Senin, 14 November 2011

Orang dan Bambu Jepang


Judul: Orang dan Bambu jepang
Penulis: Ajip Rosidi
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun: Cetakan kedua, 2009
Hlm: 208
ISBN: 9789794193662

Ajip Rosidi, bermukim selama 22 tahun di Jepang sebagai gai-jin (orang asing). Ia mengamati keseharian orang-orang jepang lalu menuangkannya dalam 28 esai yang dimuat dalam berbagai surat kabar lalu kemudian dibukukan ini. 

Banyak kisah-kisah menarik yang diceritakan oleh Ajip Rosidi tentang Jepang, seperti sistem pemerintahan, sistem perkerataapian, perayaan-perayaan, dan sifat-sifat serta budaya orang Jepang yang menjadi wacana baru bagi saya.

Misalnya saja, dalam esai Perkertaapian, hlm 27, "...dalam sebuah kompleks stasiun kita dapat menemukan beberapa stasiun kereta api dari berbagai macam perusahaan yang mempunyai berbagai macam tujuan pula." yang merupakan sebuah pengetahuan baru bagi saya karena selama ini saya pikir lumrah dimana-mana perusahaan Kereta Api dimonopoli satu lembaga, seperti di Indonesia. 

Dalam esai Berobat, hlm.88, "...Di Jepang, setiap orang (juru rawat dan juga dokter) seperti selalu berlari-lari."dan bahkan Ajip Rosidi menambahkan bahwa ruang jaga perawat disana tidak ada kursi sehingga saat bekerja mereka benar-benar total. Sebagai perbandingan dari kinerja juru rawat di RS Indonesia yang belum setotal perawat-perawat Jepang--yang saya amini, tentunya.

Meskipun begitu, Ajip Rosidi dengan sukses menggambarkan kearifan dan kesederhanaan budaya Jepang yang sampai sekarang masih dianut dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Jepang. Seperti yang digambarkan dalam esai berjudul Hanami dan Tahun Baru, bahwa orang Jepang tahu cara berpesta dan bersenang-senang. Kearifan dalam budaya berkata jujur dan mengembalikan barang yang bukan hak milik ke kantor polisi. Sebagaimana juga rasa tanggung jawab tinggi yang tercermin dalam pelayanan pegawai negeri di sektor publik dan pemerintahan yang patut kita teladani.

Pendapatnya tak lepas dari prinsip, pandangan, dan kebudayaan orang-orang Jepang yang familiar sekali bagi saya karena saya sering sekali baca komik-komik jepang sejak kecil. Hanya saja Ajip Rosidi terlalu berat sebelah dalam menceritakan sudut pandanganya. Menjelekkan negara sendiri disaat yang sama memuja negara lain terasa tidak pas. Maksudnya baik sih, demi membangun negeri yang masih carut marut karena pemerintahan yang buruk. Tapi lama-lama jadi terasa mengganggu. Mungkin sekali dua kali menyindir tidak masalah, tapi kalau terlalu sering bisa membuat pembaca risih. Malah terkesan kurang bijaksana dalam berpendapat. Walau beberapa esai terakhir orang Jepang itu sendiri pun lebih banyak disindir karena kekurangannya. Tapi, menurut saya, sindiran yang overlapping terhadap negeri sendiri dalam setiap esai justru mengurangi keindahan Jepang secara keseluruhan. Saya memang tidak pernah cocok dengan gaya bertutur dan kritik nyinyir meski beberapa orang menyukainya.

Sayang sekali buku ini terlalu tipis untuk diceritakan semuanya, jadi biarlah sepenggal saja yang saya ungkap. Sisanya bisa dilanjut baca sendiri. Hehe. Yang jelas, bagi pecinta Jepang, tak ada salahnya melengkapi koleksi bacaan dengan buku ini, lumayan buat pendalaman saat nanti baca komik, jadi bisa lebih memahami sistem keseharian yang akrab ditampilkan dalam keseharian karakter komik. Kumpulan esai Orang dan Bambu Jepang karya Ajip Rosidi dan buku-buku klasik terbitan Pustaka Jaya lainnya sekarang ini sudah bisa dipesan disini lho dan dapatkan discount 30% all itemnya. Akhir kata, selamat membaca :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar