Sabtu, 12 November 2011

Hati-hati dengan Pujian

Oleh: Muhammad Nuh

Kirim Print
dakwatuna.com – “Orang yang diajak musyawarah (dimintai pendapat) adalah yang bisa memegang amanat (dapat menyimpan rahasia).” (HR. Athabrani)

Maha Sayang Allah yang telah menganugerahkan hidayah pada hati-hati yang tunduk. Ruang hati pun terpenuhi cahaya iman. Kilauannya bisa meleburkan kesombongan, kekikiran, dan benci. Dari hati inilah, rahasia hamba-hamba Allah terjaga dan terawat.

Kelengahan terjadi ketika orang banyak bicara

Tak ada yang salah dari orang yang banyak bicara. Selama yang dibicarakan berisi nasihat, dakwah, pengajaran; bicara justru jadi ibadah. Tapi ketika bicara tak lagi punya isi: canda, obrolan kosong, dan lain-lain; bicara bisa memunculkan fitnah. Dan salah satu fitnah itu, terungkapnya rahasia. Bisa rahasia pribadi, keluarga, bahkan organisasi.

Rasulullah saw. pernah memberi nasihat agar seorang mukmin senantiasa bicara yang baik-baik. Atau, diam. Inilah sebuah pelajaran bahwa lidah bisa memunculkan kesalahan fatal. Ketika orang tak lagi mampu mengendalikan syahwat bicaranya, berbagai kesalahan termasuk terungkapnya rahasia bisa muncul begitu saja. Ringan. Tanpa beban.

Ketika orang tak lagi sungkan bicara yang remeh temeh, gosip; maka aib bisa terbaca pendengar dengan mudah. Bisa aib diri sendiri, isteri, orang tua, tetangga, dan lain-lain.

Biasanya, orang yang terlalu banyak bicara rentan keceplosan. Begitu rentan membeberkan sebuah rahasia dan aib yang tabu untuk diungkapkan. Dengan kata lain, banyak bicara nyaris bisa sama dengan kurang amanah.

Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya. Siapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya.” (HR Athabrani)

Kelengahan terjadi ketika orang haus pujian

Pujian dalam takaran tertentu memang punya pengaruh baik. Dalam manajemen, ada istilah punish and reward: hukuman dan penghargaan. Sebuah kesalahan akan cepat terkikis jika ada hukuman. Dan sebaliknya, sebuah prestasi akan terus meningkat jika ada penghargaan. Dan penghargaan inilah sebagai bentuk lain dari pujian.

Masalah akan muncul jika pujian bukan lagi sebagai sarana. Tapi, tujuan. Pujian jenis ini bisa dibilang sebagai penyakit. Apa pun bisa dikorbankan asal bisa dapat pujian. Biasanya, orang yang rawan terhinggap penyakit ini mereka yang tergolong orang ‘besar’, jenius, kaya, pejabat, dan sebagainya. Rasulullah saw. mengatakan, “Berhati-hatilah dengan pujian. Sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” (HR. Al-Bukhari)

Orang yang cinta pujian selalu ingin terlihat tampil lebih. Termasuk saat menyampaikan gagasan, usulan, dan sejenisnya. Karena terdorong ingin terlihat lebih, tidak heran jika sesuatu yang sebenarnya tergolong rahasia bisa keluar begitu saja. Tanpa beban.

Di satu sisi, orang memang akan menilainya lebih. Dan pujian pun mengalir. Tapi, ada kelemahan yang mudah terbaca: “Berikan saja pujian, dia akan memberikan apa pun yang Anda minta.”

Salah satu yang membuat takluk Abu Sufyan saat pengepungan Mekah adalah isi pengumuman Rasul. “Siapa yang masuk Masjidil Haram, ia aman. Dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia juga aman.” Dan itu salah satu bentuk pujian.

Sedemikian dahsyatnya pengaruh pujian, Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung.” (HR. Muslim)

Kelengahan terjadi ketika orang dangkal pemahaman

Semakin paham seseorang, kian sangat berhati-hati dalam melangkah. Sebaliknya, kian dangkal pemahaman seseorang, semakin sembrono mengambil pilihan. Inilah standar penilaian yang bisa diambil.

Karena itu, jangan pernah titipkan rahasia ke orang yang dangkal pemahaman. Karena rahasia akan sangat gampang bocor dan menyebar. Bahkan mungkin, karena dangkalnya pemahaman, si pembocor sendiri tidak menyadari kalau ia sedang melakukan pembocoran.

Sebuah ucapan Rasulullah saw. tentang orang bodoh yang mengumbar aib sendiri mungkin patut disimak. Beliau saw. mengatakan, “Semua umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan. Yaitu yang melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya dia membeberkan sendiri dengan berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini…begini.’ Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah Azza wajalla.” (HR. Mutafaq ‘alaih)

Kelengahan terjadi ketika lingkungan kurang menghargai nilai kebaikan

Ini mungkin agak lain. Karena terungkapnya sebuah aib atau rahasia bukan sekadar dari dalam diri. Tapi, dari lingkungan. Orang yang amanah dalam rahasia kadang bisa larut dengan lingkungan yang menganggap sudah tidak punya rahasia. Mereka begitu mudah membuka rahasia orang lain.

Bahkan dalam dunia politik, membongkar rahasia orang lain bisa dianggap prestasi. Karena di situlah lawan bisa terjungkal. Padahal, orang lain pun sedang menunggu kesempatan. Suatu saat, rahasia bisa dibuka secara bersama-sama. Kalau saya jatuh, dia pun harus terjungkal.

Rasulullah saw. menasihati kita untuk tidak seperti itu. Beliau saw. bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Jika seorang membongkar keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu membongkar keburukan yang kamu ketahui ada pada dirinya.” (HR. Ahmad dan Attirmidzi)


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/hati-hati-dengan-pujian/



Share

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar