Sabtu, 12 November 2011

Hampir-hampir Minyaknya Bercahaya

Oleh Dr. Mohamad Daudah
Oleh: Dr. Abdul Halim al-Kahil

Allah berfirman, ‘Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (an-Nur: 35)


Di dalam ayat ini Allah bericara tentang cahaya-Nya, dan mengumpakan cahaya itu dengan cahaya yang memancar dari sebuah lentera yang berbahan bakar minyak, dimana minyak ini hampir-hampir menebarkan sinar tanpa tersentuh api. Bagaimana mungkin itu terjadi?

Ada penemuan ilmiah penting yang terjadi sejak sepuluh tahun, ketika para ilmuwan mencermati keberadaan gelombang listrik yang dikeluarkan tubuh manusia. Kemudian mereka melanjutkan penelitian dan menemukan bahwa segala sesuatu di sekitar kita juga mengeluarkan gelombang listrik. Jadi, segala sesuatu di alam semesta ini bergetar secara mencengangkan, seolah-olah mereka bertasbih kepada Penciptanya tetapi kita tidak memahami tasbih tersebut!

Yang dimaksud dengan gelombang di sini adalah gelombang terbatas yang terjadi dalam setiap benda, karena kita semua tahu bahwa segala sesuatu di sekitar kita terbuat dari atom-atom, dan atom-atom tersebut selalu dalam keadaan bergetar. Karena itu, gelombang atom-atom tersebut menyebabkan munculnya medan elektro-magnetik, dan itulah yang diungkapkan para ilmuan akhir-akhir ini.

Dr. Royal R. Rife menemukan bahwa makanan itu memiliki gelombang elegtro-magnetik yang bisa diukur. Ia juga menemukan bahwa minyak memiliki lebih banyak gelombang; gelombang yang dimunculkan manusia di atas 60 osilasi; dan bahwa ada beberapa makanan seperti makanan kaleng tidak memiliki gelombang. Sedangkan daun kering memiliki gelombang sekitar 20 osilasi per detik.

Tetapi, yang mengejutkan baginya adalah ia menemukan gelombang yang paling tinggi ada pada minyak yang mencapai 320 osilasi per detik. Gelombang ini hampir menyamai gelombang pada cahaya yang kita lihat. Tetapi kita tidak bisa melihat gelombang pada minyak tersebut karena Allah menabirnya dari kita. Jadi, kita bisa merasakan medan tertentu dari gelombang cahaya dan suara, tetapi kita tidak bisa melihat gelombang yang tinggi dan yang rendah, dan kita hanya bisa mengukurnya dengan alat pengukur.

Karena itu, al-Qur’an mengungkapkan fakta ini dengan kalimat, ‘Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.’ Allah memberikan keistimewaan ini hanya pada minyak, bukan pada benda lain. Yaitu keistimewaan cahaya yang tidak bisa kita lihat! Dan para ilmuwan menemukan bahwa kuantitas energi pada minyak zaitun secara khusus itu sangat tinggi, hingga energi tersebut membuatnya dapat dijadikan obat untuk lebih dari seratus penyakit, di antaranya adalah penyakit kanker.

Minyak Zaitun mengandung engeri yang sangat besar. Ketika seseorang mengonsumsi minyak zaitan atau mengoleskannya pada tubuhnya, maka energi ini memengaruhi sel-sel tubuh dan meninggalkan energinya, dan pada kelanjutannya meningkatkan perlawanannya terhadap sel-sel penyakit. Karena itu, Nabi saw memeritnahkan kita untuk memakan minyak dan mengoleskannya pada tubuh. yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Di sini dapat saya katakan bahwa ayat ini merupakan referensi ilmiah dalam pembicaraan tentang minyak, dan bahwa minyak ini hampir-hampir menerangi, karena memang pada fatkanya minyak itu memancarkan cahaya yang tidak terlihat. Cahaya tak terlihat yang dipancarkan minyak dan cahaya yang dipancarkannya sesudah terbakar itu menghasilkan cahaya yang berlipat. Karena itu Allah berfirman, ‘Cahaya di atas cahaya.’

Sementara orang bertanya, bagaimana mungkin cahaya minyak dalam ayat ini ditafsiri dengan gelombang elegtro-magnetik yang terkandung di dalamnya, sedangkan gelombang tersebut tidak terlihat dan cahaya itu terlihat. Saya katakan, kita tidak bisa melihat setiap cahaya, tetapi hanya melihat sebagian kecilnya saja. Buktinya adalah cahaya Allah itu memenuhi langit dan bumi, dan kita tidak melihatnya, tetapi kita bisa merasakannya dan menyerap darinya petunjuk, keimanan, dan kedekatan dengan Allah.

Kami memohon kepada Allah semoga memberi kita petunjuk kepada cahayanya, dan memberi kita cahaya untuk berjalan dalam berbagai kegelapan, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.


Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/quran-sunnah/hampir-hampir-minyaknya-bercahaya.htm



Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar