Kamis, 01 Maret 2012

Gereja dan Separatisme di Tanah Papua Barat


 Oleh : Socratez Sofyan Yoman*

Pdt.Socratez Sofyan Yoman depan umat Baptis (Foto:dok pgbp)

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surge dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepada. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20).
Setelah saya membaca harian Bintang Papua, Rabu, 22 Februari 2012 di halaman depan ada tertulis komentar Pangdam XVII/Cenderwasih Mayjen TNI Muhamad Erwin Syahfitri,   yang bertopik: “Hadapi Separatis di Papua Bukan Hanya Tugas TNI”, dan pernyataan selanjutnya dapat dikutip: “Untuk menangani masalah separatis di Papua, bukanlah semata menjadi tugas dan tanggungjawab dari Kodam XVII/Cenderawasih semata, namun  merupakan tanggungjawab kita bersama seluruh komponen yang ada di Papua serta masyarakat Papua pada umumnya.” 

Sebelum saya  menanggapi pernyataan bapak Pangdam ini,  saya menyampaikan Selamat Datang,  Bapak Mayjen TNI Muhamad Erwin Syahfitri,  ke Tanah Papua untuk kita bersama-sama menjaga dan menggembalakan domba-domba Allah dalam bidang tugas dan panggilan kita masing-masing. Tuhan memberkati bapak dalam tugas dan keluarga.    
Perlu saya mengajukan beberapa pertanyaan  dalam kapasitas dan tugas saya sebagai seorang gembala Umat.  Pertama, Siapa yang maksudkan separatis itu?  Kedua, Siapa yang maksudkan dengan “semua komponen”?   Ketiga, Apakah semua komponen itu  termasuk Gereja  untuk mengahapi Separatis di Papua? 
Sesuai dengan Amanat Agung Yesus Kristus yang dikutip di atas, dalam semangat dan panggilan suci ini, dua misionaris dari  Eropa, Johann Gotlob Geisller dan Carl William Ottow sebagai utusan Tuhan dan Gereja-Nya, tuba di Tanah orang Melanesia, Masyarakat Adat dan Penduduk Pribumi, Pemilik Tanah dan Negeri Papua, pada hari Minggu pagi, 5 Februari 1855, tepatnya di Teluk Doreh Mansinam, Manokwari. Mereka berdoa: “ Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami menginjak kaki di Tanah ini.” 
Dua Misionaris dari Jerman ini datang ke Tanah Melanesia kepada masyarakat Adat dan Penduduk Pribumi Papua, bertemu dengan orang Papua, bersahabat dengan orang Papua, tinggal dengan orang Papua, makan bersama dengan orang Papua, menghargai orang Papua, menghormati hak hidup orang Papua, mengakui martabat orang Papua, mengangkat kesamaan derajat orang Papua. Tidak pernah dan belum pernah melukai orang Papua  secara fisik maupun mental. Ottow dan Geisller benar-benar menjadi sahabat setia orang Papua dalam suka dan duka. Ottow dan Geissler sebagai utusan TUHAN dan Gereja-Nya belum pernah bahkan tidak pernah memberikan stigma orang Papua seperti separatis, makar, OPM, primitif, kanibal, terbelakang, terbodoh, termiskin, tertinggal. Karena, kedua misionaris sebagai utusan TUHAN ini menyadari bahwa stigma-stigma seperti itu lebih layak digunakan oleh para penjajah, kolonial dan penindas. 
Peristiwa bermakna historis kehadiran gereja di tengah-tengah masyarakat Adat, Penduduk Pribumi, Pemilik Negeri dan Tanah Papua ini, 157 tahun  sejak 5 Februari 1855, sebelum Indonesia menduduki dan menjajah Papua 1 Mei 1963,  adalah merupakan tonggak sejarah awal peradaban suci dan mulia, sejarah kemanusiaan dimana hadirnya Kabar Baik, keadilan, perdamaian yang bersumber dari Injil Yesus Kristus. Karena, Injil adalah kekuatan Allah yang membebaskan manusia dari belenggu dosa dan membebaskan manusia dari penindasan dan kolonialisme, menghargai hak asasi manusia, mengangkat martabat manusia, merobohkan benteng-benteng diskriminasi dan eksploitasi hidup manusia, menghapuskan tetesan air mata dan cucuran darah orang-orang kecil yang tertindas. 
“Roh Tuhan ada pada-Ku, untuk menyampaikan kabar baik, kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Yesaya 61:1-2; Lukas 4:18-19). 
Gereja sebagai ibu dan pelindung umat Tuhan, yang sudah ada hampir 157 tahun di atas Tanah ini  mengetahui bahwa manusia Papua adalah bagian dari gambar dan rupa Allah. Seperti Allah berfirman: “Marilah Kita menjadikan manusia sesuai  gambar dan rupa Allah” (Kejadian 1:26). Ada tugas pada Gereja bahwa “Gembalakanlah domba-domba” (Yohanes 21:15-19). Yesus juga mengatakan dengan tegas kepada gembala: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan,Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala hal” (Yohanes 10:10).   
Melihat dari tugas panggilan dan misi Gereja, kalau untuk pernyataan Bapak Pangdam XVII Cenderawasih :  “Untuk menangani masalah separatis di Papua, bukanlah semata menjadi tugas dan tanggungjawab dari Kodam XVII/Cenderawasih semata, namun  merupakan tanggungjawab kita bersama seluruh komponen yang ada di Papua serta masyarakat Papua pada umumnya.” Kalau dikatakan “seluruh komponen”, itu dimaksudkan dengan Gereja, saya minta maaf karena sejak  sejak 5 Februari 1855 Gereja menginjak kaki di Tanah Papau belum pernah mengetahui manusia Separatis di Papua. 
Yang gereja tahu, gereja kenal, gereja hidup bersama mereka, dan gereja datang kepada mereka adalah manusia-manusia gambar dan rupa Allah yang mempunyai Tanah dan Negeri Papua Barat secara sah dan resmi. Bapak Pangdam yang mulia, kami Gereja meminta dengan hormat, tunjukkanlah kepada kami Gereja, manusia separatis itu yang bagaimana bentuknya?  Dari mana datangnya? Apakah orang-orang kulit hitam dan rambut keriting yang dimaksud separatis? Kalau ini yang dimaksud separatis selama ini, maka stigma yang merendahkan martabat dan kehormatan terhadap penduduk asli Papua tidak dapat diterima dengan alasan apapun, termasuk alasan keamanan Negara atau nasional.Karena harga dan nilai teman manusia lebih tinggi di hadapan Allah dan Gereja daripada keamanan nasional yang penuh dengan kepentingan dan kejahatan. 
Minta maaf, waktu Gereja datang ke Tanah Papua, sejak 5 Februari 1855, sudah 157 tahun sekarang, pada waktu kami ke kampung-kampung, ke daerah-daerah terpencil, kami tidak pernah menemukan manusia yang namanya separatis, Makar dan OPM. Kami selalu menemukan Penduduk Asli, Masyarakat Adat, Pemilik Negeri Tanah ini. Kami Gereja juga malu dan takut karena kami datang di Tanah mereka dan selalu mengganggu ketenangan dan kenyamanan mereka. Kami Gereja juga seakan-akan penyelamat, pada kenyataannya Gereja juga kepanjangan tangan penjajah dan pencuri yang selalu mengatakan di mimbar-mimbar bahwa “pemerintah adalah wakil Allah di bumi.” Pada kenyataannya pemerintah wakil Allah itu membunuh umat Tuhan dengan stigma separatis, makar dan OPM. Pemerintah penjahat  dan pembunuh umat Tuhan itu bukan wakil Allah.   
Karena itu, solusi terbaik yang berprospek damai dan manusiawi yang saya usulkan sebagai bahan pertimbangan pemerintah Indonesia ialah: Pertama, Pemerintah Indonesia dengan jiwa besar harus mengakui kekagagalan dan kesalahan terhadap penduduk asli Papua sejak 1 Mei 1963 sampai hari ini  dan harus mengakhiri pendudukan dan penjajahan di atas Tanah Papua. Kedua, Pemerintah Indonesia dan Rakyat Papua sebagai dua bangsa harus membuat perjanjian-perjanjian kerja sama dalam bidang : ekonomi, keamanan, politik dan bagaimana nasib orang-orang Melayu, Indonesia yang sudah lama berada di Papua dan termasuk penduduk Transmigrasi.  Ketiga,  Papua  dijadikan Tempat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan juga tempat Tenaga Kerja Wanita Indonesia (TKW) supaya jangan digantung seperti hewan di daerah yang mayoritas beragama Muslim.
Demi kemanusiaan dan kesamaan derajat, opsi-opsi atau alternatif-altermatif yang diusulkan ini diharapkan menjadi bahan perenungan dan refleksi pemerintah dan aparat keamanan Indonesia dalam menyikapi masalah Papua dengan bijaksana.     
Ketiga solusi di atas dapat disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua, maka Indonesia dan Papua kita wujudkan seperti Firman Allah dikutip ini:  “ Seriga akan tinggal bersama domba dan macan tutl akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput, dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut menutupi dasarnya.” (Yesaya 11:6-10).  Shalom. Selamat membaca. Tuhan memberkati.

*Penulis: Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar