Kamis, 19 April 2012

R A Kartini - Pelopor Emansipasi Wanita

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Ia lahir dari keluarga ningrat. Ayahnya R.M.A.A Sosroningrat pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong dan Ibunya bernama M.A. Ngasirah. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayah Kartini menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan.



Kartini adalah keturunan keluarga yang cerdas tapi bagi wanita dia hanya diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) sampai berumur 12 tahun. Namun Kartini yang bisa berbahasa Belanda, di rumahnya ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie dan banyak tulisan Kartini yang dimuat di majalah tersebut. Tampaklah Kartini merupakan seorang yang rajin membaca apa saja dengan penuh perhatian dan seorang wanita yang pandai dalam membuat tulisan-tulisan.



Perhatian Kartini pun tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata) yang semuanya berbahasa Belanda. Kartini adalah orang yang rajin berkorespondensi dengan orang-orang Belanda sehingga ia menjadi cerdas, apalagi dibanding dengan perempuan pribumi lain pada masa itu. Pemerintah Liberal Belanda punya kepentingan untuk mengangkat dan mempopulerkan Kartini untuk membuktikan bahwa politik mereka yaitu politik etis berhasil.



Pemerintah Liberal Belanda pun memberikan bea siswa kepada Kartini untuk sekolah sampai ke sekolah tinggi tetapi Kartini dilarang oleh orangtuanya karena menurut orang tuanya dan budaya masa itu perempuan tidak perlu untuk sekolah tinggi-tinggi. Bukan saja adat yang membuat ayah Kartini melarang Kartini belajar ke Eropa melainkan ayah Kartini meragukan iktikad baik orang Eropa yang mau menyekolahkan Kartini. Semula Kartini menggebu akan belajar ke Eropa, tapi ternyata halangannya sangat besar. Oleh orangtuanya Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Pada saat menjelang pernikahan terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran dan menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan pribumi kala itu.



Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan memberikan kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur kompleks kantor kabupaten Rembang. Sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan pribumi saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku. Anak pertama Kartini dan sekaligus anak terakhirnya RM Soesalit lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Jasa Kartini selalu dikenang terutama sebagai pejuang emansipasi wanita. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dikeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Keputusan Presiden itu pun sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April untuk diperingati sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini



Sesudah Kartini wafat perjuangannya dalam sekolah diteruskan oleh adik-adiknya yaitu Roekmini, Kardinah, dan Soematri. Berkat semangat dan kegigihan Kartini, didirikanlah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini" dan Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer yang merupakan seorang tokoh Politik Etis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar