Selasa, 13 Desember 2011

Dubes Inggris Bantah Senatornya Dukung Kemerdekaan Papua

Reporter foto detik.com
Duta Besar Kerajaan Inggris untuk RI Mark Canning membantah bahwa senator asal Inggris memberikan dukungan atas upaya kemerdekaan yang dilakukan masyarakat Papua. Pemerintahan Inggris memastikan, bahwa hingga kini masih mendukung keutuhan NKRI, dan Papua menjadi bagian di dalamnya.
published, here
“Salah satu agenda yang disampaikan Duta Besar Kerajaan Inggris dalam pertemuan dengan Komisi I DPR itu, mereka memberikan klarifikasi, bahwa tidak benar Pemerintahh Inggris mendukung kemerdekaan Papua,” tegas anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertapi yang ikut dalam pertemuan dengan Dubes Inggris di ruang Komisi I DPR kepada Jurnalparlemen.com, Selasa petang (13/12).

Menurut Duta besar Inggris, kata Susaningtyas, sikap senator Inggris dalam kasus Papua itu bukanlah sebuah intervensi pada Pemerintahan Indonesia. Namun, hanya sikap kritis atas kondisi yang terjadi di Papua tersebut.

Susaningtyas menjelaskan, dalam pertemuan itu Duta Besar Inggris menegaskan soal Papua, dukungan Inggris untuk proses demokrasi di Indonesia khususnya soal Papua ; untuk tidak diragukan kembali .

“Inggris juga akan meningkatkan kerja sama dalam bidang ekonomi. Mengingat di Papua , misalnya, Inggris juga memiliki perusahaan Britis Petroleum dan lainnya. Karena itu, Inggris tidak ingin melukai hubungan bilateral dengan RI yang telah berjalan dengan baik, terkait isu Papua tersebut,” tegas politisi Partai Hanura ini.

Dalam pertemuan itu, Inggris menyatakan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama yang erat dengan Pemerintah Indonesia, termasuk dengan DPR RI. Mengingat Poisisi Parlemen RI memiliki peran strategis dalam sistem pemerintahan RI.

”Untuk tujuan ; mempererat hubungan ini, Perdana Menteri Inggris pun berencana akan berkunjung ke RI dalam waktu dekat ini,” ujarnya.

Sebelumnya, sebuah dokumen rahasia yang diduga dibuat Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat bocor ke media Australia dan dimuat di kelompok surat kabar Fairfax, pada Sabtu (13/8/2011). Dokumen tersebut memaparkan detail ancaman gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka.

Dokumen berjudul "Anatomi Separatisme Papua" itu menyebut dengan detail tokoh-tokoh kunci gerakan separatis tersebut dan berbagai tokoh dari luar negeri yang menjadi simpatisan gerakan Papua merdeka ini.

Mereka antara lain Senator AS dari Partai Demokrat Dianne Feinstein; anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Andrew Smith; mantan Perdana Menteri Papua Niugini Michael Somare; bahkan pejuang antiapartheid Afrika Selatan Uskup Agung Desmond Tutu.

Salah satu surat kabar dari kelompok media Fairfax, The Saturday Age, mengaku mendapatkan 19 dokumen rahasia Kopassus, yang dibuat tahun 2006-2009. Surat kabar tersebut tidak menyebutkan bagaimana dokumen tersebut bisa bocor ke tangan mereka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar