itu telah dikebiri, maka biarpun dia melakukan aktivitas kawin-mengawinkan, tidak bakalan melahirkan sesuatu, karena pada prinsipnya demokrasi di Tanah leluhur Theys Eluay, tanah yang deminya dia dibunuh itu, telah dikebiri.
Karena demokrasi itu telah mandul lantaran dikebiri, maka apapun proses demokratisasi yang sekarang ini terjadi, misalnya KRP III, 2011, pelaksanaan Otsus, dialogue, komunikasi konstruktiv, atau apapun juga, proses demokrasi sulit terjadi. Yang terjadi ialah lawan dari demokrasi, yang bertentangan dengan demokrasi: pelanggaran HAM, kehidupan tidak aman, teror dan intimidasi, penculikan, pengejaran, pengungsian karena pengejaran TNI/ Polri, pengintaian, sampai penembakan, peracunan, pembunuhan secara halus (bio-terrorism) dan pembunuhan dengan perusakan lingkungan tempat tinggal orang Papua (eco-terrorism).
Kalau demokrasi tidak telah dikebiri, jika perlindungan dan pemajuan HAM juga dibunuh, kalau supremasi hukum telah ditambal-sulam dan ditukar-tambah di sana-sini dan bolak-balik, maka jelas dan pastilah bahwa dengan demikian "Perjuangan Damai di Tanah Papua telah dimatikan!" Itulah kesimpulan yang telah terpapar dalam judul buku ini.

Riwayat pembunuhan tidak berakhir di sepuluh tahun lalu. Contoh terbaru kita lihat saat KRP III, 2011 diselenggarakan, pada saat Jaringan Damai Papua setengah mati dan bolak-balik mensosialisikan dan mempersiapkan dasar-dasar untuk mendorong Papua Zona damai, saat itulah, NKRI lewat presidennya sekali lagi menyangkal eksistensi, hargadiri, martabat dan kemanusiaan manusia Papua dengan segala perangka hukum yang telah disahkan Presiden Indonesia sepuluh tahun silam. Pada prinsipnya Presiden NKRI menyatakan, "Anda siapa? I Love Papua, not Papuans! I own Papua, not Papuans!" Yang ditulis dan disahkan Presiden NKRI tahun 2011 sudah banyak yang dilanggar, malahan yang tidak dilanggar hanya satu atau dua. Itulah sebabnya Efendy Choiri menyatakan, "Pertanyaannya bukan pada otsus gagal atau tidak, tetapi Otsus tidak pernah dijalankan." Hukum buatan NKRI dilanggar oleh NKRI sendiri. Apalagi hukum adat dan hukum-hukum yang pernah ada di tanah Papua? Pasti dan harus dilanggarnya atas nama NKRI Harga Mati, bukan?

Kalau kondisi penegakkan supremasi hukum masih seperti ini, kalau masih saja ada orang Papua ditahan tanpa peradilan dan tanpa proses hukum sesuai aturan yang dibuat NKRI sendiri, kalau masih ada orang dikejar-kejar, kalau masih ada penembakan di sana-sini tanpa pernah mengungkap para dalang dan pelaku perbuatan amoral dan kejam ini, maka siapakah orang Indonesia, orang Papua atau manusia di dunia yang bisa dibujuk untuk percaya bahwa NKRI hari ini sedang serius menangani Papua?
***
Sementara ketiganya telah mati bersama Theys, yaitu sepeninggalan mereka berempat, maka orang Papua sekarang semestinya berpikir ke depan, berpikir tentang kelanjutan perjuangannya, tentang Joshua bangsa Papua, tentang langkah berikut, mulai dari apa yang telah ditinggalkan Theys.
Yang ditinggalkan Theys, seperti diulas Sem Karoba, dkk. (2002), Bagian PAPUA MENGENANG, mulai Bab 9. ada 5 hal yang ditinggalkan Theys:
  1. Theys Ondolofo, Tokoh Integrasi dan Tokoh Papua Merdeka
  2. Theys Tokoh Adat Revolusioner
  3. Theys Tidak Ketinggalan Jaman Dalam Politiknya, Berperan Dalam Pentas Perjuangan Dunia Semesta
  4. Theys Adalah Musa Bangsa Papua
Apa artinya Theys Eluay yang awalnya membela NKRI lalu di akhir hidupnya bukan hanya membela tetapi malahan memimpin perjuangan Papua Merdeka? Almarhum sendiri pernah menjawabnya, "Karena ini waktunya! Sekarang saatnya untuk Papua Merdeka!" Di lain waktu juga beliau katakan, "Waktu itu Sukarno yang mencapok negara dan Tanah Papua ke dalam NKRI!" Jadi, dengan kata lain, beliau yakin bahwa waktunya telah tiba bagi bangsa Papua untuk memperjuangkan pengembalian kedaulantannya yang telah diinjak dan diperkosa oleh NKRI. Dalam banyak wawancara almarhum ditawari paket Otsus, tetapi selalu beliau menolak dengan alasan Papua sudah merdeka, sekarang hanya minta pengembalian kedaulatan yang telah dicaplok oleh NKRI.

"PDP tetap akan melakukan upaya lobi sampai tercapai dialog, baik nasional maupun internasional. Ini kami lakukan agar Indonesia secepatnya mengembalikan hak bangsa Papua seperti sebelum 1 Desember 1961, yaitu hak untuk merdeka, yang dicopot oleh Sukarno dengan Operasi Trikora. Waktu itu, Bung Karno menyatakan operasi tersebut untuk membubarkan negara boneka Papua. Padahal yang sebenarnya ada adalah Negara Papua, bukan negara boneka Papua. Orang Papua sudah berdiri sendiri. Papua sudah merdeka."

Theys Hiyo Eluay: "Hak (Papua) Merdeka Dicopot Sukarno" , TEMPO, No. 38/XXX/19 - 25 November 2001 [http://papuapost.com/?p=5113]
Theys memang tokoh adat revolusioner. Dalam buku Sem Karoba, dkk. digambarkan sejumlah orang revolusioner di berbagai belahan Bumi dan menempatkan almarhum Theys Eluay berdekatan dengan Abdurrahman Wahid dan Nelson Mandela. Gus Dur dari sisi kontrovesi yang selalu ditimbulkannya dari apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, serta Mandela dari aspek Kepala Suku dan pengorbanan yang mereka berikan dalam posisi sebagai Kepala Suku. Lebih khusus lagi, kedua Kepala Suku ialah orang-orang modern yang moderat, pemikirannya sangat maju, beradab dan merangkul semua pihak. Jadi, perluangan Papua Merdeka yang dilakukannya bukan karena Theys membenci orang Indonesia. Sama sekali tidak. Theys punya banyak sekali penggemar dan sahabatnya di Indonesia. Yang ditentangnya ialah negara Indonesia, bukan orang Indonesia. Maka itulah perjuangan yang dikedepankannya ialah perjuangan damai, sopan-santun dan demokratis.

Karena ketokohannya yang revolusioner itu, beliau hampir saja ditempatkan sebagai tokoh adat yang revolusioner, yaitu pemain politik global yang berasal dari tokoh adat. Agenda terpenting dan yang tidak mudah dilupakan yang pernah ia sampaikan kepada Wartawan Majalah Tempo beberapa minggu sebelum almarhum dibunuh saat beliau ditanyakan "Apa program pertama yang hendak dilakukan di pentas politik global seusai Papua Merdeka?" maka almarhum katakan,
"Saya akan berkampanye ke seluruh dunia, mengusulkan agenda ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, membangun aliansi ke seluruh dunia untuk menutup semua pabrik-pabrik senjata dan diganti dengan pabrik makanan."

Sebuah pandangan yang sangat menarik. Tidak mungkin SBY membayangkan itu, malahan SBY mau membangun pabriks senjata di Indonesia. Tidak ada seorangpun Presiden negara-bangsa merdeka dan berdaulat hari ini yang punya agenda seperti itu, kecuali Theys Hiyo Eluay. Agenda itu tertinggal untuk orang Papua, generasi penerus, entah siapa menjadi penggantinya nanti, untuk meneruskan program yang telah disampaikannya dimaksud. Penerus perjuangannya berarti juga penerus agendanya, baik agendanya untuk tanah air dan bangsanya, dan juga untuk sekalian manusia dan planet Bumi.

Itulah pemikiran Alm. Theys Eluay yang berkaliber internasional, seorang tokoh adat yang revolusioner, seorang yang tahu diri dan tahu waktu kapan harus berbicara dan berjuang untuk Papua Merdeka, seorang yang tahu akan mati sebelum perjuangan yang dipimpinnya itu tuntas.

Itulah sebabnya Alm. Theys Hiyo Eluay pernah katakan seperti diutarakan Thaha Moh. Al-Hamid dalam Sambutan Pengantar dari Buku dimaksud,

"Untuk selamanya Theys telah pergi dalam jeritan seribu jiwa, tetapi semangat dan kesadaran perjuangan kini bersemayam di kalbu setiap anak Papua, sebagaimana ia bersaksi tatkala kami berlima menyantap hidangan tahun baru 2001 di bilik penjara Abepura: “perjuangan harus jalan terus, darah dan nyawa saya akan mengantar orang Papua ke gerbang kemerdekaan”.
Jadi, beliau tahu persis, bahwa ia akan mati, dan kedua bahwa dengan kematiannya itu akan mengantar bangsanya ke gerbang kemerdekaan. Demikianlah Musa sampai ke Gunung Sinai, dan memandang jauh ke Tanah Kanaan, tanah Perjanjian Allah, tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah, tanah yang untuknya Musa telah menghadap Firaun berkali-kali di Mesir, yang menyebakan banyak tulah bagi kaum penjajah, yang memaksa bangsa pilihannya keluar dari penjajahan dan perbudakan, yang dalam perjalanannya dipenuhi jerih-payah. Di gunung itu, Musa hanya diizinkan untuk memandang ke Tanah Kanaan, dan pada saat memandangnya, ia melihat gambaran janji-janji Tuhan itu telah tergenapi. Tetapi sayang, ada alasan dan ada sebabnya, Musa sendiri tidak diperbolehkan menyeberang Sungai Yordan. Dia harus tinggal di sebelah Sungai Yordan. Tujuan Musa membawa keluar bangsanya dari perbudakan dan penjajahan telah tercapai, tetapi Musa sendiri tidak ikut secara fisik masuk ke Tanah Kanaan. Itulah yang dikatakan Theys Eluay kepada Thaha Al-Hamid, bukan?
***
Yang pertama telah digenapi, yaitu Musa memang harus mati, tidak ikut masuk ke Tanah Kanaan. Itulah sebabnya kita peringati hari ini sebagai tahun ke sepuluh dari peristiwa itu. Sekarang kita menantikan hal kedua yang ditinggalkannya untuk digenapi, yaitu sudah 10 tahun bangsa ini menunggu Joshua untuk berdiri di tengah-tengah bangsanya di Tanah leluhurnya, meneruskan tongkat estafet yang ditinggalkan Theys Eluay, menyeberangi Sungai Yordan, membasmikan secara tuntas semua musuh yang menghuni wilayah itu, dan mendiami Tanah Perjanjian itu. Sudah 10 tahun bangsa Papua tinggal tanpa pemimpin. Sudah 10 tahun sudah bangsa ini menantikan para pembunuh hak kebangsaan dan hak hidup orang Papua angkat kaki dari tanah leluhur orang Melanesia di bagian barat Pulau New Guniea. Sudah 10 tahun para pembunuh Musa Papua itu tidak pernah diungkap secara tuntas dan bertanggungjawab.
  • Apakah 10 tahun ini artinya hanya sebuah bilangan genap yang bisa saja berlalu tanpa arti apa-apa?
  • Apakah Kongres Rakyat Papua III, 2011 membuka jalan ke arah itu?
  • Apakah Jaringan Damai Papua dengan agenda dialoguenya merupakan jalan ke arah itu?
  • Apakah KNPB dan jaringannya mengarah ke sana?
  • Apakah ILWP/IPWP dan segala gerakannya menunjukkan titik terang ke arah sana?
  • Apakah itu...? ? ?
****Oleh Sem Karoba, salah satu dari penulis buku: PAPUA MENGGUGAT: Penculikan dan Pembunuhan Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay - Hari Kematian HAM, Demokrasi dan Supremasi Hukum di Tanah Papua", terbitan w@tchPAPUA - GalangPress.

The Winners of 2011 End of Year Book Contest

Happy New Year Everyone!!
Selamat tahun baru dan selamat bekerja keras untuk mewujudkan resolusi-resolusi tahun 2012.

Kontes Tahunan pertama saya yang telah berjalan selama 34 hari sejak tanggal 24 November - 28 Desember 2011 lalu telah diikuti oleh 24 blogger aktif! Saya harap untuk tahun-tahun berikutnya kontes ini bisa terus diadakan dan diikuti oleh seluruh blogger Indonesia. Terima kasih banyak atas partisipasinya ya teman-teman blogger *bowing 90 degrees*






Membaca setiap review yang disertakan teman-teman blogger sungguh menyenangkan. You guys really made my day! Banyak buku-buku menarik yang belum pernah saya baca. Buku-buku itu segera masuk wish-list saya karena kalian mereviewnya dengan menarik. Dan yang menjadi dilema adalah review teman-teman bagus semua sampai bingung menentukan kelima pemenang yang beruntung. Tapi tetap harus ada lima review terpilih kan, so..

And the Winners are...
*urutan pemenang tidak menentukan peringkat

Rosa Fibrianti
A.S. Dewi
Rahmatika D. Amalia
Alfiyana Yulia Sari
Yayun Riwinasti

 (: ~Congratulations~ :)

Hadiahnya~

*hadiah dipilih berdasarkan skala prioritas pilihan pemenang dalam formulir :)

Ketentuan Pemenang

  • Pemenang akan dihubungi oleh saya dan diharapkan konfirmasinya dalam waktu 3x24 jam (paling lambat konfirmasi tanggal 5 Januari 2012 pukul 15.00 WIB)
  • Jika tidak ada kabar dari pemenang maka dianggap gugur dan akan dipilih pemenang baru 
  • Pemenang bersedia untuk mereview buku yang dimenangkan terhitung maksimal satu bulan sejak buku diterima
*Semoga teman-teman tidak keberatan ya, karena ketentuan diatas sudah ditetapkan sejak kontes dimulai. Untuk lebih jelasnya bisa dicek lagi disini.

Selamat untuk para pemenang, selamat menikmati semangat tahun baru dengan membaca buku-buku menarik dari Penerbit Pustaka Jaya. Buat yang masih penasaran dengan Pustaka Jaya, silakan kunjungi http://demipustakajaya.wordpress.com/ Lalu, teman-teman yang ingin membeli buku-buku terbitan Pustaka Jaya bisa langsung klik PESAN.

Dan bagi yang belum beruntung, jangan kecewa karena sebentar lagi saya akan menyelenggarakan Monthly Giveaway disini. Saya tunggu partisipasinyaaa~ :) :) :)

~Terima kasih~

MENU MAKAN SEDEHANA ALA KAMPUNG

Bahan :
Nasi
Lauk :
Kacang panjang, daun ubi rebus, kerupuk.
Menu makan ini sangat sederhana, makanan ini biasanya di temukan di kampung-kampung petani, sangat enak kalau dimakan di gubug ditengah sawah. Daun ubinya direbus dulu, sedang kacang panjangnya dicuci bersih saja. Bagi Anda yang terbiasa makan dengan makanan yang mewah, cobain dech menu ini. Kalau mau yang asli kunjungi saja kampung petani didekat rumah Anda.