Selasa, 29 November 2011

Sarah's Key

Judul: Sarah's Key
Penulis: Tatiana De Rosnay
Penerjemah: Lily Endang Joeliani
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tahun: 2011
Hlm: 356
ISBN: 978602000923


Review:


Kisah dimulai pada musim panas di Prancis, Juli 1942 pada malam hari terjadi pengumpulan besar-besaran terhadap orang Yahudi oleh polisi Prancis sendiri. (atas perintah Jerman) Sebelumnya sudah santer beredar rumor akan adanya penggerebekan besar-besaran terhadap kaum Yahudi, tapi biasanya yang ditangkapi hanyalah para laki-laki saja. 

Makanya, ayah Sarah Starzynski sudah berhari-hari bersembunyi di bawah tanah. Tapi siapa sangka penggerebekan kali ini juga menyertakan perempuan dan anak-anak. Jadi, ketika pintu rumah Sarah digedor oleh polisi Perancis yang menyuruh mereka segera mengemasi perbekalan untuk beberapa hari saja, Sarah sangat terkejut, sedangkan Michele adik laki-lakinya ketakutan. Michele akhirnya bersembunyi di lemari mereka yang menyatu dengan dinding, tak ada yang tahu tempat persembunyian itu kecuali keluarga mereka. Sarah dengan polos menuruti permintaan adiknya, ia pikir mereka hanya pergi sebentar saja. Jadi, Sarah mengunci lemari itu dari luar, menyimpan kuncinya, dan berjanji bahwa ia akan segera kembali untuk menjemput Michele.

Enam puluh tahun kemudian, Julia Jarmond, seorang jurnalis paruh baya asal Amerika, yang telah 25 tahun tinggal di Perancis ini bertugas meliput fakta-fakta tentang Vel' d'Hiv' dan terutama menemukan saksi mata serta orang-orang yang berhasil bertahan hidup untuk diwawancarai. Rupanya hidup Julia dan keluarga suaminya memiliki hubungan yang erat dengan kisah Sarah Starzynski. Kepekaan dan rasa ingin tahunya yang besar menyeret Julia untuk mencari tahu bagaimana nasib Sarah. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah Sarah berhasil kembali untuk adiknya?

Novel ini terinspirasi dari kejadian Velodrome d'Hiver yang terjadi pada masa pendudukan Jerman, pada saat itu kekuasaan Nazi mulai masuk hingga ke negara Prancis. Sarah dan orang tuanya tak terkecuali salah satu keluarga Yahudi yang ikut tergiring ke Velodrome d'Hiver (stadion indoor) sebelum nantinya dikirim ke Auschwits untuk dimasukkan dalam kamar gas. Juga novel kedua terkait Holocaust yang saya baca setelah novel klasik The Boy in he Striped Pyjamas.

Tatiana De Rosnay mengangkat topik sensitif dan menghadirkannya dalam fiksi yang sangat mengena tanpa terkesan terlalu dibuat-buat. Dengan penyampaian yang menarik meski tidak dapat digolongkan ringan membuat saya betah membaca buku ini. Saya salut sekali dengan kepiawaian penulis yang membuat tema berat menjadi sesuatu yang sangat mudah dibaca.

Kehadiran tokoh Sarah yang masih kanak-kanak juga terdeskripsi dengan apik, dimana karakternya penuh dengan emosi kebingungan dan pemahaman lugu sejauh yang secara psikologis mampu diterima oleh anak berusia sepuluh tahun dalam kondisi tertekan. Untungnya diimbangi sudut pandang Julia Garmond dari sisi karakter yang serba tahu mengenai tragedi penangkapan tersebut sehingga ada pemahaman mendalam yang mampu menjembatani pembaca dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peristiwa yang dialami Sarah.

Buku yang menarik ini rupanya juga telah difilmkan dengan judul yang sama Sarah's Key (judul aslinya Elle s'appelait Sarah) pada tahun 2010 lalu. Saya suka sekali pemeran Sarah dalam film ini. Secantik yang saya bayangkan.



Tentunya versi film sedikit berbeda dengan bukunya meski secara garis besar mampu menyajikan seluruh esensi dari kisah aslinya. Yang saya suka dari adaptasi film  ini adalah terekamnya adegan-adegan yang menyentuh secara emosional dapat tervisualisasikan dengan baik. Seperti adegan pemisahan para ibu dengan anak-anaknya secara paksa. Dan bahkan ada adegan pencarian yang dilakukan Julia Jarmond  saat di Amerika yang secara logis mengungkap beberapa hal yang sempat menjadi tanda tanya besar bagi saya saat membaca bukunya.

Seperti yang diungkapkan Tatiana De Rosnay dalam Catatan Penulis bahwa novel ini tidak dimaksudkan menjadi buku sejarah, melainkan untuk menghormati anak-anak Vel' d'Hiv' yang tidak pernah kembali dan anak-anak yang selamat untuk berbagi cerita. Kisah Sarah ini menyadarkan saya bahwa kita adalah apa yang dihasilkan oleh sejarah hidup kita selama ini. Anak-anak yang berhasil bertahan hidup harus terus hidup dengan membawa mimpi buruk atas apa yang pernah mereka alami. Mereka tidak pernah benar-benar bisa lepas atau lupa. 

Saya bertanya-tanya, apakah mereka yang bertahan hidup tidak lebih beruntung dari mereka yang tidak pernah selamat?  


PS: Ditulis dalam rangka posting bersama buku Sarah's Key dengan #BBI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar