Selasa, 13 Maret 2012

I Hate Rich Men

Judul: I Hate Rich Men
Penulis: Virginia Novita
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Hlm: 288
ISBN: 9789792278453




Review:


Tidak pernah ada yang menyangka bahwa Miranda yang tampak seperti gadis pertengahan 20an ini aslinya sudah berusia 35 tahun. Tidak hanya itu, Miranda yang masih suka memakai kaus lucu, celana jeans, dan sneakers itu rupanya sudah punya anak lelaki... berusia 17 tahun!

Hidupnya terasa jungkir balik ketika Miranda diculik (iya, diculik!) oleh Adrian Aditomo dan di sekap di Bali untuk membuntuti Nino—anak Miranda, redyang dituduh merebut tunangan Adrian. Jadi mereka berdua harus memastikan agar Nino dan Jessica—tunangan Adrian, redtidak macam-macam selama liburan di Bali.

Miranda yakin sekali Nino tidak mungkin merebut tunangan orang lain, apalagi Nino kan masih remaja. Tidak mungkin Nino tertarik dengan tante-tante girang. Jadi Miranda setuju mengikuti rencana Adrian. Tapi sayang tugasnya tidak mudah, apalagi ia harus terus berduaan dengan Adrian. Selain tampan Adrian rupanya seorang konglomerat. Miranda benci sekali dengan orang kaya. 

Sudah lama saya tidak menikmati metropop sekelas ini. Ide cerita menarik, karakter kuat nan lovable, plot mengalir lancar, alur sedang tapi tepat, dan gaya bahasa yang enak dibaca. Selain itu no typo—kayaknya sih, at least from my point of view, redsaya kegirangan. 

Virginia Novita saya lihat luwes sekali menulis buku metropop pertamanya. Saya begitu menikmati membaca I Hate Rich Man dan nyaris saya beri bintang lima. Tapi tentu tidak ada yang sempurna ya. Sayangnya ada beberapa yang terkadang membuat saya tidak nyaman, yaitu adanya inkonsistensi gaya bahasa. 

Berbanding terbalik dengan keluwesan perpindahan sudut pandang antar tokoh dalam novelnya. Virginia Novita rupanya tidak luwes dalam menggunakan gaya bahasa gaul dan formal.

Dalam beberapa paragraf saya lihat penggunaan gaya bahasa semi-formal sangat konsisten—mirip gaya bahasa terjemahandan enak sekali dibaca. Lalu di beberapa paragraf ada penggunaan bahasa gaul yang sering kita temui dalam percakapan sehari-sehari. That's fine too, karena gaya bahasanya masih luwes dan enak diikuti. Namun kegagalan terjadi ketika kedua gaya bahasa formal dan gaul di gabung dalam satu paragraf—dalam kasus ini; ada lumayan banyak paragrafAnd I was like, eeewww, kok jadinya aneh banget.

Tapi secara keseluruhan saya suka sekali dengan buku ini, bahkan endingnya pun sangat-sangat manis. Selera humor Virginia Novita juga oke, terlihat pas di beberapa adegan serius tapi dialognya tetap lucu tanpa harus jadi terlalu garing. So I'm proudly present this book a 4 stars out of 5!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar